Oleh: Suci Angraini
Sekarang sudah malam, semuanya berkumpul di meja makan kecuali twins.
Ke mana twins? Hanya ada dua kemungkinan yaitu, mereka belum sadar dari pingsannya, atau sudah sadar tapi tertidur.
• Meja makan •
Aldino, Angga, Gionandra, Clara, sudah berada di meja makan dan menyantap hidangan makan malam yang sudah disediakan oleh para Maid.
“Huh, Al, apakah adik-adikmu belum sadar juga? tanya Clara.
“Belum bund,” jawab Aldino.
“Ini semua salahku, andai saja aku tidak menanyakan mereka tentang hal sepele, pasti tidak akan terjadi seperti ini,” ucap Clara menunduk.
“Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu, ini bukan kesalahanmu,” ucap Gionandra kepada istrinya.
“Memangnya kakak ipar menanyakan apa ke mereka sehingga membuat mereka seperti ini? tanya Angga.
“Aku bertanya kepada twins, dari mana mereka, apakah mereka habis keluar, tapi mereka menjawab seperti mereka sedang menyembunyikan sesuatu,” ujar Clara.
“Oh begitu ternyata, sudahlah kakak ipar, jangan mencurigai mereka, lagipula aku yakin kalau keponakan tersayang tidak melakukan hal-hal yang berbahaya” ucap Angga.
“Nah, betul kata Angga, kamu tidak usah berpikiran macam-macam tentang si kembar,” ucap Gionandra.
“Hu’um.” Aldino mengangguk tanda setuju dengan sang ayah dan omnya. Ya walaupun dia juga sedikit meragukan adik kembarnya itu.
“Baiklah, mungkin aku hanya salah sangka,” ucap Clara.
“Ya Sudah, habiskan makanannya,” ucap Clara lagi.
Mereka pun makan tanpa ada yang mengeluarkan suara, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu.
• Ruang tamu •
Setelah selesai makan malam, Aldino berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar twins, sedangkan Gionandra, Angga, dan Clara, sedang duduk dan berbincang di ruang tamu.
“Eh Angga, kapan kamu balik ke Indonesia? tanya Clara.
“Terus, kenapa gak ngabarin kalau mau balik?” tanya Clara lagi.
“Berangkat tadi pagi, sampainya tadi sore, trus langsung ke kantor Bang Gio. Saya gak ngabarin karena mau ngasih surprise, tapi pas nyampe ngga bisa ngasih surprise ke si kembar deh” ujar Angga.
“Sorry Angga, karena aku, kamu nggak jadi ngasih surprise ke twins,” ucap Clara.
“Udah lah, gak papa, ntar kalau mereka sudah sadar, kan masih bisa di surprisin,” ucap Angga.
“Lu mau balik ke rumah lu atau nginep di sini? tanya Gionandra.
“Gua nginep di sini beberapa hari, gua mau habisin waktu sama keponakan kembar gua.” jawab Angga.
“Yaudah, lu mau tidur di kamar mana?.” tanya Gionandra.
“Di kamar tamu.” jawab Angga.
“Ngapain tidur di kamar tamu?, Kan ada kamar khusus buat keluarga Bagaskara yang berkunjung ke sini, gimana sih lu,” ucap Gionandra.
“Trus ngapain nanya kalau gitu,” ucap Angga ketus.
“Ck, gue nanya lo milih kamarnya yang mana, kan kamar khusus keluarga Bagaskara berkunjung ke sini tuh ada 8,” ucap Gionandra sedikit menaikkan nada suaranya.
“Nga usah nanya, gua tahu mana kamar yang gua pilih,” ucap Angga menatap sinis Gionandra.
“Yaudah terserah lu, tapi nanti nga usah teriak-teriak kalau masuk kamar yang lu pilih.” ucap Gionandra ketus.
“Ya udah,” ucap Angga dan beranjak ke ruang tv untuk menonton.
Clara hanya menyaksikan pertengkaran yang disebabkan oleh masalah sepele oleh kedua kakak beradik tersebut.
“Udah kali mas, ngapain pake berantem segala sih, kayak anak kecil aja,” omel Clara.
“Bukan aku yang mulai yang, dia aja tuh yang suka cari masalah,” ucap Gionandra membela diri.
“Sudahlah mas,” ucap Clara menatap tajam Gionandra.
“Ya udah iya,” ucap Gionandra pasrah.
• Room Twin’s V •
Aldino duduk di sofa depan televisi di kamar twins, Aldiano memainkan gawainya, dan juga kadang menatap televisi yang sedang memperlihatkan film aksi.
“Hai, si kembar pingsan atau tidur sih,” ucap Aldino kesal karena sedari tadi menunggu dan twins belum sadar juga, padahal dirinya ingin mengajak twins jalan-jalan keluar.
Karena sudah tak bisa menunggu lagi, Aldino berlari menuju kasur king size yang ditiduri oleh si twi’s, dan langsung melompat ke kasur king size milik twins, langsung memposisikan dirinya di tengah-tengah si twins dengan posisi telungkup dan tangan berada di atas perut si twins.
