Oleh: Reski Permatasari*
Anak bungsu sering kali disebut sebagai anak terakhir dan juga harapan terakhir dalam keluarga. Kata orang, anak bungsu itu manja, tetapi siapa sangka, ia justru sering memikul banyak beban yang tak terlihat. Sahabat sejatinya adalah kesepian. Saat kakak-kakaknya telah tinggal bersama keluarga mereka masing-masing, rumah menjadi sunyi, dan kehangatan yang dulu ada terasa sirna.
Anak bungsu belajar berjuang sendiri, dewasa sendiri, dan pulang ke rumah yang kian sepi. Ia menjadi tempat curahan hati orang tuanya, mendengar segala cerita tentang kakak-kakaknya baik suka maupun duka hingga semuanya terkumpul di dadanya. Namun, ada hal yang tak bisa ia bagikan. Masalah-masalahnya, kegundahannya, dan kesedihannya hanya ia simpan sendiri. Tak ingin menambah beban orang tua yang semakin menua, ia memilih memendam semuanya di hati, menahan semua itu dengan diam.
Titik terlemah sekaligus terberat bagi seorang anak perempuan terakhir adalah memperjuangkan mimpinya sendiri, sembari menjaga orang tua yang telah memasuki usia senja. Ia harus menjadi kuat untuk dua peran seorang anak yang berbakti sekaligus seorang pribadi yang mencoba meraih masa depan.
Anak bungsu itu adalah aku. Dalam sepi dan perjuanganku, aku belajar bahwa cinta tak selalu berupa kata-kata atau pelukan hangat. Kadang, cinta adalah keheningan, pengorbanan tanpa pamrih, dan doa-doa yang tak pernah terputus untuk kebahagiaan keluarga. Dan meski langkah ini terasa berat, aku percaya, ada pelangi yang menanti di ujung perjalanan ini.
Watansoppeng, 25 Desember 2024
*Penulis adalah siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.5
