Oleh: Adhini Khumairah Latifa

Di hari yang sunyi, tak terlintas sedikit pun di benakku untuk bersama denganmu. Namun, kau datang bak hujan yang turun tanpa aba-aba, tiba-tiba hadir dalam hidupku. Aku mempersilakanmu mengenalku lebih dalam, sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan kini, aku merenung, apa yang sebenarnya kulakukan waktu itu? Tetapi, sungguh, aku tak pernah menyesalinya.

Hari-hari penuh senyuman, canda, dan tawa darimu kini tinggal kenangan. Ke mana dirimu yang dulu? Ucapan selamat pagi dan selamat malam itu perlahan menghilang. Pertemuan di sore hari kini terasa hanya lelucon belaka, janji-janji yang kita buat seketika lenyap tanpa jejak. Era di mana hati ini dipenuhi oleh getar-getar cinta yang indah, seperti kupu-kupu yang berterbangan, telah tiada.

Semua berlalu begitu cepat. Ternyata, jatuh cinta memang seseram itu bagiku. Namun, di balik semua itu, aku belajar sesuatu yang berarti: makna hidup. Aku sadar, manusia tak akan selalu berpihak pada kita. Ada kalanya semesta memintaku untuk sendiri, untuk introspeksi, untuk merenungi apa yang salah dalam hidup ini.

Nyatanya, bukan hidup yang salah. Ini hanyalah jalan yang harus kutempuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tak bersama denganmu, aku tak apa. Seperti kata Dilan, “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Dan itu benar adanya. Namun, langkah terakhir yang harus kuambil adalah merelakan. Aku memilih untuk membiarkanmu pergi, mengikhlaskan semuanya, dan percaya bahwa suatu saat nanti, semesta akan menggantikanmu dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Watansoppeng, 4 Desember 2024

(Visited 50 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *