Oleh : Ulva Mega Puspita

Brukk

Semua buku yang dipegang Fanya terjatuh.  

“Hei, kalau jalan tuh pake mata! untung saja smartphoneku nggak jatuh,” kata Bianca anak manja yang merasa paling berkuasa di sekolah.

 “Maaf, saya gak sengaja,” ucap Fanya.

 ” Lo anak baru ya? ha ha guys kita ada barang bullyan baru nih,” kata Bianca.

  “Bagusnya cewek cupu ini diapain ya?” Kata Dara teman Bianca.

Sementara Fanya hanya diam dan mengambil buku-bukunya yang terjatuh serta mencari kacamatanya. Yang salah bukan Fanya tapi Bianca. Dia jalan sambil bermain smartphone dan tidak menyadari ada orang yang berjalan di depannya. Namun Fanya tak membela diri, dia tak mau memperpanjang masalah. Apalagi dia siswi baru dan belum mengenal siapa-siapa disana. Walaupun benar juga pasti dianggap salah.

“Sekali lagi aku minta maaf ya,” ucap Fanya sambil memakai kacamatanya dan berniat meninggalkan Bianca dan Dara.

“Eh, lo mau kemana? gue belum maafin lo ya,” kata Bianca dengan mengambil kacamata Fanya.

“Kembalikan kacamata saya. Saya kan sudah minta maaf.”

“Tapi gue belum maafin lo. Terus gimana dong?”

“Udahlah Bi ,mendingan lo suruh dia buat traktir kita, gimana?” Kata Dara.

“Ide bagus, tapi kalau cuma traktir kita berdua gak seru. Gimana kalau traktir semua yang ada di kantin?”

” Gue setuju,” kata Dara.

“Oke, sekarang kita bawa cewe cupu ini ke kantin,” kata Bianca menarik tangan Fanya dengan paksa.

Suasana kantin

Attention please ! Guys, hari ini kita kedatangan siswa baru di sekolah kita, dan hari ini dia mau traktir kita semua. Jadi, kalian bebas pesan apa aja, kapan lagi coba makan gratis?” teriak Bianca memanggil semua siswa yang ada di sana.

“Serius Bi? Wah enak dong makan gratis,” teriak salah satu siswa yang ada di sana.

“Ehh, kok kamu ngomong gitu, gak mungkin aku traktir semuanya,” kata Fanya.

“Ya mungkin lah, emang lo gak mau gue balikin kacamata lo dan gue permalukan di depan semua orang?”

 “Jadi sekarang lo pilih mana? traktir kita semua atau jadi bahan lelucon Bianca?” kata Dara.

  Fanya hanya menunduk pasrah. 

 “Hari pertama masuk sekolah sudah dapat masalah,” batin Fanya.

 “Bianca,” teriak Amanda.

 Fanya terkejut. Ternyata dia dan Amanda satu sekolah.

 “Apaan sih?”kata Bianca dengan kesal.

  “Kamu tuh gak berubah ya. Setiap ada anak baru pasti kamu tindas. Mau kamu apa sih?” 

  ” Gue mau lo gak usah ikut campur urusan gue !” kata Bianca dengan menunjuk ke arah Amanda.

  “Ini juga urusan aku, karena aku gak suka kamu seenaknya di sekolah ini!”

  “Emang lo siapanya dia hah?”

 ” Dia sahabatku. Kalau kamu masih gangguin dia, aku akan laporkan kamu ke kepala sekolah. Sekarang balikin kacamata Fanya.” 

Bianca hanya diam dan memberikan kacamata Fanya yang dari tadi berada di genggamannya.

“Ayo Fan kita ke kelas, kamu gak usah ladenin Bianca. Kamu juga gak usah traktir mereka,” kata Amanda dengan memegang tangan Fanya dan meninggalkan Bianca dan teman-temannya. Fanya hanya mengangguk.

“Sial si Amanda, berani-beraninya dia ngelawan gue.”

“Yah.. apaan sih Bianca, sama Amanda aja takut. Gak jadi makan gratis deh,” teriak salah satu siswa yang ada di sana.

“Eh diam lo ,” kata Bianca.

 “Bi, kayaknya lo harus kasih pelajaran sama Amanda. Ini sudah kesekian kalinya dia gagalin rencana kita.”

Up to you !” kata Bianca pergi dengan perasaan malu.

  Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Sementara Amanda dan Fanya berjalan menuju taman sekolah.

“Fan, setelah sepuluh tahun, akhirnya kita bisa ketemu dan satu sekolah lagi,” kata Amanda tanpa sengaja meneteskan air mata.

