Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila
Hari itu pikiranku sangat kacau. Bukan karena aku memikirkan tentang Zeeya yang mendatangiku siang tadi, tapi tentang bagaimana bisa Juan berkata padanya bahwa akulah yang selalu mengganggunya. Bukankah kamu yang selalu mengejarku ke sudut mana saja aku berlari? Bukankah kamu yang memilihku untuk menjadi bahagiamu kemarin? Apa ini? Lelucon macam apa yang Zeeya lontarkan padamu hingga kamu begitu jahat padaku.
Aku bingung, kecewa, sedih, tapi juga merasa bahagia karena akhirnya kamu menemukan pasangan walau itu bukan aku. Pantas saja kamu tidak membangun hubungan denganku, ternyata memang bukan aku yang kau mau, atau mungkin memang aku tapi salah waktu? Saat itu aku merasa tak pantas untuk siapa pun, atau kata anak zaman sekarang “Insecure”. Ha ha….lucu yaa, aku yang awalnya selalu tampil percaya diri hanya karena kamu meninggalkanku demi perempuan itu seluruh jati diriku menghilang.
Beberapa minggu telah berlalu, Zeeya kembali pergi menemuiku di tengah lapangan kota ini. Ia kembali mendatangiku sore itu.
“Lo masih ganggu Juan ya?!”
“Apaan sih ga jelas”.
“Alaaahh bilang aja.”
“Ga ada, seluruh tentang Juan udah gue buang jauh-jauh.”
“Awas aja kalau lo berani deket-deketin Juan lagi”
Aku mengelak dan berjalan menjauhi Zeeya. Meninggalkan Zeeya sendirian di lapangan terbuka itu.
Aku bingung, kenapa Zeeya menghubungiku lagi? Jarak dari kota ke sini tidak seperti Jakarta ke Puncak, mengapa ia selalu menemuiku secara langsung? Apa yang terjadi sampai Zeeya menuduhku mendekati Juan kembali? Apa yang terjadi di hubungan mereka? Seluruh pertanyaan aneh dan tidak bermanfaat selalu menghantuiku selama berhari-hari.
Tak lama setelah pemikiran aneh itu, Vallery memberitahuku satu hal. Satu hal yang benar-benar tidak ingin kudengar, namun tetap harus kuterima. Kala itu di depan kelas aku dan Tissha tengah asik bercerita kemudian Vallery datang menghampiri kami dengan sedikit terengah-engah karena telah berlarian dari ujung lorong.
“Na, ka Juan sama Zeeya putus.”
“Hah?” Ucapku dan Tissha kaget.
“Iya Na, katanya Zeeya yang mau putus.”
“Ha hah…. Itu karma namanya, dia ngelepasin yang baik cuma buat yang selalu ada. Putus kan hahaha”.
“Eh Tissha lo ga boleh ngomong gitu. Lo tau dari mana Vall?”
“Tadi pas gue lewat depan kelas 9E ga sengaja gue denger percakapan Raka sama Dio, intinya Raka bilang kalo ka Juan sama Zeeya putus.”
“Ya udah sih Na, biarin aja.”
“Yang ngurusin hubungan mereka juga siapa sih Sha.”
Ntah harus merasa senang atau sedih. Tapi jujur aku sedikit senang di hari itu, munafik ya jika aku tidak senang. Tapi aku juga merasa sedikit sedih karena kamu dijauhi oleh orang yang kamu cintai. Aku sedih karena dirimu tidak mendapatkan apa yang kamu mau sedikit lebih lama. Aku merasa kasihan karena kamu telah ditinggalkan oleh seseorang yang kamu temui dengan meninggalkanku. Akankah kamu kembali padaku? Akankah aku kembali menjadi bahagianya lagi? Semoga saja iya.
BAGIAN 3
MASIH TENTANG KAMU
Di hari itu aku memutuskan untuk menutup diriku, tidak ingin memulai hal baru dengan siapa pun itu. Mulai hari itu aku membiasakan diriku untuk berhenti melakukan hal yang biasanya kita lakukan bersama. Sulit bagiku untuk membiasakan diri tanpamu. Sulit bagiku untuk menerima fakta bahwa kamu tak lagi menggenggamku.
Banyak yang mendatangiku, banyak yang mencoba untuk mendekatiku. Namun, ntah mengapa ketika aku merasa dekat dengan orang baru rasanya bak selingkuh di belakangmu. Lucu ya, padahal kita tidak ada hubungan kala itu. Setelah beberapa waktu telah berlalu, setelah merasa cukup tenang tanpamu, aku mencoba untuk menjalani hubungan dengan orang lain. Namun, tak satu pun yang bertahan lama. Ntah karena mereka yang sudah tak lagi penasaran, atau karena aku yang selalu saja mencari sosok dirimu pada mereka. Ntahlah, aku pun tak mengerti dengan keinginan hati ini.
Semua tentang kamu masih sangat tersimpan rapi di dalam benakku. Kebiasaan-kebiasaan anehmu, cara kamu menatapku, cara meredakan amarahku, dan masih banyak lagi hal-hal indah tentang dirimu. Layaknya ruang hampa di tengah hutan, diriku tenang berada di sana. Namun, merasa kesepian karena aku sendirian. Begitulah aku tanpa dirimu, aku takut sepi tapi yang lain sudah tidak berarti. Saat itu aku benar-benar kehilangan arah, aku terlihat sangat bahagia ketika bertemu dengan orang-orang. Namun, selalu terisak di kala jangkrik dan katak sedang bersenandung ria.
Bagaimana aku bisa lupa sedangkan hampir dari seluruh hidupku adalah tentangmu. Bagaimana aku tidak rindu, sedangkan seluruh dari sudut kota ini adalah dirimu. Bagiku hal tersulit bukanlah perihal melupakan tapi perihal mengikhlaskan. Bukan bagaimana caramu untuk melupakannya, tapi tentang bagaimana dirimu dapat menerima kenyataan bahwa dirinya bukan lagi milikmu. Terdengar sangat mudah tapi nyatanya sangat melelahkan.
