Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila
Aku dipaksa untuk terus bersama denganya di mana pun dan kapan pun. Dia yang selalu tidak ingin melewatkan panggilan video di setiap harinya, dan selalu tidak mau menerima alasan apa pun jika aku melewatkan seluruh pesan-pesannya. Memang terdengar menyenangkan memiliki pasangan yang selalu ada untukmu. Namun, aku rasa Bagas sudah terlalu berlebihan.
*Telpon berdering.
“Assalamualaikum cantik Accu.”
“Waalaikumsalam.”
“Kenapa lama sekali mengangkat telponnya? Sudah bosan ya?”
“Aku lagi ngerjain tugas Bagas, kan tadi sudah dibilang.”
“Alaahhh alasan terus.”
“Terserahlah” aku mematikan telpon.
Hal itu selalu saja terjadi di setiap harinya. Aku lelah jika harus begini, tapi aku harus memaklumi karena dia juga selalu dapat memenuhi keinginanku. Sampai suatu ketika dia berubah. Sore itu ia berbohong padaku. Katanya ia akan pergi bersama teman-teman lelakinya malam itu, hanya untuk menghabiskan waktu sambil menunggu fajar mentari datang. Namun, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Ia pergi menghabiskan waktu bersama wanita lain.
“Kamu di mana?”
“Kopi Senja Na, kenapa? Mau titip?”
“Serius di Kopi Senja?”
“Iya Na, ada apa?”
*mengirim sebuah foto.
“Ini siapa Gas? Kamu bukan sih?”
“Dapet foto ini darimana?”
“Jawab Bagas!”
“Engga. Itu bukan aku, salah orang kali.”
*mengirim sebuah video.
“Masih bisa ngelak kamu?”
Ia berkali-kali menelponku. Namun, dengan hati yang tengah terluka dan rasa kecewa terhadap dirinya yang membuat aku begitu enggan untuk mengangkat panggilan darinya.
“Na, aku bisa jelasin, aku kerumah ya. Tunggu aku di depan”.
“Ga usah, lanjut aja, kita bicarakan lain waktu.”
“Please Na, let’s talk now, aku bakal jelasin semuanya Na.”
/Block
Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Mengadu pada Tuhan mengapa jadi seperti ini. Hal buruk apa yang ku perbuat di masa lalu hingga semua orang begitu jahat padaku. Dia selalu berusaha menghubungiku dengan berbagai macam cara. Semua sosial mediaku dipenuhi oleh pesan-pesan darinya. Di sekolah pun aku selalu menghindarinya. Dia selalu mencari aku ke kelas. Namun, aku selalu menolaknya. Banyak sekali nomor baru yang masuk ke pesan baru di WhatsAppku. Ya, semua dari hal itu adalah ulahnya. Aku tetap berdiam diri selama yang ku mau. Sampai suatu hari saat di parkiran sekolah ia menduduki motorku, menungguku keluar dari kelas dengan amat gelisah.
“Na, please kasih aku satu kesempatan buat perbaiki semuanya.”
“Udah Gas, udah, cukup!”
“Na, please. Aku ga bisa kalau ga sama kamu. Ngertiin aku sekali ini ya Na?”
“Apa? Ngertiin aku sekali ini? Terus kamu pikir selama ini apa? Aku yang selalu berusaha tidak emosi di saat kamu berbuat salah? Aku yang terus-terusan harus ada buat kamu, wherever and whenever must always be with you, itu kamu anggap apa? Numpang lewat?”
“Na, ga gitu maksud aku.”
“Udahlah Gas. Aku muak.”
Aku melangkah menjauhi Bagas. Tapi dengan sigap ia mengejar dan menghalangi jalanku untuk pergi darinya.
“Oh, gitu ya kamu. Udah kenal yang baru hah?! Kau selingkuh kan, makanya kau bisa seenaknya ke aku. Iya?!!!” Menggenggam tanganku dengan sangat kuat.
“Bagas lepasin, sakit.” Aku merengek kesakitan.
“Kau pikir siapa yang mau sama cewe ga tau diri seperti kau hah?! Kau pikir ada yang mau sama cewe yang ga ada harga dirinya?! Ga ada yang mau sama kau selain aku. Jadi ga usah sok paling tersakiti.” genggamannya semakin kuat
“Bagas sakit.” Aku sedikit meneteskan air mata.
