Katanya memiliki teman yang banyak itu asyik. Tetapi, memiliki satu teman jauh lebih asyik.
Namanya Naia, siswa kelas akhir yang memiliki satu sahabat yang selalu menemani hari-harinya. Mereka menjalin kisah persahabatannya saat masa putih abu-abu dimulai.
Di tempat yang baru, mereka menjadi tokoh utama untuk kisah baru. Mereka saling berkenal kala ospek berlangsung. Sebuah gugus mempersatukan mereka dalam tali persahabatan.
Naia sendiri cukup pintar dalam bidang pelajaran apa pun. Bahkan, saat penerimaan rapor, namanya selalu mengisi papan peringkat atas.
Temannya ini tidak bodoh, juga tidak cerdas. Dalam artian otaknya bekerja di tingkat rata-rata. Tetapi, bagi Naia berteman dengan bukan sesamanya sebagai siswa berprestasi bukanlah suatu keburukan. Bukankah dalam berteman hanya membutuhkan kenyamanan dan sikap saling pengertian juga sebagai tempat berbagi cerita. Jadi, untuk cerdas atau tidaknya, Naia tidak mempermasalahkan itu.
Di luaran banyak orang yang menjadi korban mendapatkan teman banyak hanya karena ingin dimanfaatkan. Entah itu karena kepintarannya, karena keluarganya, atau mungkin karena mencari sensasi agar namanya ikut terkenal.
Isu-isu yang selalu Naia baca itu, Naia tepis jauh-jauh. Menurutnya, pertemanannya sudah terjalin hampir tiga tahun dan Naia sangat amat percaya dengan sahabatnya: dia menjadi sahabat yang sesungguhnya, bukan menjadi sahabat yang ingin mendapatkan imbalan.
“Tugas kamu sudah belum?” Tanya Sahabatnya saat Naia baru saja mendudukkan tas di bangkunya.
“Sudah, bagaimana dengan tugasmu? Sudah selesai belum?” Tanya Naia kembali pada temannya. Panggil saja Rumi.
“Masih ada tiga nomor yang belum kukerjakan. Soalnya terlalu sulit untuk otakku yang anti dengan angka-angka,” jawabnya sambil menatap Naia.
“Coba kulihat?” Naia mendekat ke arah Rumi, melihat dengan teliti soal yang belum dikerjakan.
“Bagaimana dengan pekerjaanku? Apakah sudah benar?” Tanya Rumi memastikan bahwa jawabannya tidak salah.
“Yah, punyamu hampir mirip dengan punyaku. Kurasa soal yang engkau kerjakan sudah benar,” jawab Naia membuat Rumi tersenyum.
Rumi yang dulu awalnya berada di peringkat papan bawah, kini sudah perlahan berada di papan atas. Bahkan, jaraknya hanya berbeda lima peringkat dengan Naia.
Peningkatan yang dialami Rumi membuat guru-guru takjub. Naia mengakui itu. Mereka selalu mengerjakan soal maupun pekerjaan rumah secara bersama-sama. Meskipun lebih banyak Naia yang mengerjakan. Terkadang Rumi hanya menyalinnya saja.
Naia tidak mempersalahkan hal itu. Menurut Naia, pengetahuan manusia berbeda-beda. Mungkin saja kali ini pengetahuan Naia lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan Rumi.
“Bagi jawaban kamu dong, aku belum tiga nomor ini,” kata Rumi sembari menunjuk soal-soal yang belum dia kerjakan.
“Ambil saja di dalam tasku. Aku ingin ke kantin mengisi perutku,” kata Naia lalu berlalu.
Bukan hal yang takjub jika pagi-pagi Naia sudah nangkring di kantin. Kebiasaan buruknya adalah tidak sarapan.
“Langsung kusalin saja, ya?” teriak Rumi yang diacungi jempol oleh Naia.
Inilah enaknya menjadi teman Naia . Dia selalu memberikan jawabannya dengan komplit, tinggal salin saja. Tidak seperti dari beberapa teman yang lainnya jika Rumi meminta jawaban, mereka hanya mengajarkan cara kerjanya saja. Menurut Rumi, itu adalah hal yang rumit karena dia harus pusing kembali mengerjakan ulang. Jika meminta kepada Naia, otomatis dirinya akan terima beres.
Alur pertemanan mereka terus berbaik. Hingga akhirnya di penghujung waktu mereka di masa abu-abu, tiba-tiba saja hubungan mereka renggang. Rumi tiba-tiba menjauh. Bukan menjauh untuk tidak menemani Naia lagi. Rumi yang tadinya menjadi twenty four seven, tiba-tiba lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman yang lain ketimbang dengan Naia.
Naia sempat mencari letak kesalahan dirinya. Namun, hasilnya nihil. Menurutnya, dirinya tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi, mengapa Rumi menjauhinya?
Naia terus diam memperhatikan gerak-gerik Rumi yang semakin hari semakin menjauh dari Naia. Kembali asing seperti dua setengah tahun silam. Naia yang mempelajari sikap Rumi yang selalu menjauh, membuat Naia juga menjauh dari hidup Rumi.
“Tumben lo ga sama Rumi?” tanya Alan melirik ke arah Naia yang tengah menyantap cemilannya.
“Lagi sama yang lain,” jawab Naia dengan jujur. Toh memang Rumi sekarang sama anak-anak yang lain.
“Lagi ga akur sama Rumi, ya?” tanya Alana sembari membalikkan bangkunya ke arah Naia.
“Ga tau kenapa Rumi tiba-tiba menjauh,” jawab Naia mengedikkan bahunya.
“Kalau gue bilang Rumi ngedekatin lo karena lo pintar, percaya ga?” Celetuk Alan.
“Ga mungkin lah, Rumi orangnya ga gitu,” Naia menggeleng tidak membenarkan ucapan Alan. Berondong yang satu ini ada-ada saja pikirannya.
“Coba lo ceritain, Na,” kata Alan pada kembarannya, membuat Naia menatap Alana.
“Jadi…” Alana menoleh ke arah Alan.
Sebenarnya Alana tidak ingin memberitahu Naia. Tetapi, karena ini perintah Alan dan Alana sebagai adik yang taat dan berbakti kepada abangnya, maka Alana harus menceritakannya kepada Naia.
“Kemarin, pas aku ke kantin bareng Alan, aku lewat di depan meja tempat Rumi makan sama teman barunya. Terus, aku dengar Rumi bilang gini. ‘Aku berteman sama Naia karena Naia itu pintar, biar nilaiku juga ikut tinggi. Masa kita udah mau habis. Jadi, ya udah, ngapain sama Naia lagi? Tinggal hitung minggu lagi kita lulus’ itu kata Rumi yang aku dengar,” cicit Alana takut-takut.
“Benar, Lan?” Tanya Naia menatap Alan.
“Ngapain juga kita bohong.”
Tatapan Naia tiba-tiba kosong mendengar cerita dari teman sekelasnya. Ternyata, Rumi berteman dengannya hanya karena dirinya pintar?
Ternyata benar kata orang-orang. Cari teman itu teman yang tulus, bukan teman yang memandang dari segi ilmu, harta, dan pangkat. Manusia itu hidupnya give and take, bukan give and give.
Naia kira pertemanannya dengan Rumi selama ini benar-benar pertemanan yang sesungguhnya. Namun, nyatanya dirinya tidak dianggap sebagai sahabat, melainkan sebagai alat untuk dapat memunculkan Rumi ke permukaan. []
