Oleh : Nur Ayu Fakhirah

Bel berbunyi ,semua siswa berlarian masuk ke kelas, kecuali aku. Malas, ngga gairah. Aku berjalan dengan gontai. Ada rasa yang masih menyeruak di hatiku. Rasa sesal karena tidak menggunakan kesempatan tadi untuk menyapanya. Itulah kalau terlalu gengsian.

Sampai di kelas aku duduk saja di tempatku dan langsung menjadikan tangan sebagai bantal untuk merebahkan kepalaku. Pelajaran sudah dimulai,tapi  pikiranku masih terus mengawang-awang tanpa bertepi. Kenapa juga sosok adik kelasku itu menguasai hampir separuh dari pikiranku ini. Apa sih istimewanya dia sehingga membuat hati aku kepincut terlalu dalam padanya. 

Aku kan lebih senior dari dia. Harusnya aku tahu kalau tidak mungkin dia punya perasaan sama aku yang notabene adalah kakak kelasnya.Dan bagaimana mungkin rasa kagum itu berubah menjadi ketertarikan sehingga terobsesi untuk bersamanya. Ingin menjadi pacarnya.

Beragam pikiran berkecamuk di otakku hingga tak terasa kalau bel pulang sudah berbunyi.  Aku merasa senang karena itu tandanya aku sudah bisa melihat dia nanti saat pulang. Tapi sayang seribu sayang, aku tidak menemukan sosoknya. Mataku terus mencari kesana kemari, namun bayangannya pun tidak kutemukan. Dimanakah gerangan dirinya? Apa dia tahu kalau aku mulai terobsesi dengannya hingga dia berusaha menghindari aku? 

Tapi rasanya belum ada yang tahu kalau aku menyimpan rasa pada dia. Sahabat-sahabat terdekat aku pun juga kagak ada yang tahu. Aku sibuk dengan pikiranku dan masih terus berharap di jalan nanti bisa bertemu dengannya. Namun harapan tinggallah harapan. Aku tidak menemukan sosok adik kelasku itu.

Sampai dirumah, aku langsung ke kamar. Rasa gundahku masih terus terbawa . Aku melemparkan diri ke kasur yang empuk. Rasanya galau banget. Dimanakah kau gerangan. Aku menyesal sekali tadi di kantin tidak berusaha menyapamu. Akhirnya, beginilah jadinya.  

Aku mulai kepikiran untuk send message to him. Tapi, aku kan perempuan. Masa aku yang mulai duluan. Gengsi dong ah. Nomornya memang sudah aku save. Tidak tahu juga ya dimana aku pertama kali dapat nomor hpnya. Lupa. 

Dengan perasaan yang masih gundah gulana, aku pun memaksa diriku untuk memejamkan mata agar tidak terlalu hanyut dalam rasa yang tidak berkesudahan itu. Capek.

Watansoppeng, 9 Januari 2022

(Visited 33 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *