Oleh: Kerisna Wati*

Suara ketukan meja terdengar saat seorang gadis cantik mengetuk meja tersebut.

Gadis itu bernama Kerisna Wati, seorang gadis cantik dan pintar. Dia memiliki hobi menulis dan sering mengikuti lomba menulis.

“WATIIIIII!” Teriakan itu membuat pemilik nama tersebut menoleh. Mata cokelatnya memicing melihat temannya berlari ke arahnya.

“Apaan?” ucap Wati ketus. Bad mood, biasalah cewek. Resa bahkan sudah hafal dengan sifat temannya ini.

“Gue nemu ajang lomba nulis,” jawab Resa antusias. Wati terdiam. Jujur, rasanya ingin sekali mengikuti lomba tersebut, tapi ada satu hal yang tidak mendukung.

Wati bisa dibilang anak yang malang. Kenapa begitu? Dia lahir dalam keluarga yang kurang mampu, dan keluarganya sering bertengkar karena masalah sepele. Mungkin dari situlah dia jadi suka menulis. Menurutnya, dengan menulis, semua curhatannya bisa ia abadikan dalam cerpen, novel, atau bahkan puisi.

“Gue nggak bisa ikut. Mungkin kapan-kapan ikut,” Wati menghela napas, kembali mengetuk meja. Harapan yang sama masih ia genggam. Ia berharap pelangi yang ia rindukan bisa kembali menemuinya.

“Kok lo nggak ikut? Biasanya kalau masalah lomba kayak gini lo paling antusias. Sekarang kenapa malah jadi ketus gini?” Resa merasa bahwa Wati benar-benar berbeda dari biasanya.

“Nggak ada.” Jawaban singkat itu cukup untuk membuat Resa mengerti bahwa temannya sedang merindukan seseorang.

Satu tahun berlalu, Wati pun menginjak kelas 12. Iya, kelas akhir, kelas “kematian”!

Banyak anak MPLS yang memperkenalkan diri dengan antusias, mungkin bangga bisa masuk sekolah itu? Wati menonton anak-anak MPLS melalui ponsel. Biasa, dia bukan murid baru, jadi diliburkan.

Hingga suatu hari, Wati mendapat pesan dari grup WhatsApp miliknya.

“Permisi, nanti jam tiga sore datang buat marching, ya. @You harus dateng, ajarin anak baru.”

Pesan itu sedikit membuat Wati bergeming. Dia hanya memberi reaksi jempol pada pesan tersebut.

“Lah, kangkung, tiba-tiba marching aja. Baru juga ajaran baru,” ucap Wati kesal. Lalu dengan malas mengetik, “Iya, entar tak ajarin. Kurang baik apa coba saya?” Bangga banget tuh ketikan.

“Kurang segalanya,” balasan dari salah satu anggota marching itu sedikit membuat Wati terusik.

“Kangkung, gampang banget tuh ketikan.” Wati tak menghiraukan pesan itu lagi, langsung menutup ponselnya, dan bersiap untuk marching.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Wati sampai di sana. Dia bisa melihat banyak wajah baru yang belum ia kenali, bahkan banyak adik kelas yang menurutnya tak terlalu menarik untuk diperhatikan. Hingga dia salah fokus saat melihat dua anak yang mirip Upin dan Ipin. Kenapa demikian? Karena mereka selalu berdua saat menunggu pelatih datang.

“Melihat dari auranya, nih anak pintar. Mungkin bakalan mudah untuk ngajarin mereka,” batin Wati sembari melihat dua anak yang amat cantik. Mereka memakai celana hitam senada dengan baju berwarna abu-abu. Entah kenapa baju mereka sama.

“Weh, monyet, gue mau banget main alat tong-tong itu,” salah satu dari dua anak itu menunjuk alat marching band berbahan besi yang sangat berat.

“Tong-tong apaan, setan?” temannya bertanya sarkastik. Lagi PMS nih anak.

“Bodoh kali nggak tahu, itu loh yang bunyinya na, na, na, na.” Anak itu tak sadar bahwa mereka mengganggu yang lain.

“BELLYRA, GOBLOK,” jawab Syifa frustrasi. Rasanya ingin dia jual temannya ke om-om.

“Bellyra, goblok, bukan tong-tong,” jawab Salsa begitu percaya diri. Padahal dia yang salah.

