Oleh: Nur Aqilah Salim

“Pak, pak ustaz, Layla kabur lagi. Saya sudah berusaha kejar, tapi malah kehilangan jejak” ujar Kang Ady, seorang satpam penjaga pagar pesantren.

“Nanti kita cari Layla sama-sama sampai dapat,” kata pak ustadz Mahmud

Belakangan Layla kerap mencoba kabur dari pesantren dikarenakan ia ingin bebas tanpa terikat peraturan ketat pondok pesantren Al-Kautsar, percobaan kaburnya selalu gagal tapi sepertinya tidak untuk kali ini.

Setelah melarikan diri dari pondok pada pagi harinya, Layla belum menemukan tempat tinggal baru hingga langit mulai gelap dan perlahan meneteskan air hujan. Adzan berkumandang tanda tiba waktu berbuka puasa, gadis ini pun memilih berteduh dan terpaksa berbuka puasa dengan air hujan di depan sebuah ruko pinggir jalan.

Sesaat kemudian, ibu pemilik ruko muncul membuat Layla terkejut. “hey, sedang apa kamu disini?” tanya ibu tersebut

“Saya numpang berteduh, bu”

“Rumah kamu di mana?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Layla hanya menggelengkan kepala. “ya sudah kalau begitu. Kamu mau tinggal dan kerja sama ibu di ruko ini?”, tentu Layla dengan cepat mengiyakan ajakan tersebut.

“Oh iya, nama ibu Darmawati panggil aja bu Darmi, kamu?”

“Aku Layla, bu”

“Layla, mari masuk,” bu Darmi mengajak Layla ke dalam rumah dan toko atau rukonya itu sambil menjelaskan tugas Layla selama tinggal di situ. Ternyata Layla akan dipekerjakan menjadi tukang bersih-bersih, tapi bagi Layla itu lebih baik daripada belajar di pondok.

Beberapa hari kemudian, di tanggal 20 bulan Ramadan. Seisi pesantren masih saja gempar. Mereka masih khawatir dan bingung harus mencari Layla kemana lagi, belum ada yang berhasil menemukan Layla sejak tinggal di ruko bu Darmi.

Semua orang berdoa agar Layla kembali, terutama ustadz Mahmud dan ustadzah Maya, orang tua Layla sekaligus pimpinan pesantren. Bahkan sampai diadakan beberapa kali doa bersama selepas salat sunnah tahajud, hanya demi menemukan titik terang keberadaan Layla, mengingat betapa dahsyatnya doa di sepertiga malam.

Di sisi lain, Layla mulai mengeluhkan pekerjaannya. Lelah berpuasa sambil bekerja, selalu menjadi alasannya melalaikan tanggung jawab. Jadi, mau tidak mau sikap bu Darmi yang tadinya lembut berubah menjadi sedikit lebih galak karena tingkah malas Layla yang mulai nampak.

“Layla, tolong lap meja!”

“Layla, tolong sapu lantai!”

“Layla, tolong bersihkan jendela!”

“Layla, tolong cuci piring!”

Kalimat-kalimat tersebutlah yang terus berputar setiap harinya dan membuat Layla muak, padahal itu hal yang wajar, mengingat Layla sudah diterima untuk tinggal gratis di ruko bu Darmi.

“Duh, capek juga lama-lama kerja di sini, kangen Umi, kangen Abi, kangen teman-teman di pondok, kangen Kang Ady, pokoknya kangen pesantren Al-Kautsar, biasanya kalau bulan Ramadhan gini banyak momen mahal,” gumam Layla dalam hati sembari menyapu debu di lantai.

Seketika itu dari pintu masuk terlihat seorang wanita bercadar. “Umi? Umi!”, teriakan Layla yang sontak membuat wanita tersebut berbalik badan dan segera menghampiri lalu mendekap erat tubuh Layla, ya wanita tersebut adalah ustazah Maya yang tadinya hanya berniat membeli bahan makanan.

