“Ayah… Ibu… handphone Kevin rusak…” ucap Kevin sambil memperlihatkan handphonenya yang rusak kepada orang tuanya.

“Ya udah, besok papa belikan yang baru. Kembali ke kamar dan belajar. Sebentar lagi kamu ujian” ucap Ayah Kevin

“Makasih Yah…. aku sayang kalian,” ucap Kevin berbalik dan berjalan ke kamarnya sambil membawa handphone rusaknya.

Malam harinya…

“Kevin…. Waktunya makan malam,” teriak Ibu Kevin.

“Iya Bu…. bentar…” balas Kevin bergegas keluar kamar dan berjalan ke arah meja makan.

Di meja makan, ayah Kevin sudah duduk terlebih dahulu sedangkan ibunya baru kembali dari dapur dengan teko kaca yang berukuran sedang yang berisi air dan meletakkannya di meja makan. Mereka makan dengan tenang tanpa pembicaraan untuk menghormati makanan.

Setelah makan malam selesai, Kevin kembali ke kamar dan duduk di kursi meja belajarnya lalu fokus belajar untuk persiapan ujiannya. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Karena terlalu lama belajar, tenggorokan Kevin terasa kering.

“Waduh… aku lupa bawa air minum ke kamar. Aku ke dapur aja deh,” ucap Kevin beranjak bangun dari duduknya.

Kevin berjalan keluar dari kamar untuk mengambil sebotol air dari dapur. Saat ingin ke dapur, Kevin melewati kamar orang tuanya dan melihat cahaya lampu dari dalam karena pintu tidak tertutup rapat.

“Aneh… biasanya ayah sama ibu sudah tidur jam segini… sudahlah… mungkin mereka ada urusan penting… sebaiknya aku segera mengambil air minum dan kembali ke kamar” gumam Kevin mempercepat langkahnya ke arah dapur.

Tak lama, Kevin kembali dari dapur dengan sebotol air di tangannya. saat melewati kamar orang tuanya, Kevin mendengar suara isak tangis dari dalam. Karena penasaran, Kevin lalu mengetuk pintu kamar orang tuanya

Tok…tok…tok

“Ayah… ibu…” ucap Kevin.

“Nak masuklah…” panggil Ayah Kevin.

“Ayah… ada apa dengan Ibu?… Bu… mengapa Ibu menangis?” Tanya Kevin.

Keduanya diam membisu.

“Ayah… ibu… apa yang terjadi? Mengapa kalian diam saja?” Tanya Kevin sekali lagi.

“Sebenarnya tadi Nenek menelpon,katanya kakek masuk rumah sakit dan dokter bilang hidup kakek tidak lama lagi” jawab Ayah Kevin.

“A…apa?… jadi kakek di rumah sakit? kita harus pergi ke sana segera. Aku sudah rindu dengan kakek,” ucap Kevin.

“Tapi, minggu depan kamu akan ujian,” ucap Ibu Kevin.

“Tidak apa-apa ibu. Kevin bisa ujian susulan. Walaupun nilainya berbeda dengan ujian langsung, tapi tidak apa-apa. Kevin sudah kelas satu SMA. Selama beberapa tahun ini Kevin selalu juara pertama. Biarlah kali ini nilai Kevin turun, yang penting Kevin ketemu kakek” Ucap Kevin.

“Baiklah. Besok ayah akan berbicara sama kepala sekolahmu. Kamu kembali ke kamar dan tidurlah. Ini sudah larut malam” ucap Ayah Kevin

“Baik ayah…” ucap Kevin berbalik dan berjalan keluar dari dalam kamar orang tuanya.

Keesokan harinya, Kevin dan orang tuanya dengan mengendarai sebuah mobil menuju ke rumah sakit tempat kakeknya dirawat. Karena rumah sakit tempat kakek dirawat ada di desa kakek yang terletak jauh dari kota, sehingga perjalanan mereka memakan waktu yang lama.