Yah, mereka itu Salsa dan Syifa. Dua anak ini bisa dibilang anomali. Kenapa begitu? Karena mereka pintar, tapi tingkah mereka agak lain.

Waktu berlalu sampai menjelang istirahat. Salsa bertanya pada sahabat monyetnya, Syifa, “Eh, ini ketukannya gimana?”

“Lo pikir gue udah tiga tahun main nih bel? KAGAK, SETAN, BARU JUGA MASUK UDAH NANYA-NANYA.” Syifa sepertinya kerasukan.

“Lah, lo kan pintar. Gimana sih kok goblok,” protes Salsa karena temannya nggak bisa diandalkan. Padahal Wati dari tadi memperhatikan mereka.

“Lo yang goblok,” Syifa membalas tak kalah sarkastik. Mereka terus adu mulut meskipun pelatih sudah menyuruh mereka memegang alat masing-masing.

Wati hanya bisa terdiam melihat dua anak yang rada gila ini. Dia kira mereka bisa diandalkan, tapi harapannya pupus sebelum grup marching tampil.

Wati menatap dua anak itu. Rasanya ia seperti mengenal suasana ini. Suasana bersama seseorang.

“Kok rasanya dejavu, ya?” Wati teringat masa lalu saat dia belajar marching. Waktu itu, dia juga sering bertengkar dengan temannya.

Hal itu mengingatkannya pada seorang kakak kelas yang dia sukai sejak awal masuk SMP.

“Hufft, Kak, lo ada di mana?” Wati mengangkat kepalanya, berharap pelangi yang ia rindukan muncul di hadapannya.

“Kok kau ada di sini?” Pelatih marching bernama Rama Saputra membuat Wati bergeming. Dia berbicara dengan siapa di depan gerbang itu?

Hingga laki-laki bersama Rama Saputra itu datang bersama seseorang. Wati terdiam di tempat. Ternyata itu Ardiansyah, atau biasa dipanggil Dian. Wati tersenyum ke arahnya. Namun, ia kembali tertegun waktu seorang perempuan menghampiri Dian.

“Sayang, kamu kenapa ninggalin aku?” Perempuan itu terlihat serasi dengan Dian. Kulit putih dan rambut hitam semampai menambah kesan indah dirinya.

“Hehe, maaf, Sayang. Semuanya, kenalin ini Tia,” Dian menggenggam tangan gadis bernama Tia itu.

Semua yang berada di sana tersenyum ceria. Wati hanya bisa memandang Dian dengan senyuman yang ia paksakan.

Dian menghampiri Wati, meninggalkan Tia yang sedang bicara dengan Salsa dan Syifa.

“Halo, Risna. Ikut ekskul marching lagi, nih?” Dian tersenyum ramah, masih menggunakan panggilan yang dia kasih buat Wati.

Wati tertawa hambar. Risna adalah nama yang Dian berikan karena katanya Wati adalah adik kelas favoritnya.

“Iya, Kak. Kak Ansyah sih lulus duluan,” Wati mencoba tertawa dengan tetap memanggil Dian dengan panggilan yang ia berikan.

Dian tertawa, mengelus rambut sepinggang milik Wati. Rambut lembut dan indah itu selalu membuat Dian merasa bahwa Wati memang benar orang yang ia kenal.

Wati menatap hambar ke arah semua orang. Dia tahu bagaimana rasanya melihat seseorang yang ia cintai ada di hadapannya.

“Pada akhirnya, pelangi akan pergi juga, kan? Bahkan seharusnya aku tak terlalu berharap jika pelangi akan terus bertahan di dekatku. Namun, pelangi akan tetap ada dalam hati dan benakku meskipun dia harus mengembara menempuh asa.”

Setelah diam beberapa saat, Wati menghampiri Salsa dan Syifa. Senyuman lega ia berikan untuk dua adik kelas yang baru ia kenal. Dia akan berusaha melupakan Dian dan semua kenangan mereka.

Meskipun dia tahu, semuanya tak akan semudah yang ia pikirkan. Namun, Wati berharap suatu saat itu datang, saat di mana ia dapat melupakan Dian sepenuhnya.

“Aku mencintai pelangi, tapi aku harus kehilangan pelangi itu.”

* Penulis adalah Siswi SMP Muhammadiyah Ulak Paceh, Musi Banyuasin,Palembang,Sumatera Selatan,Kelas IX.A

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *