Oleh: Suci Angraini
Dengan air mata yang sudah tak bisa terbendung lagi, Aldino masih sibuk berlari mengelilingi mall miliknya untuk mencari keberadaan adik kembarnya , tapi tiba-tiba ada teriakan nyaring yang menghentikan aksinya tersebut, saat mendengar teriakan yang bisa di sebut penghancur gendang telinga, Aldino langsung berlari mencari asal teriakan itu.
“BANG ALDINO BAGASKARA, ENGKAU DI MANA? MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN KAMI HAH?” ini adalah teriakan dari kembarnya kembar, yang tak lain adalah Vania.
“Dino Dino di dinding, diam-diam merayap, datang seekor macan, hap, macanya mati.” Venia menyanyikan lagu cicak cicak di dinding, dengan versinya sendiri.
Twins tadi sudah dibantu bangun oleh beberapa orang yang sedang menyaksikannya kesusahan bangun sampai-sampai tertidur. Sekarang Twins duduk di atas boneka milik mereka masing-masing dengan mata yang masih mencari keberadaan sang kakak yang membawanya ke mall ini.
“Ku menangisssss, membayangkan betapa kejamnya dirimu pada diriku, ea ea.” Kali ini Vania yang bernyanyi dengan menyanyikan lagu yang selalu muncul di sinetron ‘aku tahu kapan kamu mati’.
“Terangkanlah, terangkanlah, jiwa yang sayang opo Kowe krumu jerite atiku mengharap engkau kembali, sayang nganti memuteh rambutku, Ra bakal luntur tresnoku.” Venia menyanyikan lagu yang berbeda lagi.
Masih banyak yang mengerumuni Twins, mereka sangat gemas dengan tingkat laku Twins.
Tiba-tiba ada seorang lelaki berperawakan tinggi dengan paras yang tampan membelah kerumunan yang mengerumuni Twins menjadi 5, canda², lelaki itu tak lain tak bukan adalah Aldino kakak dari anak kembar yang sedang menduduki boneka besar dengan menatap orang yang baru saja menerobos kerumunan itu.
“Siapa anda?” tanya Vania.
“Apakah kau adalah pemilik dari mall ini?” tanya Venia.
“Atau kau adalah anak dari Geonandra Bagaskara?” tanya Vania.
“Atau kau adalah keponakan dari Om Angga?” tanya Venia.
“Atau kau adalah Aldino Bagaskara?” tanya Vania.
“Atau kau adalah kakak dari Vania dan Venia?” tanya Venia.
“Atau kau adal—.” tanya Vania, tapi terpotong oleh ucapan Aldino.
“Udah cukup! Kalian ini dari mana hah? Abang tadi nyariin kalian sampai keliling mall loh, Abang sampai nangis-nangis kagak jelas karena kalian!” ucap Aldino yang air matanya masih terus berjatuhan seperti bunga pohon durian yang sedang berbunga, canda oyy.
“Kami nga kemana-mana kok bang, kami cuman di sini terus dari tadi,” ucap Vania.
“Trus kenapa pas Abang balik badan, Abang nga ngeliat kalian di belakang Abang. Abang cuman ngeliat boneka kalian yang tergeletak tak berdaya bagaikan benda mati?” tanya Aldino dengan wajah yang terlihat menggemaskan saat menangis.
“Emang boneka ini punya nyawa?” tanya Venia dan mencoba mensejajarkan telinganya ke arah dada boneka untuk memastikan apakah boneka itu memiliki detak jantung atau tidak, tapi setelah memastikan nya, Venia tak mendengar dan merasakan adanya detak jantung di dada boneka miliknya.
“Ada detak hatinya?” tanya Vania.
“Nga ada tuh,” jawab Venia.
“Berarti bonekanya udah meninggoy dong,” ucap Vania.
“Innalilahi wainnailaihi raji’un,” ucap Venia menutup mulutnya dan berekspresi kaget.
Aldino sekarang meruntuki dirinya yang telah mengeluarkan kata-kata yang pasti akan membuat dirinya pusing sendiri.
Kerumunan orang yang masih menyaksikan tingkah laku kakak beradik itu hanya terkekeh geli, sangat harmonis pikir mereka. Tadi mereka sempat kaget karena pertanyaan yang di lontarkan olehTwins yang membawa-bawa nama Orang terkaya beserta anaknya, tapi untungnya Aldino tidak menanggapi pertanyaan dari si Twins, karena jika sampai Aldino menjawab pertanyaan dari Twins itu benar semua, maka kerumunan itu akan bertambah lebih banyak dan akan membuat Aldino beserta Twins kesusahan untuk keluar, jangan kan keluar, pulang saja akan susah jika kerumunan itu tau kalau yang mereka kerumuni itu adalah anak dari orang terkaya di dunia.
“Yaudah lah, Bang ayo kita pergi jajan di pinggir jalan,” ajak Venia.
“Kuy lah,” seru Vania.
“Huh, yaudah ayo,” ucap Aldino.
“Bonekanya biar Abang yang bawa,” ucap Aldino yang hendak mengangkat boneka milik Twins saat Twins sudah berdiri dari duduknya.
“Stop! Nga usah, boneka Vania biar Vania yang bawa,” ucap Vania.
“Venia juga,” ucap Venia mengikut.
“Yaudah, kalian jalan di depan, biar Abang yang jalan di belakang kalian,” ucap Aldino agar dirinya tak akan lagi kehilangan jejak adik kembarnya.
“Tolong minggir-minggir, bawang hitam dan bawang kuning mau lewat!” ucap Vania agar kerumunan di depannya membukakan mereka jalan.
Twins membawa bonekanya tidak dengan cara menggendongnya, tapi dengan cara menyeretnya.Kasihan sekali nasib bonekanya.
Mereka sudah keluar dari mall. Mereka sekarang sedang berada di parkiran tapi bukan untuk mengambil mobil, tetapi melihat-lihat aneka jajanan pinggir jalan dengan beragam jenis.
“Bang, yuk ke penjual gorengan dulu,” ajak Venia.
“Jangan gorengan lah, gorengan itu mengandung banyak minyak, nga baik buat kesehatan.” ujar Aldino
Tiba-tiba saja Venia berlari dan menarik tangan Vania untuk ikut bersamanya menuju penjual gorengan tanpa memperdulikan ucapan Aldino.
Aldino yang melihat adik kembarnya tak menggubris ucapannya hanya menghela nafas panjang, tanpa berpikir panjang, Aldino langsung menyusul adik kembarnya yang sudah duduk di kursi depan gerobak penjual gorengan.
Bagaimana dengan bonekanya? Yah, boneka milik Twins sudah di bawa pulang oleh beberapa bodyguard yang sudah Aldino telpon untuk membawa boneka milik twins untuk pulang.
