Oleh: Regina Salzabila
Di sebuah desa dengan suasana yang asri, hiduplah seorang anak perempuan yang kurang mampu dan tidak sempurna, akan tetapi ia sangat rajin dan jenius di sekolahnya.Sekarang ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Ia bernama Sekar. Ketidaksempurnaan yang ia miliki yaitu ia hanya bisa melihat dengan satu mata. Akibat peristiwa kecelakaan pada beberapa tahun silam, membuat Sekar kehilangan penglihatan pada satu matanya.
Di sekolahnya, Sekar memiliki seorang sahabat yang bernama Laskar. Berbeda dengan Sekar, Laskar memiliki latar belakang keluarga yang sangat mampu dan bisa dikatakan bahwa ia adalah primadona di sekolahnya. Namun, perbedaan itu tak menghalangi mereka untuk tetap bersahabat.
Hampir setiap hari, Sekar diolok-olok oleh teman sekolahnya bila Sekar sedang jalan sendirian. Mereka mengatakan bahwa Sekar tak pantas berteman dengan Laskar yang kaya raya dan begitu cantik.
“Oooh…. jadi ini yang katanya bersahabat dengan Laskar yang bokapnya pemilik perusahaan?
“Aduh, kamu tuh ngak pantas bersahabat sama dia. Dia itu cocoknya sama kita, selevel ,ha ha ha ha”, kata mereka dengan nada yang menjengkelkan. Sekar hanya terdiam.
Diamnya Sekar bukan berarti ia cuek dan tidak memikirkan perkataan teman sekolahnya. Setiap hari hal itu terus berputar dalam benaknya. Sekar takut bahwa ia hanya mempermalukan Laskar di sekolah dengan penampilannya yang jauh berbeda dengan Laskar. Hingga pada akhirnya ia memutuskan bahwa ia akan menjauh dari Laskar.
Laskar merasa kebingungan melihat tingkah laku Sekar yang semakin hari semakin menjauh. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya, sikap Sekar sudah tidak seperti biasanya. Laskar pun segera menghampiri Sekar yang sedang duduk sendiri di taman sekolah.
“Sekar, ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau sering terlihat murung dan menyendiri”, tanya Laskar yang masih terheran-heran.
Sekar hanya terdiam dan hampir meneteskan air mata.
Laskar kembali bertanya, “Kamu ada masalah apa? Coba jujur dan ceritakan semua kepadaku”.
“Apakah kamu malu berteman denganku, Laskar?”, tanya Sekar.
“Hey! Ada apa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?! tentu saja aku tidak pernah malu berteman dengan orang sebaik kamu. Jangan berpikiran seperti itu Sekar”, jawab Laskar.
“Kamu berasal dari keluarga yang sangat mampu, jauh berbeda dengan keadaan keluargaku. Fisikmu juga jauh berbeda denganku. Kau adalah primadona di sekolah ini. Aku tak ingin dengan berteman denganku, kau malah dihina oleh satu sekolah. Lebih baik kita berjauh-jauhan saja, ya? Aku juga kehilangan rasa percaya diriku melihat fisikku yang tidak sempurna”, jawab Sekar yang mulai meneteskan air matanya.
Laskar pun segera memeluk erat sahabatnya yang tengah menangis. “Sekar, dengar aku baik-baik. Aku mau berteman dengan kamu bukan karena terpaksa, tapi aku mau berteman dengan kamu itu karena kamu adalah sosok yang sangat baik dan perhatian. Selalu memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Aku nyaman berada di sisimu.Tak pernah sekalipun terpikir olehku untuk merasa malu akan hal itu. Aku malah merasa sangat beruntung bisa mendapat teman sebaik kamu, Sekar”, kata Laskar yang berusaha menyakinkan Sekar.
“Ingatlah, bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna. Tuhan telah menciptakan kita dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tak sepantasnya kita mengeluh dan masih tidak bersyukur atas segala pemberian-Nya. Kita senantiasa harus selalu bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup. Kamu cantik dengan apa adanya dirimu. So, love yourself!”, tambah Laskar.
Mendengar perkataan Laskar yang cukup panjang, Sekar mulai menyadari bahwa tak ada gunanya berpikir seperti itu, dan itu hanya akan memutus silaturahmi. Ia kembali mulai merasa percaya diri atas dirinya. Perlahan, Sekar berdamai dengan isi pikiran dan intuisinya.
Watansoppeng, 30 Maret 2022