Setelah berkendara beberapa lama, akhirnya mereka sudah sampai di rumah sakit. Ayah Kevin memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit. Setelah mesin mobil berhenti menyala, mereka bertiga segera keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.

Setelah memasuki rumah sakit, Ayah Kevin bertanya kepada resepsionis di mana ruangan pasien atas nama Hendrawan. Resepsionis kemudian mencari data orang yang dicari Ayah Kevin. Setelah menemukan datanya, resepsionis pun memberi instruksi di mana ruangannya.

Mereka kemudian bergegas menuju ke ruangan yang dimaksud melalui koridor rumah sakit yang agak sepi.

“Kakek… ” ucap Kevin saat membuka pintu dan melihat kakeknya di tempat tidur.

Tak lama, ibu dan ayahnya juga masuk. Di dalam ruangan sudah ada nenek, bibi, dan paman Kevin serta sepupunya.

“Kakek…. bagaimana perasaanmu? Mengapa kau masuk rumah sakit? Tanya Kevin.

“Kau ini. Kakek baik-baik saja….” ucap Kakeknya.

“Kakekmu hanya kecapean sehabis bekerja di kebun. Untung Aris ada di sana,” ucap Nenek

“Kakek, sudah kubilang jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Lihat sekarang kau di rumah sakit. Sudah kuputuskan, aku akan tinggal di Desa sampai lulus SMA…” ucap Kevin.

“Apa! kau serius nak?” ucap ibu Kevin memastikan keputusan anaknya.

“Iya ibu. Firasatku menyuruhku tetap di sini. Sepertinya ada sesuatu yang menunggu di desa dan aku ingin menjaga kakek” ucap Kevin.

“Baiklah… kalau itu keputusanmu. Ayah dan ibu akan usahakan kau pindah” ucap Ibu kevin

“Terima kasih Bu” ucap Kevin.

‘Aku tidak mungkin memberitahu ibu apa yang sebenarnya terjadi dengan kakek. Sebaiknya aku diam dulu’ batin Kevin.

Tak terasa, waktu sudah mulai gelap. Nenek mengajak Kevin serta orang tuanya untuk beristirahat di rumah terlebih dahulu. Kevin bersama ayah, ibu dan neneknya mengendarai mobil menuju ke rumah neneknya. Sementara di rumah sakit, paman dan bibi Kevin sedang menjaga kakek. Sedangkan Aris sudah pulang lebih dulu karena ada tugas kelompok yang harus ia kerjakan.

Setelah beberapa menit perjalanan dari rumah sakit ke rumah kakeknya, mereka akhirnya sampai di rumah nenek Kevin. Setelah turun dari mobil, mereka berjalan pintu depan rumah. Nenek membungkuk di depan sebuah pot bunga dan mengambil kunci pintu di bawa pot tersebut.

Setelah pintu terbuka, mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Nenek mengantar mereka ke arah kamar yang pernah digunakan ayah dan ibu Kevin sebelum pindah ke kota.

“Ibu selalu membersihkan kamar ini setiap hari, berharap saat kalian berkunjung kalian akan istirahat di kamar ini lagi” ucap nenek Kevin.

“Ibu, Santi minta maaf. Santi jarang berkunjung kemari,” ucap Santi, ibu Kevin sambil memeluk nenek Kevin

“Sudahlah, kalian istirahat. Kevin, nenek sudah siapkan kamar untukmu. Kemari,” ucap Nenek.

Kevin berjalan mengikuti neneknya ke kamar yang disiapkan untuknya.

“Nek… bisakah aku masuk ke ruang kerja kakek? Ada sesuatu yang ingin kulakukan,” ucap Kevin.

“Kau ini. Kenapa harus minta izin. Ini kuncinya,” ucap Nenek memberi Kevin kunci ruang kerja kakek Kevin.

“He he… Makasih nek. Kalau gitu Kevin masuk ke kamar dulu. Kevin mau bersih-bersih,” ucap Kevin.

