Oleh: Suci Angraini
• Kantin •
Sekarang kantin sudah terlihat sedikit ramai. Naya, Senja, dan Aldo, terlihat sedang menyantap makanan mereka dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, hanya Ica yang terus-terusan mengoceh dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan.
“Bwenel-bwenel emwang, jia yang nabjak Jia juga yang mayah-mayah ke Icwa,”
“Hasusnys kan icwa yang mayah-mayah samwa Jia,”
“Sawah sendili, ngopoi syoba pace lawi-lawi segala, kan— uhuk uhuk, air uhuk uhuk.” tiba-tiba saja Ica meminta minum karena tersedak makanannya, karena terus mengoceh.
Saat selesai meminum air putih yang berada di hadapannya, bukannya diam dan menyantap makanannya dengan tenang seperti sahabatnya, Ica malah melanjutkan ocehannya sambil melirik sinis siswi yang menabraknya tadi.
“Kayak dikejar setan aja, sampai lari-lari segala.”
“Kan kalau nga lari juga bisa.”
“Kalau tadi dia nga lari-lari, pasti Ica nga bakal jatuh dengan cara nga aestetic kayak tadi.”
“Mana kepala Ica kebentur lantai lagi, kan sakit.”
“Kalau dia bilang-bilang kalau mau nabrak Ica, kan Ica siap-siap dulu biar nanti kalau dia udah nabrak Ica, Ica jatuh dengan cara aestetic biar Ica nga malu.”
“Kalau aja nga ada kalian, pasti tuh bocah udah Ica sikat pake sikat wc.”
“Dia itu udah berdosa banget sama Ica,”
“Dia tuh belum minta maaf sama Ica,”
“Pokoknya Ica harus balas dendam sama si pendek, sok imut, bocah ingusan itu,”
“Bener-bener ah, Ica nga terima tau nga, tangan Ica gatel pengen botakin dia.”
“Ica! sakit Ca,” tiba-tiba Aldo memekik kesakitan sebab rambutnya sekarang jadi korban kemarahan Ica.
“Eh maaf, habisnya Ica kesel sama si pendek itu! Udah pendek, sok imut, bocah ingusan, trus dimana-mana cari sensasi mulu.”
“Lepasin Ica Dodo, Ica mau balas dendam! Lepas ih, lepasin Ica, jangan nahan Ica,”
Aldo hanya melongo melihat kelakuan sahabat polosnya ini, bagaimana tidak, Ica tadi menarik rambutnya secara tiba-tiba, lalu sekarang Ica berdiri dengan memegangi tangannya dan berkata ingin di lepaskan, seolah-olah Aldo yang sedang menahan Ica agar tidak pergi, padahal Ica yang sedang memegangi tangan Aldo dan berakting seperti ditahan oleh Aldo.
Siswa dan Siswi yang berada di kantin menyaksikan kelakuan Ica yang menurut mereka sangat tidak bisa diam. Ada yang berpikir bagaimana bisa Ica menjadi sahabat Aldo dan Senja, padahal sifat yang mereka miliki sangat bertolak belakang. Ada juga yang iri dengan Ica karena selalu dijaga oleh Aldo dan juga Senja, seperti tadi contohnya saat Ica ditabrak oleh salah satu siswi sampai kepalanya terbentur ke lantai hingga menyebabkan kepala Ica terluka, Aldo langsung menggendong Ica ala bridal style dan membawanya ke UKS secara terburu-buru, sedangkan Senja berdiri di hadapan siswi yang menabrak Ica. Senja menatap tajam siswi itu lalu membentaknya tanpa ampun. Untung saja Senja tak sampai main tangan, karena jika itu sampai terjadi, maka siswi itu sudah dipastikan akan dilarikan ke rumah sakit. Naya tak melakukan apa-apa, Naya hanya menyaksikan itu. Sebenarnya Naya khawatir kepada Ica. Naya juga tadinya ingin membentak siswi yang menabrak Ica, tapi tak jadi karena Senja sudah duluan melakukan nya.
“Caca duduk!” perintah Aldo dengan nada dingin.
“Nga! Ica mau membalaskan dendam Ica dulu baru Ica bisa duduk dengan tenang,” ucap Ica tak mau mengalah.
“Ica duduk!” Naya menatap Ica dengan lembut, Naya mengisyaratkan Ica untuk duduk.
“No no no, Ica pengen balas dendam dulu Nay!” ucap Ica yang benar-benar tak mau menurut.
“Ca!” kali ini Senja yang mengeluarkan suaranya, Senja menatap tajam Ica, seketika Ica langsung kicep dan kembali duduk di tempatnya semula dan melanjutkan memakan makanannya.
Bukannya mereka mau melarang Ica untuk melukai siswi tadi, hanya saja mereka khawatir luka Ica yang sudah diperban akan terasa sakit jika Ica melakukan pertengkaran yang membuat emosinya tak terkontrol.
“Awas aja, Ica bakal balasin dendam Ica ke you lewat perantara santet,” ucap Ica lirih sambil menatap siswi yang menabraknya tadi dengan tajam.
“Ca!” tegur Aldo saat mendengar suara lirih Ica yang mengeluarkan kata santet.
“Dodo!” ucap Ica dengan tatapan menantang Aldo.
Aldo memutar matanya malas. Aldo memilih untuk diam karena jika terus-terusan meladeni Ica, maka tak akan ada habisnya.
