Oleh: Farah Aprilia Nursyah

Mia berteriak kesal pada Nancy yang baru saja berlari meninggalkannya seorang diri di depan kamar mandi. Selama beberapa waktu, Mia masih berdiri di sana. Ia mengatur nafasnya yang terengah engah karena ketakutan ditambah lagi Nancy meninggalkannya. Suasana menjadi sangat sunyi, dan sejenak jantung Mia rasanya berhenti saking terkejutnya. Pintu kamar mandi dengan perlahan terbuka. Mia lupa bersembunyi, dari tadi ia hanya diam membeku dan ketakutan di tempatnya. Sadar akan hal itu, dengan kakinya yang gemeteran, Mia segera berlari untuk mencari
persembunyian. Ia beberapa kali tersandung kursi karena panik dan tidak bisa melihat apa apa, rumah itu benar-benar gelap gulita. “Tenang..cuma perlu sembunyi..aku cuma perlu sembunyi..” katanya sambil meraba-raba setiap dinding-dinding rumah sebagai tumpuannya untuk berjalan.

Di sisi lain, Ups! Tidak sengaja Nancy menendang gelas kaca berisi air garam yang berada di belakang sofa. “Astaga bikin kaget aja..sembunyi di belakang sofa aja deh!”. Nancy kemudian duduk dengan senter hp di tangannya, namun entah tiba-tiba bulu kuduknya merinding seperti ada seseorang berada di sampingnya, ia perlahan mengarahkan senter hpnya ke arah samping. Oh tidak! Boneka itu berada di sana, bukan kaget lagi, rasanya Nancy mau meninggal di tempat melihat boneka itu berada di sampingnya. Pikir Nancy ia akan mati tertusuk oleh pisau yang dipegang boneka tersebut. Namun ia merasa ada makhluk lain yang hendak masuk ke dalam tubuhnya. Rasa itu menembus pikiran sadar dan bawah sadarnya, seperti ada setengah diri Nancy dan setengahnya orang lain. Ia terus berusaha melawan setengahnya itu namun gagal, dan akhirnya tubuh Nancy dikuasai oleh arwah boneka itu atau kerap disebut kerasukan.

Di samping itu, Mia melihat sebuah cahaya, ya cahaya dari senter hp Nancy yang tergeletak. Ia menghampiri sumber cahaya itu, dan mendapati Nancy hanya berdiri, diam membeku di tempatnya. “Nancy! Akhirnya ketemu..keterlaluan banget sih, tadi kamu tinggalin aku di depan kamar mandi!” Mia terus mengoceh oceh hingga akhirnya sadar dengan apa yang dipegang oleh Nancy.

Sebuah pisau yang seingatnya ditancapkan ke boneka tersebut, berada digenggaman Nancy. Selain itu, hal yang lebih mengejutkan lagi ketika Nancy perlahan berbalik, kedua bola matanya kosong. Mia langsung teringat dengan mimpi Nancy yang melihat dirinya di kamar mandi memegang pisau dengan mata kosong. Nancy benar-benar sangat menakutkan, Mia yakin bahwa Nancy sedang kerasukan arwah boneka tersebut. Diam-diam bertindak, Mia mengambil senter hp Nancy yang tergeletak di lantai agar memudahkannya melihat dalam kegelapan, kemudian tanpa pikir panjang Mia berlari ketakutan meninggalkan Nancy. Nancy berteriak sangat kencang, bahkan jendela kaca mau pecah dibuatnya, ia berlari sambil mengacungkan pisau ke arah Mia. Mia terus berlari sekuat tenaga menghindari Nancy yang terus mengejarnya.Mia berpikir bahwa ia harus bersembunyi karena sudah kelelahan menghindari Nancy, dilihatnya pintu kamar dan kemudian ia masuk, dan sebelum Nancy masuk, Mia berhasil mengunci pintu kamar tersebut. Pintu itu tak henti-hentinya digedor-gedor Nancy, ia juga melantur kata-kata yang tidak jelas. Tidak peduli lagi dengan aturan-aturan dalam permainan konyol ini, Mia menyalakan lampu kamar tersebut dan ia melihat sebuah gelas kaca berisi air garam di depan pintu lemari. Mia sejenak terdiam dan teringat cara untuk mengakhiri permainan ini yaitu dengan cara menyiram boneka dengan air garam. Namun karena arwah boneka itu masuk ke tubuh Nancy, ia berpikir untuk menyiram air garam tersebut ke Nancy.

“Semoga ini berhasil..semoga cara ini berhasil..” ucap Mia berharap dengan cara ini, permainan berakhir dan dan Nancy kembali normal. Tiba-tiba, gedoran-gedoran pintu tadi berhenti, di saat itu juga Mia mendekati pintu itu. Digenggamnya gagang pintu dan perlahan membukanya, benar saja Nancy masih berdiri di sana, bahkan tepat di depan Mia. Tanpa pikir panjang, disiramnya air garam tersebut ke arah Nancy, dan berkata, “aku menang! Diana kalah!” seperti yang kita tahu, Diana adalah nama boneka yang diberikan Mia dan Nancy sebagai identitas boneka tersebut. Sesaat setelah itu, Nancy menggeliat dan meringis kesakitan, Mia tidak tega melihat Nancy seperti ini, ia terjatuh dan menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya Nancy tak sadarkan diri. Pas bangun, Nancy sudah berada di atas tempat tidur. Tidak ada siapa-siapa di sana. Seluruh badannya terasa sakit, rasanya seperti 20 tulangnya patah. Tak lama Mia datang membawa segelas coklat panas. Nancy benar-benar tak ingat apa yang diperbuatnya. Terakhir kali ia ingat, ia berada di belakang sofa. Mia pun menceritakan semua yang telah terjadi saat permainan petak umpet itu berlangsung. Mia menangis, menyesal, dan meminta maaf pada Nancy, karena dirinyalah Nancy harus kerasukan arwah boneka tadi. Seandainya saja ia tidak mengajak Nancy. Tentu saja Nancy memaafkannya Mia, toh dia juga menerima ajakan Mia.

Ketika sang fajar sudah menampakkan dirinya, Mia sudah berada di halaman rumahnya, sebuah tong besi berada di depannya. Di dalam tong besi itu sudah ada boneka dan buku “Nahonja sumbakkojil Petak umpet sendirian” yang telah diberi bensin.Kemudian dibakarnya boneka dan buku itu hingga lenyap menjadi abu. Mia berjanji tak akan pernah melupakan peristiwa permainan petak umpet sendirian ini.

Sekian

Watansoppeng, 19 Maret 2022

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *