Oleh: Mutiara Wulandari*
Hari itu, dengan langkah kecil saya menuju aula sekolah bersama teman-teman lain untuk mengikuti acara, “Gemerlap Pena Anak Indonesia” yang diinisiasi Wali Nagari Kepalo Koto bekerjasama dengan pihak sekolah kami SMAN 1 Nan Sabaris. Katanya kami akan diajarkan bagaimana menjadi penulis, tapi saya belum paham diajarkan seperti apa, untuk apa, dan oleh siapa.
Saya duduk di salah satu kursi di dalam aula menunggu acara berlangsung. Dari jauh saya melihat seorang narasumber berpakaian sederhana duduk dan berbincang dengan tamu yang lain. Ada yang menarik dari beliau, yaitu matanya yang tajam dan gerakan tubuhnya yang memperlihatkan kharisma yang kuat.
Acara pun dimulai, sang narasumber mengambil mic dan memperkenalkan dirinya bernama Ruslan Ismail Mage. Kedengarannya yang asing membuat saya bertanya-tanya dalam hati, siapa narasumber ini? Baru saja saya bergumam dalam hati beliau menyambung pembicaraannya, “Kalau kalian ingin mengetahui siapa saya tidak perlu tanya pada orang lain, kalian hanya perlu menulis nama lengkap saya di google”. Dengan rasa penasaran saya mencoba mencari nama beliau di google, dan benar saja di situ terpampang namanya beserta judul-judul bukunya, dan beberapa aktivitas literasinya.
Baru dalam perkenalan pun beliau sudah membuat saya kagum, mungkin terdengar sepele tapi salah satu impian kecil saya adalah namaku dan karyaku dengan mudah dicari diinternet. Itulah salah satu mimpi besar saya. Di forum Pena Anak Indonesia inilah saya seperti menemukan peta jalan menuju mimpiku itu. Semoga.
Lebih menariknya lagi, ternyata sang narasumber tersebut adalah orang Bugis asli yang sangat mencintai alam budaya Minangkabau. Alasannya karena begitu banyak pemikir besar nusantara adalah orang Minangkabau. Itulah yang menginspirasi gagasan dan pikiran hebat beliau yang dituangkan ke dalam buku fenomenalnya, “Generasi Emas Minangkabau”. Buku yang mengulas secara detail toloh-tokoh bangsa yang menjadi arsitek kemerdekaan asal Minangkabau.
Sekitar dua jam beliau berdiri di hadapan kami menyampaikan gagasan dan pikirannya tentang kebanggaannya kepada tokoh bangsa asal Minangkabau. Beliau terus memotivasi kami dengan narasi-narasi inspiratifnya yang menggetarkan jiwa. Hebatnya, tak ada satu pun yang membuat saya tidak kagum pada beliau. Bakan ada satu hal yang cukup menjadi tamparan keras bagi saya. Beliau mengatakan, “kalau kalian ingin ditemukan kesuksesan dan kemenangan, jangan pernah menunda untuk muncul ke pernukaan dengan segala energi kreatifnya. Biarkan kesuksesan itu yang menemukanmu bukan kamu yang mencarinya”.
Saya tertegun sejenak mencerna dengan baik perkataan beliau dan mulai memahaminya. Saya merasa tertampar, karena selalu ragu dengan apa yang saya lakukan, seolah tidak percaya dengan kemampuan yang saya punya. Bahkan saat menulis ini pun keraguan itu masih muncul apakah tulisan seorang amatir seperti saya akan dibaca oleh penulis hebat seperti pak Ruslan.
Namun, kembali saya ingat kata beliau, “Tulisan yang kalian buat itu tidak perlu benar, karena saya hanya butuh tulisan yang salah”. Hingga tiba di penghujung acara, rasanya waktu berjalan begitu cepat, perpisahan dengan beliau pun tiba. Rasanya, berapa pun ucapan terima kasih tak cukup untuk semua gagasan beliau yang mengubah cara pandang saya. Memang benar kenyataannya cara berpikir kita tergantung dengan siapa kita bicara.
Terima kasih tak terhingga kepada Pak Ruslan yang sudah berkenan hadir ke sekolah kami untuk memberikan banyak motivasi kehidupan. Semoga ke depanya semakin sukses dan semakin hebat pula karya-karya bukunya.
*Siswi SMAN 1 Nas Sabaris Kabupaten Padang Pariaman