“Bangun, bangun, bangun bangun, ayo bangun, bangun bangun bangun,” Aldino bernyanyi dan menggoyangkan badan kedua adiknya.
Beginilah Aldino, jika bersama orang yang dia sayang, pasti dia akan terlihat hangat dan melakukan hal-hal konyol yang tidak diduga, tapi sebaliknya jika dia bersama orang lain, pasti dia akan bertingkah seakan tak kenal, sangat irit bicara, dan tak berekspresi.
“Aduh perut gua,” Aldino mengaduh kesakitan karena perutnya yang tiba-tiba di tendang oleh kedua makhluk imut di depannya.
“Waduh waduh, udah gue duga, ini mah bukannya belum sadar, tapi ketiduran,” ucap Aldino geleng-geleng.
“Aha gua punya ide, ide gua pasti berhasil,” ucap Aldino sambil tersenyum miring.
Aldino mempersiapkan diri untuk membangunkan si twins. Aldiano menyalakan speaker yang bermerek B&W yang khusus untuk mendengarkan musik atau dipakai oleh si twins untuk karaoke.
Aldino mendekatkan mic yang tersambung dengan speaker yang tadi dia nyalakan, dan bersiap untuk mengeluarkan suara yang pasti akan membangunkan si twins.
“Ehem ehem, yogurt yogurt, yogurt gratis, siapa mau yogurt geratis, yogurt geratis, cepat ambil sebelum kehabisan, yogurt ,yogurt,” Aldino mengeluarkan suara seperti penjual yang profesional.
Benar saja, si twins langsung terbangun dan celingak-celinguk mencari asal suara tersebut, Aldino berusaha menahan tawanya agar tak keluar sekarang.
“Mana yogurt, aku mau,” ucap twins bersamaan dengan mata yang belum terbuka, tetapi berjalan tak tentu arah seperti orang buta.
Cara Aldino membangunkan twins memang berhasil, tapi itu tak bertahan lama, twins kembali ambruk tertidur di lantai yang dilapisi oleh karpet Rasfur tebal dengan posisi Vania telungkup dan Venia menjadikan punggung Vania sebagai bantalannya.
Aldino bersedekap dada melihat kelakuan kedua adiknya yang benar-benar tak bisa ditebak, Aldino tak akan menyerah. Aldino menghampiri si twins dan mencoba membangunkannya.
“Ayo bangunlah kalian wahai makhluk laknat,” Aldino berteriak di samping telinga si twins, dan itu berhasil membangun kan si twins.
Si twins lalu duduk dan berusaha mengumpulkan semua nyawanya, dan membuka mata bulat indah itu dengan perlahan. Si twins melihat Aldino duduk bersila di hadapan mereka.
“Siapa kau? tanya twins memiringkan kepalanya dengan tatapan polos yang ditunjukkan untuk Aldino.
Aldino tak tahan dengan pertanyaan dan tatapan polos adik kembarnya tersebut, Aldino langsung memeluk erat kedua adiknya dengan gemas.
“Kenapa kalian sangat menggemaskan,” ucap Aldino semakin mempererat pelukannya.
“Ah, tolong, ini pelecehan, tolong kami,” teriak twins dan berusaha melepaskan pelukan Aldino yang sangat erat.
Brak.
Tiba-tiba ada yang mendobrak pintu kamar twins, padahal pintunya tak’ terkunci sama sekali.
“Al ada apa ini? tanya Clara yang berada di ambang pintu dengan Angga dan Gionandra di belakangnya memperlihatkan wajah panik.
“Tolong kami, orang ini sedang melakukan pelecehan kepada kami,” teriak Vania.
Aldino membulatkan matanya sempurna setelah mendengar teriakan adiknya.
Aldino langsung melepaskan pelukannya dan berdiri.
“Apa-apaan, nggak ada pelecehan kok,” ucap Aldino.
“Ouh, Bang Al ternyata, kirain siapa,” ucap twins, karena masih merasa mengantuk, twins kembali menaiki kasur king sizenya dan melanjutkan tidurnya yang terganggu.
“Ada-ada saja kelakuan kalian ini,” ucap Gionandra geleng-geleng kepala.
Aldino tak menghiraukan ucapan Gionandra, Aldiano akan membangunkan twins dengan cara apapun sekarang. Aldino menghampiri adik kembarnya yang tertidur pulas di kasur.
Yang berada di ambang pintu pun hanya menunggu aksi apa lagi yang akan dilakukan Aldino kepada si twins.
Aldino berjalan ke samping kasur yang ditiduri oleh twins, melompat dengan posisi telungkup dan menimpa kedua tubuh mungil twins yang tertidur.
“Huaaaa, bunda, ayah tolong kami” teriak twins.
“Nga ada yang bisa nolongin kalian,” ucap Aldino.
“Aldino turunlah, apakah kau tak melihat tubuh kecil mereka yang tak bisa bergerak karena kau timpa seperti itu,” ucap Angga.
“Benar, turunlah Bang Al, kami tak bisa bergerak dan bernafas karenamu,” ucap si twins melemah.
Aldino yang mendengar suara adiknya melemah, langsung turun dan menatap adiknya yang hampir pingsan karenanya. Rasa bersalah pun langsung muncul di hati Aldino.