“Yaudah. Sana. Kalau selesai kamu turun ke bawah… nenek dan ibumu akan menyiapkan makan malam” ucap Nenek.

“Baik nek. Kevin ke kamar dulu” ucap Kevin masuk ke dalam kamar yang disiapkan nenek.

Setelah berbenah diri, Kevin berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di ruang makan, ayah dan ibu serta nenek Kevin sudah duduk di meja makan. Kevin duduk di kursi dekat ibunya. Kegiatan makan malam dilakukan tanpa percakapan.

Setelah makan malam selesai, Ayah dan ibu Kevin serta nenek berniat ke rumah sakit melihat kakek Kevin.

“Nenek, sebaiknya Kevin tinggal di rumah saja. Kalian bisa pergi ke rumah sakit, biar Kevin yang menjaga rumah” Ujar Kevin.

“Baiklah… nanti nenek suruh Aris menemanimu di rumah” ucap Nenek.

“Itu tidak perlu nek… Kevin bisa sendiri” ucap Kevin.

“Kalau begitu kami pergi dulu… baik-baik di rumah” ucap Ibu Kevin.

Setelah mereka pergi, Kevin mengunci pintu rumah dan berjalan ke ruang kerja kakeknya. Setelah masuk masuk ke dalam ruangan, Kevin mengunci pintu lalu menjentikkan jarinya sebanyak 3 kali.

Setelah jentikan ketiga, sebuah cahaya menyelimuti tubuh Kevin dan langsung menyebar keseluruh ruangan. setelah cahaya itu menyebar ke segala penjuru ruangan, seisi ruangan tiba-tiba bergetar hebat, buku-buku yang tersusun rapi di rak buku beterbangan dan berserakan ke lantai.

“Laina… mengapa kau semarah ini?” ucap Kevin.

“MEREKA KEMBALI!!! IBLIS ITU KEMBALI!!! KEVIN!!! BEBASKAN AKU!!! AKU INGIN MEMBALAS IBLIS-IBLIS ITU!!!” Suara amukan terdengar menggema di seluruh ruangan disertai dengan getaran hebat di ruangan tersebut

“LAINA… tenangkan dirimu… aku sudah berjanji padamu akan membalaskan dendammu. Hari ini aku datang ke sini karena Panji memberitahu orang yang membunuhmu dulu sekarang menargetkan Kakekku. Mereka tidak akan kulepaskan begitu saja. Jadi, tenanglah, jangan tunjukkan dirimu pada mereka sebelum waktunya, karena itu akan menghancurkan rencanaku” ucap Kevin.

Tak lama, getaran di ruangan mulai mereda. Buku-buku dan barang-barang yang berserakan kembali ke tempatnya seperti semula.

Setelah ruangan itu kembali seperti semula, di bawah cahaya rembulan yang menembus jendela ruangan, muncullah sosok gadis kecil dengan sebuah boneka di pelukannya.

“Kevin… aku percaya padamu, dan kamu harus hati-hati dengan mereka…” ucap Laina yang sudah tenang.

“Kamu tidak perlu khawatir… ” Ucap Kevin sambil mengelus kepala Laina.

Tok… tok… tok…

“Sepertinya ada yang datang Laina. Aku akan menemuimu nanti. Tetaplah tinggal di mesin antik itu. Mesin ketik itu akan menambah kekuatanmu. Kalau waktunya sudah tiba dan kamu sudah kuat, aku akan membebaskanmu.”

“Baiklah… ” ujar gadis itu lalu menghilang

Kevin kembali menjentikkan jarinya sebanyak tiga kali dan cahaya yang menyelimuti ruangan itu perlahan memudar dan menghilang ke dalam tubuhnya. Kevin memutar kunci pintu ruang kerja kakeknya lalu keluar dan tak lupa ia kembali mengunci pintu ruangan itu.

Kevin berjalan ke arah pintu depan yang masih diketuk seseorang dari luar.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *