Oleh: Nur Ayu Fakhirah
Diri yang perlahan sembuh dari masa lalu. Luka yang kini hanya bekas. Trauma akan tetap menjadi trauma. Namun, trauma itu hilang sedikit barang sedikit. Bahagia yang dibawa lari oleh seseorang kini mulai timbul bahagia baru.
Pada akhirnya kita menyatu kembali setelah dipisahkan oleh ego. Dirimulah yang layak kusebut rumah. Janji yang selalu kuucapkan, pertanyaan tentang kapan kau kembali yang selalu kulontarkan, kini terjawab. Akhirnya semesta mempertemukan kita kembali setelah proses pendewasaan yang menyakitkan.
Tidak ada kata yang bisa kulontarkan selain kata “Bahagia”. Akhirnya aku menemukanmu di antara ribuan makhluk tuhan. Netraku yang selalu ingin menatapmu, angan-angan yang terus muncul hanya dirimu membuatku cuma bisa tersenyum manis. Entah dari bentala mana kau berasal.
Watansoppeng, 25 Maret 2022