“Umi kangen, kangen banget sama Layla”

“Layla juga kangen umi, maafin Layla udah kabur dari pondok. Habisnya Layla capek belajar, capek menghafal, capek diatur-atur, Layla pikir kalau keluar dari pondok dan mulai kerja kayak gini hidup Layla bakalan lebih tenang dan bebas, ternyata… tidak” Layla mulai terisak

“Lay, seperti kata orang, dunia itu memang tempatnya capek, tempatnya berusaha dan berjuang untuk meraih ridho-Nya dan menuai hasil di akhirat kelak. Tidak ada yang mudah, semuanya butuh usaha dan kerja keras, baik itu di dunia pendidikan maupun di dunia pekerjaan” jelas ustazah Maya

“Maaf Umi, Layla jera”

“iya, dan kamu juga harus selalu ingat nasehat Imam Syafi’i yaitu “jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”. Lagi pula kamu harus bersyukur dapat kesempatan untuk menuntut ilmu, di luar sana banyak anak yang gak seberuntung kamu”

“Layla janji sama umi, Layla gak akan ngeluh lagi dan akan usaha buat jadi lebih rajin dan lebih baik demi menggapai ridho Allah SWT dan mensyukuri segala nikmat-Nya”

“Kalau begitu, Umi tantang Layla buat khatam Al-Qur’an dan melakukan kebaikan sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang tersisa ini. Kalau Layla berhasil, kita liburan ke Bali! gimana, setuju?”

“Wah, setuju Umi! Ayo kita kembali ke pondok, Lay udah kangen banget sama Abi”

Keduanya pun berpamitan kepada bu Darmi, kemudian bersama-sama kembali ke pondok pesantren Al-Kautsar. Semua orang di pondok terkejut melihat Layla, tapi di samping itu mereka semua juga diselimuti kebahagiaan karena doanya terkabul, Layla kembali dengan selamat.

Selepas itu, Layla benar-benar menjalankan tantangan Uminya dengan sungguh. Ia menebar banyak kebaikan, mulai dari membantu temannya dengan ikhlas, menyapu halaman dengan suka rela, dan membaca Al-Qur’an setiap selesai salat fardhu sampai berhasil khatam dalam 10 hari terakhir Ramadan sesuai tantangan.

Saatnya menyambut kemenangan di hari raya, idul Fitri yang penuh suka cita, sepulang salat ied dan setelah bermaaf-maafan, Layla menghampiri Umi.

“Umi, Layla berhasil, kan? Layla jalanin tantangan dengan baik dan itu tulus loh, bukan semata-mata demi liburan ke Bali kayak yang Umi janjikan”

“Kamu berhasil, Umi bangga. Tapi tau gak alasan Umi beri tantangan seperti itu di sepuluh hari terakhir Ramadan?”

“Hmm, buat cari Lailatul Qadar ya Umi?”

“Benar sekali, pintar anak Umi! Habis ini kita liburan ke Bali yah, hahah”

“Asik liburan!”

tidak lama kemudian ustadz Mahmud datang, “wah, ada yang mau liburan nih, abi ikut juga gak?”

“Abi gak diajak”

“Loh kok gitu?”

“Nanti kang Ady kangen!”

“Hahaha” di tengah gelak tawa keluarga kecil ini, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan berteriak “Assalamualaikum, ada orang di dalam”, Layla dengan cepat membukakan pintu dan ternyata itu bu Darmi, si pemilik ruko.

“Bu Darmi, mohon maaf lahir dan batin bu.”

“Layla, maafin ibu juga ya.”

Semuanya pun berbahagia di hari yang suci itu, tidak ada lagi keluh kesah dan resah diantara mereka. Layla yang sempat ditampar kerasnya hidup, akhirnya berhasil ajarkan untuk kurangi mengeluh dan perbanyak bersyukur.

Selesai

Watansoppeng, 1 Mei 2022

(Visited 29 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *