Walaupun di akhir zaman ini banyak remaja yang berpacaran, aku tetap berpegang pada prinsipku sendiri. Aku membuat suatu prinsip, yaitu: “Walaupun caraku menutup aurat belum sempurna, akan kupastikan tidak akan pacaran sebelum cita-citaku tercapai.”

Apa gunanya berpacaran kalau belum memiliki ilmu? Aku lebih mementingkan mencari ilmu daripada pacaran yang tidak berguna, bahkan bisa membuat kedua orang tuaku kecewa. Aku tidak peduli dengan perkataan orang yang menyuruhku pacaran.

Jomblo itu bebas! Mau keluar kapan saja, dengan siapa saja, tidak ada yang mengatur-atur kita. Mau pulang jam berapa pun, kita bebas. Kalau malam mau tidur, langsung tidur tanpa drama sleep call. Mau jajan apa saja pun bebas.

Buat apa pacaran kalau masih ada ayah yang bisa antar jemput anaknya, mengajaknya jalan-jalan, dan menuruti apa pun yang diinginkan anaknya? Aku selalu ingat, tidak ada yang bisa melebihi kasih sayang ayah kepada anak perempuannya. Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan, dan aku sangat menyayangi ayahku.

Kalau aku pacaran, aku justru akan menyakiti hati ayahku. Untuk apa pacaran kalau aku sudah punya ayah yang memberikan kasih sayang dan cinta yang begitu luas? Walaupun kakakku berpacaran, aku tidak akan ikut-ikutan. Aku sudah berjanji kepada kedua orang tuaku, “Selagi aku belum menjadi dokter, aku tidak akan pacaran.”

Kedua orang tuaku telah merawatku dengan penuh cinta dan tak pernah menyakitiku. Lantas, apa gunanya aku pacaran kalau kasih sayang dari orang tuaku sudah begitu besar? Mengapa aku harus mencari kebahagiaan dari orang lain yang belum tentu menjadi jodohku?

(Visited 37 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *