oleh: Ryan Hidayat
Sabtu tanggal 13 Agustus pada jam 03.35Wita, aku sampai di lokasi kemah bakti SMP dan SMA- Sederajat Kwarcab Kolut. Saat sampai di sana, terlihat sudah banyak tenda yang didirikan dari berbagai sekolah sehingga kami pusing mencari tempat karena hampir semua sudah terisi.
Setelah lama mencari, akhirnya kami menemukan lokasi yang kosong untuk mendirikan tenda.
“Semua anak laki-laki bisa mendirikan tenda. Saya akan membantu pramuka putri untuk mendirikan tenda,” ucap guru kami, dan salah seorang teman membalasnya,” Iya Pak. Silakan”. Saat mendirikan tenda, kami juga agak sedikit kebingungan, tapi untungnya ada orang di sebelah kami yang baru saja selesai mendirikan tenda. Mereka pun membantu kami. Sungguh mereka memiliki sikap solidaritas sebagai anak pramuka.
Saat selesai, kami malah kebingungan karena tidak tahu tenda putri itu di mana. Sejauh mata memandang, memang tidak terlihat di mana guru kami pergi mendirikan tenda putri. Jadi, kami semua memutuskan untuk menunggu saja sampai guru kami datang. Tak lama kemudian, guru kami datang dan menyuruh kami semua untuk ganti baju dan bergegas ke tenda putri untuk membantu putri yang sedang memasak. Setibanya di tenda putri, aku ditugaskan oleh salah seorang pembina putri untuk mengambil air.
Tak lama kemudian azan magrib pun terdengar dan perutku berbunyi keras di tenda putri hingga membuat semua teman tertawa. Baru melihat teman tertawa saja sudah membuat kebahagian meronta-ronta di dada. “Ayo anak-anak, siapkan piring kalian,” ucap pembina putri yang sudah selesai memasak. Semua temanku langsung menyiapkan piringnya, tapi ada seorang teman yang tidak kebagian piring karena lupa membawa dari rumah. Pembina putri pun meminta kami untuk makan sepiring berdua. Saya kemudian menawarkan untuk satu piring berdua, dan ternyata dia mengiyakan. Hanya sepiring nasi dan 1 butir telur saja sudah cukup untuk membahagiakan diriku. Namanya juga pandu, tambah boleh, mubazir jangan.
Setelah selesai makan, kami membuat secangkir kopi hangat. meminum kopi dengan penuh rasa syukur dam memandang ke depan, serta ke samping yang dipenuhi dengan tenda pramuka penggalang dan pramuka penegak dari berbagai sekolah yang penuh canda tawa.A ku tersenyum dan berkata dalam hati “Sepiring nasi dan secangkir kopi sudah cukup untuk membuatku bahagia,”
Dari kemah bakti yang berlangsung selama tiga hari, saya dapat belajar tentang kebahagiaan dan ketenangan dengan cara sederhana.
