Oleh: Syafira Amanda*
Hari itu terasa istimewa sejak pagi. Teman kami yang akan pindah sekolah mengundang kami ke rumahnya untuk mengadakan acara BBQ. Pekarangannya luas, dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan pepohonan yang asri, menciptakan suasana yang begitu menenangkan. Kami saling bercanda sambil menyiapkan dan memanggang ayam. Saat azan Maghrib berkumandang, kami berhenti sejenak untuk melaksanakan salat, sementara yang berhalangan tetap berada di pekarangan, melanjutkan pekerjaan seperti memanggang ayam.
Setelah salat, kami menikmati hidangan bersama sambil berbagi cerita dan tawa. Usai makan, kami membersihkan dan merapikan rumah teman kami. Kemudian, kami kembali berkumpul di ruang tamu, di mana teman kami memperkenalkan adik perempuannya, seorang gadis yang ramah dan ceria. Dengan penuh semangat, saya mengajaknya berfoto berdua malam itu.
Tak lama setelah itu, saya mengajak teman yang akan pindah untuk berfoto bersama di pekarangan rumah. Suasana terasa begitu tenang, dengan cahaya lembut menyinari bunga-bunga yang bermekaran. Teman-teman lain membantu mengatur pencahayaan dengan ponsel mereka, membuat kami merasa seolah-olah dunia hanya milik kami saat itu.
Kami berdiri berdampingan, tersenyum ke arah kamera, meski di dalam hati ada perasaan campur aduk. Kami tahu perpisahan ini tak bisa dihindari, tetapi senyuman kami menjadi simbol kebersamaan yang akan tetap dikenang, meski waktu terus berlalu. Momen itu terasa begitu berharga, menjadi pengingat bahwa meskipun jarak memisahkan, kenangan akan tetap hidup dalam setiap senyuman.
Saya menatap foto itu sejenak, merasakan campuran kebahagiaan dan haru. Saya tahu, itu lebih dari sekadar gambar. Itu adalah simbol persahabatan yang kuat, sebuah kenangan yang akan terus menghangatkan hati kami. Foto tersebut menjadi harta yang tak ternilai, sebuah memori yang akan selalu tersimpan di dalam hati, tak tergantikan oleh waktu.
Hari itu sederhana, tetapi penuh makna dan kebersamaan. Ia menjadi salah satu kenangan terindah yang akan saya jaga, karena terkadang, momen-momen kecil justru yang paling berarti.
Watansoppeng,30 Januari 2025
Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.3