“Huh … Ica masih laper, BU, ICA PESEN 2 PORSI BAKSO LAGI!” teriak Ica tiba-tiba yang membuat seisi kantin memegangi dadanya kaget, dan ada juga yang tersedak karena kaget dengan teriakan Ica.
“Siap neng,” ucap ibu penjual kantin.
Pesanan Ica sudah datang, wajah Ica terlihat berbinar senang.
“Yey makan lagi,” senyum di wajah Ica merekah yang membuat Naya, Aldo, dan Senja, tersenyum dengan sangat tipis, tapi senyuman itu tak bertahan lama saat mereka melihat apa yang akan dilakukan oleh Ica.
Senyum ica pun memudar saat ia hendak mengambil sambal, namun,didahului oleh Aldo.
“Ih kok diambil sih, kan Ica juga mau,” ucap Ica kesal.
“Nanti lu sakit perut lagi, siapa yang repot?” Ucap Aldo datar.
“Dodo ama Jajalah!” Balas Ica ngegas.
“Itu tau,” ucap aldo sebal.
“Jadi kalian ga ikhlas direpotin ama Ica? Ya udah, aku ngerepotin Naya aja,” ucapnya enteng.
“Ogah,” ucap Naya tanpa berperasaan.
“Ih kalian kok jahat banget sih!” ucap Ica.
“Ya udah deh, mending Ica pindah ke tempat lain,” ucap Ica dan berdiri membawa nampan yang berisi 2 mangkuk bakso miliknya menuju meja sebelah yang ada sambalnya.
“Ica duduk di sini yah,” ucap Ica yang diangguki oleh siswa yang duduk di tempat itu dengan tersenyum.
Ica duduk dengan senyumannya yang kembali merekah menatap sambal di hadapannya. Saat hendak menyendok sambal tersebut, tiba-tiba tubuh Ica melayang karena digendong seperti karung beras oleh Aldo. Aldo membawa Ica kembali ke tempat yang mereka tempati. Setelah meletakkan Ica di tempatnya semula, Aldo kembali ke meja yang berisi beberapa siswa tadi untuk mengambil nampan yang berisi 2 mangkuk bakso milik Ica dan membawanya ke hadapan Ica.
“Giliran Naya aja dibiarin makan sambel sebaskom, kalau aku malah ga dibolehin,” ucap Ica kesal.
‘Perasaan, gua kagak ada tuh ngasih orang sambel sebaskom., batin Aldo.
“Karna lu bocil,” ucap Senja tanpa berperasaan.
“Jaja diem aja, kan aku nanya sama Dodo, Wlee,” ucap Ica menjulurkan lidahnya.
“Bacot,” sahut Naya karna merasa terganggu mendengar ocehan Ica yang tidak ada habisnya.
“Ya Allah Ica!” Ucap aldo seraya memijit pelipisnya.
“Dodo jawab dulu pertanyaan Ica,” ngereknya kepada Aldo.
“Makan!” ucap Aldo menatap tajam Ica yang sedari tadi tak mau menurut.
‘Gimana gua bisa jawab kalau pertanyaannya agak ngelantur gitu, orang gua ketemu Naya baru beberapa menit yang lalu, trus apa gua pernah nyuruh Naya makan sambel sebaskom? Ada-ada aja mulutnya si bocil,’ Aldo membatin.
“Ih ya udah iya-iya” ucap Ica pasrah.
Kringg! Kringg! Kringg!
Saat ica hendak memakan baksonya, bel masuk pun berbunyi.
“Yahh udah masuk, ayok kita ke kelas,” alibi Ica karena malas makan baksonya lantaran tidak di perbolehkan oleh Aldo memakan sambal.
“Abisin! Di luar sana banyak orang yang ga bisa makan kayak lu,” ucap Naya dengan tatapan tajam.
“Iya deh iya,” ucap Ica cemberut.
Ica memakan makanannya dengan wajah yang ditekuk. Ica tak lagi mengeluarkan suara. Ica menahan kekesalannya sekarang, walaupun tak ada suara yang keluar dari mulut Ica, percayalah bahwa Ica menyumpah serapahi Naya, Aldo, dan Senja, dalam hatinya.
“Enak walaupun ga seenak pake sambal,” ucap Ica saat makanannya sudah habis lalu mengusap mulutnya dengan lengannya bajunya, padahal ada tissue di meja mereka.
“Makanan yang Ica makan tadi Aldo yang bayar Bu,” ucap Ica dengan santainya saat Ibu kantin datang untuk meminta bayaran dari makanannya.
“Udah gua duga,” ucap Aldo dengan wajah datar dan mengeluarkan uang dari sakunya untuk membayar makanannya dan makanan Ica, begitupun dengan Naya, dan Senja, mereka juga mengeluarkan uang dari sakunya untuk membayar makanan yang mereka makan.
“Gendong., ucap Ica manja dan merentangkan kedua tangannya.
Aldo menggendong Ica seperti anak kecil, Ica menaruh kepalanya di pundak Aldo, melingkarkan tangannya di leher Aldo, dan melilitkan kakinya di pinggang Aldo, lalu mereka berjalan keluar dari kantin di ikuti oleh Naya, dan Senja, yang berjalan dengan sejajar. Aldo menggendong Ica bukanlah pemandangan langka bagi siswa-siswi SMA Trisatya, karena Aldo sering memang memanjakan Ica dengan menggendongnya atau kadang menuruti permintaan Ica.
