Oleh: Zahra Mutia Syafirah*

Ku peruntukkan untaian aksara ini untuk seorang perempuan yang telah menapakkan kaki satu kali lebih jauh dari sebelumnya.

Tanggal dua, bulan tujuh, tahun dua ribu sebelas, tak jauh setelah adzan subuh berkumandang, menjelang sang fajar menampakkan dirinya, di saat beberapa orang masih terlelap dalam tidurnya, namun beberapa orang masih sibuk terduduk di atas sajadah untuk beribadah pada yang esa, di saat sang Bumi masih memancarkan ketenangannya, seorang anak perempuan menangis dengan begitu kerasnya, membuat hati semua orang yang menyaksikan mampu teriris-iris sempurna. Maksud aku mungkin bahagia yang ia torehkan.

Fajar tiba, diiringi oleh tawa orang-orang yang berbahagia akan hadirnya. Hari itu, mereka merekah.

Selang beberapa tahun, di saat ulang tahunnya yang entah keberapa, di saat daksanya masih terbilang cukup kecil, namun jiwanya tersusun rapi mungkin telah melampaui yang seharusnya. Atas segala perih yang telah tersusunkan untuknya, gadis kecil dengan rambut berkepang dua itu menoleh ke arah luar jendela. Dengan tatapan yang berbinar-binar, ia menyeringai seperti seharusnya. Ia berbahagia.

Gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua, dengan gaunnya yang ia rasa sempurna, dengan sepatu terbaik yang pernah ia miliki, dengan orang-orang berharga yang menemani nya tumbuh. Segala hal-hal baik maupun buruk yang masih terpikirkan, dari dulu hingga tiga belas tahun mendatang, dengan mudahnya membuat langkahnya terusik. Terkadang rasanya ia terombang-ambing, namun syukur sebab sang pencipta masih ingin memberi umur.

Perihal mimpi buruk yang terus-menerus mengirim pilu, perihal segala angan yang harus tertunda, perihal buliran bening yang tanpa sadar menetesi pipi, perihal bengisnya dunia yang menghujam rapuh raganya, dan perihal rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Tidak ada seorang pun yang mengerti, kecuali dirinya sendiri.

Namun, dari banyaknya alasan untuk menyongsong kerapuhan, bukankah masih ada hal yang bisa menyusun beberapa bagian yang retak? Walaupun beberapa bagian tidak tersusun sempurna dan tidak terlihat elok, tapi setidaknya sang penyusun telah mengusahakan utuhnya, kan?

Tiga belas tahun kemudian setelah fajar yang menemani lahirnya, kini berganti dengan gulita malam dengan cahaya remang-remang yang menemaninya. Pada pukul dua belas dini hari, ia meringkuk sembari tersenyum, sebagaimana senyum yang ia torehkan sejak kecilnya. Memikirkan telah sejauh apa perjalanannya, dengan bagaimana ia akan melanjutkan perjalanannya, dan bagaimana agar tawa yang ia sunggingkan akan tetap bertahan sepanjang jalannya.

Di ulang tahun yang ke tiga belas ini, ia berlega hati kepada Tuhan yang telah menentukan hidup dan segala takdirnya, kepada orang-orang yang telah menemani mekarnya dan turut memberikan cahaya pada hidupnya. Dan dengan ini ku ucapkan. Selamat ulang tahun, aku.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.1

(Visited 395 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *