Oleh: Suci Angraini
“Kok adik-adiknya di gituin sih Al, liat tuh mereka hampir pingsan karenamu. Ya sudah, minta maaf pada kedua adikmu, kami akan kembali ke bawah,” ucap Gionandra dan mengajak adik beserta istrinya kembali ke bawah.
“Iyah, ayah,” patuh Aldino
“Maafin Abang yah?” ucap Aldino memelas agar dimaafkan oleh adik kembarnya tersebut.
“Ya udah kami maafin, tapi gak usah gangguin kami tidur, Abang Al yang ganteng,” ucap Venia yang masih memejamkan matanya begitupun dengan Vania.
“Beneran nih? Padahal kan Abang mau ngajak kalian jalan-jalan keluar, beneran nggak mau?” tanya Aldino.
“Hah, pasar malam? Beneran Bang Al mau ngajak kami ke pasar malam?” tanya balik twins dan mengubah posisinya menjadi duduk.
“Iyah, kalau mau ikut cepetan siap-siap, Abang tunggu di ruang perpustakaan,” ucap Aldino berjalan keluar dari kamar twins dan menuju ruang perpustakaan seperti yang Aldino katakan barusan.
“Okhey,” teriak twins saat Aldino sudah tak terlihat lagi di hadapannya.
“Siapa yang duluan mandi?” tanya Venia.
“Mandi? Udahlah, nggak usah mandi, inikan sudah malam, Vania nga inget apa yang udah dibilangin ke kita berdua? Kan katanya kita gak boleh mandi malam,” ucap Venia.
“Oh ya udah. Ayo kita siap-siap di ruang ganti,” ajak Vania.
Sekarang twins sudah siap dengan memakai hoodie berwarna hitam kebesaran sehingga menutupi rok hitam pendek yang mereka kenakan, twins juga memakai topi berwarna hitam, sepatu sneaker putih, dengan rambut yang di ikat.
“Oke sekarang kita sudah siap, ayo samperin Bang Al di perpustakaan,” ajak Vania dan di angguki oleh Venia.
Twins berjalan menuju ruang perpustakaan yang ditempati oleh Aldino, ruang perpustakaan yang ditempati oleh Aldino itu tak lain berada di mansion mewah Gionandra dan berada di tingkat tiga mansion itu.
“Apakah mansion ini harus seluas istana hah? Kenapa perjalanannya sangat jauh. Ini sangat melelahkan,” ucap Vania kesal.
“Astaga Vania, kita baru jalan 10 langkah loh dari kamar,” ucap Venia.
“Emang iya?” tanya Vania.
“Ya Iyalah Van, coba Vania tengok ke belakang, kita belum jauh dari kamar, Vania!” ucap Venia kesal.
Vania pun membalikkan badannya dan benar saja yang dikatakan Venia, mereka memang belum jauh dari kamar mereka.
“Eh iya yah, kita belum jauh jalannya,” ucap Vania tertawa kecil.
“Ya udah. Ayo buruan, kita naik lift aja, ya kali mau naik tangga, emang lantai tiga sampai lantai di atas-atasnya lagi ada tangga buat naik? Nggak ada kan Van, yang ada kan cuman tangga buat naik ke lantai dua,” ucap Venia dan menarik tangan Vania menuju lift yang tak jauh dari depan mereka, Venia memencet tombol lift itu dan seketika lift itu terbuka, twins masuk ke dalam lift itu dan memencet tombol berangka tiga.
Ting.
Lift pun terbuka, twins sudah sampai di lantai tiga yang bernuansa hitam aestetic dan menuju ruangan perpustakaan yang ditempati oleh Aldino.
Saat sudah sampai di depan pintu ruang perpustakaan, Vania memencet tombol yang berada di dekat pintu itu dan secara otomatis pintu itu terbuka dengan sendirinya, dan menampakkan Aldino sedang membaca buku di sofa ruang perpustakaan.
Twins menghampiri Aldino dengan berlari kecil sehingga menimbulkan bunyi langkah yang membuat Aldino menoleh ke arah sumber suara.
Aldino membulatkan matanya kala melihat paha putih dan mulus milik adik-adiknya terekspos dengan jelas, tidak, Aldino tidak tergoda dengan paha putih mulus milik adik kembarnya itu, melainkan Aldino menatap adik kembarnya dengan tatapan tajam.
“Mau ikut Abang keluar jalan-jalan kan?” tanya Aldino lembut.
“Hu’um.” twins mengangguk.
“Terus kenapa nga pakai celana panjang? Kenapa ngebiarin pahanya terbuka kayak gitu? Kalian mau diliatin dengan tatapan menjijikkan sama laki-laki di luar sana hmm?” kesal Aldino.
Twins melihat ke bawah, bukan sedih, tapi twins melihat ke arah pahanya masing-masing.
“Emang ga boleh yah pake rok pendek kayak gini?” tanya twins.
“Yah nga boleh lah, emang kalian mau Abang laporin ke Ayah sama Bunda hmm?” tekan Aldino.
“Tapi kan ayah sama Bunda pasti nggak ngelarang,” ucap twins.
“Kalau Bunda sama Ayah nga ngelarang, Abang tinggal laporin ke Grandma, Grandpa, Uncle, Aunty, Male Cousin, Female Cousin, pasti kalian bakalan nggak di izinin keluar, itupun kalau mau keluar pasti semuanya turun tangan buat nganterin,” ancam Aldino.
Twins yang mendengar ancaman dari Aldino pun langsung menghela nafas panjang. Twins tak akan mau selalu diawasi dan berdekatan dengan orang-orang dingin seperti sepupu-sepupunya.
“Ya udah, iya, kita bakal pake celana panjang, udah kan? Jadi Bang Al nga usah main laporin ke siapa-siapa. Bang Al tungguin kita di lantai satu pokoknya, cape kita naik turun,” ucap twins dan bergegas keluar dari ruangan itu, memasuki lift, dan menuju ke kamarnya.
“Hmmm,” Aldino hanya berdehem menanggapi ucapan adik kembarnya.
Twi’s sudah mengganti rok pendeknya tadi dengan celana kain berwarna hitam, sedangkan pakaian Aldino bisa dibilang kembar dengan twins, tapi bedanya Aldino memakai celana kain berwarna putih.
Aldino sudah mengeluarkan mobil mewah miliknya dari garasi, dan twins sudah menunggu di dekat gerbang, sebelumnya Aldino dan twins sudah meminta izin untuk keluar jalan-jalan dan mereka sudah mendapatkan izin.
Twins tadinya sudah bertemu dengan Angga, twins sangat senang dengan kedatangan Angga, tapi twins juga merasa was-was karena pemilik rumah yang mereka jual sudah datang dan belum mengetahui soal rumahnya yang sudah dijual oleh keponakan kembarnya.
Aldino menghentikan mobilnya di depan adik kembarnya, Aldino turun dan membukakan pintu mobil untuk twins, setelah masuk ke mobil, Aldino menutup pintu mobil belakang yang ditempati twins, Aldino memasuki tempat kemudi dan menjalankan mobil itu dengan santai.
“Kita mau kemana Bang?” tanya twins.
“Kemana aja kalian mau,” jawab Aldino.
“Ya udah yuk kita ke mall punya Abang,” ucap Vania.
“Ngapain?” tanya Aldino.
“Mmm mau beli boneka,” tebak Venia.
“Yah betul, kita ke mall punya Abang buat beli boneka,” ucap Vania.
“Ngapain beli? Kan mallnya punya Abang,” ucap Aldino.
“Jadi geratis nih?” tanya twins.
“Yah, geratis dong,” ucap Aldino.
Tak ada percakapan lagi di antara mereka, twins sedang sibuk menonton film Doraemon di tablet yang memang sudah terpasang di masing-masing jok mobil milik Aldino, sedangkan Aldino sedang fokus mengendarai mobil menuju mall miliknya.
“Kita sudah sampai,” ucap Aldino yang langsung membuyarkan kefokusan twins pada nontonnya.
“Ayo keluar,” ajak Aldino sambil membukakan pintu.
“Ayo” seru Twins dan langsung turun dari mobil.
Saat twins sudah keluar dari mobil, Aldino langsung menutup pintu mobilnya dan menguncinya lewat tombol yang berada di kunci mobil yang ada di tangannya. Aldino langsung meraih kedua tangan adik kembarnya dan berjalan beriringan memasuki mall yang terkenal dengan bangunannya yang begitu besar dan indah sehingga menarik banyak peminat.
Aldino dan Twins berjalan memasuki tokoh boneka yang menyajikan boneka yang beragam, ya kali nyajiin cilok, canda-canda.
Twins sedang mencari boneka yang menarik di matanya, sedangkan Aldino hanya mengekori adik kembarnya.
Twins berhenti saat melihat boneka besar kembar yang menarik perhatiannya.
“Woah, Abang cob… Tidak,” tiba-tiba twins berlari menuju boneka yang tadi menarik perhatiannya dan langsung memeluk boneka besar itu walaupun boneka itu tiga kali lebih besar dari tubuh mereka.
“Hei aku duluan yang melihatnya, itu punyaku,” ucap wanita yang tadinya hampir mengambil boneka itu.
“Tidak! Kami duluan yang mengambilnya, jadi ini bukan milik kalian,” ucap twins pelan dan menunduk karena takut dengan wajah sangar kedua wanita di depannya.
“Menggemaskan sekali, baiklah itu milik kalian,” ucap salah satu dari kedua wanita itu dengan tersenyum lembut kepada twins.
“Ya sudah ayo kita cari boneka lain saja, karena boneka yang tadi kita mau sudah menjadi milik adik kembar menggemaskan ini,” ucap teman dari wanita yang sebelumnya mengatakan bahwa twins menggemaskan.
“See you kembar.”
“See you too kak.”
“Itu aja? Nggak mau ngambil boneka lagi?” tanya Aldino menghampiri twins.
“Ini aja Bang” jawab twins.
“Ya udah ayo keluar.” ajak Aldino.
“Ayo.” ucap twin’s.
“Mau Abang bawain bonekanya?” tanya Aldino saat melihat boneka yang adik kembarnya pilih itu masih berada di rak boneka.
“Nggak usah, biar kita bawa sendiri aja, ya kan Ven?” ucap Vania.
“Iya.” sahut Venia.
“Ya sudah,” ucap Aldino dan berjalan mendahului twins.
Aldino berjalan tapi sesekali memainkan gawainya, dan twins berjalan di belakang Aldino dengan menggendong boneka yang sangat besar itu. Saat mereka berjalan, boneka itu sampai menutup tubuh mungil mereka, dan orang-orang yang berada di mall itu seperti menyaksikan boneka berjalan.
Bruk.
Twins tiba-tiba terjatuh karena saling tabrakan karena tak bisa melihat jalan, twins kesusahan bangun karena boneka itu berada di atas mereka.
Orang-orang yang melihat mereka terjatuh hanya tertawa gemas melihat tubuh mungil si kembar itu sampai tertutupi oleh boneka yang sangat besar dari badannya.
Aldino berbalik karena mendengar suara seseorang terjatuh. Aldino melihat boneka milik twins tergeletak dengan posisi telungkup dan tak melihat twins berada di dekat kedua boneka besar itu.
“Waduh, ngilang kemana nih adek-adek gua,” ucap Aldino khawatir karena tak melihat adik kembarnya.Saking khawatirnya, Aldino langsung berlari tak tentu arah untuk mencari keberadaan twins, sedangkan twins karena sudah pasrah, lelah dan tertidur di bawah boneka besar milik mereka masing-masing.
Orang-orang mengerumuni boneka besar yang tergeletak itu, bukan, lebih tepatnya orang-orang itu mengerumuni twins yang tertidur di bawah kungkungan boneka besar itu. Sangat menggemaskan pikir mereka.
Aldino masih berlari kecil di mall itu karena belum mendapati di mana adik kembarnya. Mata Aldino sudah berkaca-kaca.Saat ini pikirannya tengah kacau. Aldino khawatir adik kembarnya terluka.
