Oleh: Nayla Syabina Syalsyabila
Tiap hari kucari di mana letak salahnya. Kamu yang jahat atau aku yang terlalu bodoh. Kamu yang tidak pernah tau atau aku yang tidak pernah bilang? Kamu yang tidak peka atau aku yang jatuh cinta sendirian. Tiap hari terasa begitu sepi karena tidak adanya dirimu di sini. Semuanya terasa sulit untuk dilakukan karena dirimu yang selalu menari-nari di pikiranku.
Tiap hari, hampir setiap hari aku pergi menemui senja atau juga mengejar hujan demi mendapatkan ketenangan. Namun, baik senja atau pun rintikan itu, tak satu pun terlihat indah. Ntah karena Tuhan yang sedang lelah atau hatiku yang terlalu patah.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa pergi dari keadaan kacau ini. Meski harus dengan cara menyibukkan diri, dengan masuk ke berbagai organisasi baik di lingkup sekolah maupun masyarakat sampai pulang larut malam sekali pun, aku lakukan setiap hari agar cepat dapat melupakanmu.
BAGIAN 4
TERLUKA LAGI
Setelah kuanggap cukup untuk cerita kita, aku memulai banyak cerita baru yang memang tak berujung bahagia. Semuanya benar-benar kandas di saat aku sedang membutuhkan mereka. Salah satu di antara mereka yang masih sangat membekas adalah saat aku bersama dia. Bagas, Bagas Dinayara. Bagas adalah sosok pria yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Bagas merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Apa pikiranmu tentang anak bungsu? Dimanja? Sangat disayang? Tapi Bagas berbeda. Ia selalu mencari ketenangan di luar rumah karena saat di dalamnya ia merasa sesak.
Kedua orang tuanya selalu saja bertengkar di hadapannya hanya karena hal-hal sepele. Kakak perempuan pertamanya yang sudah tidak lagi kembali ke rumah karena dilarang oleh suaminya. Kakak laki-lakinya yang selalu saja pulang larut malam dan selalu terdengar kebisingan adu argumen dengan ibunya di tengah malam ketika ia sudah kembali. Kakak perempuan keduanya yang hanya selalu mementingkan diri sendiri. Broken home? Bisa dibilang begitu. Tapi hebatnya, ia tak pernah sekali pun bersikap tidak peduli dengan keluarganya walaupun sudah hancur.
Ia adalah seorang pria yang berperawakan tinggi. Lengkungan sepasang bola yang terpampang nyata di wajahnya diiringi dengan lentiknya bulu mata yang menambah kesempurnaan pada dirinya. Alis mata yang tergambar begitu rapi bak sebuah pelangi di penghujung hari. Ruas tangannya yang jauh lebih besar dari milikku seakan bisa menjagaku seumur hidup. Suara yang sedikit serak yang membuatku candu untuk memutarnya terus menerus. Genggaman hangat miliknya adalah tujuan utamaku ketika ingin pergi menemuinya. Ia pandai dalam segala hal. Satu hal yang selalu dapat membuatku jatuh cinta padanya adalah fakta bahwa ia selalu ada di setiap kegiatanku. Ia selalu ikut serta dalam seluruh hobiku. Ia selalu ada di saat aku benar-benar membutuhkannya.
Mengenal Bagas adalah salah satu cerita yang tidak pernah ingin aku akhiri tapi nyatanya harus. Bagas adalah sosok yang paling mengerti apa yang aku inginkan. Saat bersama Bagas adalah saat-saat yang sangat indah. Hal-hal yang selalu aku cemburui dari hubungan orang-orang di sekitar selalu Bagas berikan padaku. Bagaslah yang selalu tak pernah rela aku tersayat sedikit saja. Namun, keegoisan dan sifat haus kasih sayangnya yang membuat hubungan ini kandas.
