Oleh: Andi Annisa Nayla Rafeyfa
Aku menikmati suara hujan di dekat jendela kamar yang langsung berhadapan dengan taman bunga di rumahku yang begitu menenangkan. Sambil aku buka kembali album yang berisi kenangan di antara kita. Aku tersenyum memandangi semua kenangan-kenangan yang kita ukir menjadi satu di dalam album itu. Tanpa sadar, air mengalir deras di pipiku yang ternyata adalah air mataku sendiri. Aku tak kuasa menahan tangis saat kubaca tulisan-tulisan indah yang kita buat bersama di dalam album itu. Begitu banyak kenangan, memori, dan makna di album ini. Air mataku membasahi lembar demi lembar di dalam album itu, kenangan di dalam album memudar dikarenakan air mataku. Akan tetapi, mengapa perasaanku tak pudar sedikit pun kepadamu?
“Semua kuberi kepadamu. Semua rasaku hanya untukmu. Bahkan, aku mati rasa semenjak kepergianmu pada waktu itu”, gumamku dengan nada suara yang tak beraturan. Dahulu aku tak percaya dengan pepatah yang mengatakan ” Sekali kamu, selamanya kamu. Sekali rasaku untukmu, selamanya akan untukmu”. Namun, sekarang aku baru mengerti dan merasakan pepatah itu. Semuanya terjadi begitu cepat. Kita yang dulu pernah bersama, kamu yang dulu selalu membuatku tersenyum, kini tinggal kenangan yang tersimpan di dalam satu album itu. Lagi dan lagi aku memandangi kenangan kita pada saat dahulu sebelum kau pergi meninggalkanku untuk selamanya, lalu berkata “pergi ke mana janji-janjimu? Dahulu kau berjanji untuk selalu bersamaku, selalu membuatku tersenyum, dan kau berjanji tak akan meninggalkanku dalam keadaan susah maupun senang. Pergi ke mana semua janjimu itu? Kau meninggalkanku karena kejadian pada malam itu. Andai saja waktu itu aku tak memaksamu untuk datang ke rumahku, kau tak akan mungkin mengalami kecelakaan tunggal itu dan pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini.
Kepergianmu menyisakan duka yang begitu dalam untukku, perasaan, dan jiwaku. Aku sangat merindukanmu. Andai waktu bisa diulang kembali, aku akan berusaha menahanmu untuk tidak pergi meninggalkanku dengan setumpuk luka ini. Salam hangat dariku. Aku akan selalu mendoakanmu di setiap sujud terakhirku. Setelah ini, aku tak yakin jikalau bisa membuka hati untuk orang lain lagi.
Watansoppeng, 15 November 2024