“Iya Man, aku senang banget, dan makasih yah, tadi kamu udah nolongin aku. Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah traktir semua orang,” kata Fanya.

Take it easy ! kita kan sahabat. Oh iya ,selamat datang di SMA Garuda! Semoga kamu betah sekolah disini. Dan soal tadi, Bianca dan Dara, mereka tuh cewek ngeselin yang sok berkuasa di sekolah ini. Dia suka bully anak baru kayak kamu”.

“Hebat ya kamu Man bisa lawan mereka.”

“Sebenarnya sih Bianca bisa saja tadi nampar aku seperti yang kemarin-kemarin pas aku gagalin rencana mereka sampai aku masuk UKS, tapi waktu itu aku laporin kelakuan Bianca ke kepala sekolah dan kepala sekolah ancam Bianca kalau dia gak berubah, mereka bakalan di keluarin dari sekolah.”

“Aku pikir dia sudah berubah, tapi ternyata belum. Seperti tadi aku bisa saja laporin Bianca ke kepala sekolah biar dia langsung di keluarin dari sekolah ini,” lanjut Amanda.

“Seharusnya sih mereka memang harus dihukum untuk beri efek jera,” kata Fanya.

Fanya dan Amanda kembali bersahabat setelah sepuluh tahun berpisah, ketika ayah Amanda harus pindah kerja Jakarta. Persahabatan mereka semakin erat dan akhirnya Amanda berhasil mengubah Fanya yang lugu dan cupu menjadi gadis yang pemberani seperti dirinya. Berkat mereka berdua, akhirnya Bianca dan Dara dikeluarkan dari sekolah.

Hari ini tepat 121 hari persahabatan Fanya dan Amanda. Kebetulan hari ini hari minggu, mereka libur.

Smartphone Fanya berdering. Rupanya telepon dari Amanda. Fanya pun mengangkat teleponnya,”Halo,” sapa Fanya.

“Fan, hari ini kamu sibuk gak? kamu ke rumah temenin aku yah, soalnya papa sama mama lagi keluar. Aku bosan sendirian di rumah,” ajak Amanda.

“Emm boleh, tapi bikinin aku kue yah, hehe”.

 “Sip dah pokoknya, aku tunggu kamu yah dah,” kata Amanda dengan menutup teleponnya.

Setelah setengah jam, akhirnya Fanya sampai di rumah Amanda. Mereka membicarakan banyak hal sampai lupa waktu, dan jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.

“Ya ampun, ini udah jam 5 sore. Kita ngobrolnya lama banget. Aku pamit pulang dulu yah Man, nanti mama nyariin aku.” Kata Fanya pamit ke Amanda.

“Iya Fan, makasih yah udah nemenin aku. Bentar lagi papa sama mama juga pulang.”

“Aku pulang dulu yah, dah. Titip salam sama mama papa kamu,”

“Yaudah, hati-hati yah. kalau sudah sampai Wa aku.”

Fanya pun berjalan kaki menuju rumahnya .Kebetulan jarak antara rumah Amanda dan rumahnya tidak terlalu jauh. Namun ditengah perjalanan, ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Fanya.

Pip Pip Brakkkk

Tubuh Fanya terjatuh dan berlumuran darah. Pengendara mobil tersebut kabur. Banyak warga yang melihat kejadian itu dan segera membawa Fanya ke rumah sakit. Sementara warga yang lain mengejar mobil tersebut.

Suara smartphone Amanda berdering. Rupanya telepon dari ibu Fanya. Amanda gegas mengangkatnya,”Halo tante ini Amanda,ada apa yah?” tanya Amanda penasaran.

“Ha-halo nak Amanda, Fa-Fanya kecelakaan, ketabrak mobil dan sekarang kondisinya kritis, tante ada di rumah sakit,” kata ibu Fanya dengan menahan tangisnya.

“Apa? iya tante ,sekarang Amanda ke rumah sakit,” jawab Amanda. Sekujur tubuh Amanda mendadak jadi lemas dan dadanya terasa sesak, namun ia berusaha tegar dan segera ke rumah sakit.

1 minggu kemudian…

Setelah Fanya benar-benar pulih, akhirnya dia kembali ke sekolah.

“Pagi Nis,” sapa Fanya kepada Nisa teman kelasnya.

“Pagi Fan, syukur deh kamu sudah bisa kembali ke sekolah.” 

“Alhamdulillah, Amanda belum datang yah?”

“Loh Fan, kamu kan sahabat Amanda, masa kamu gak tahu?”

“Emangnya Amanda kenapa?”

“Amanda sudah meninggal seminggu yang lalu.  Kata mamanya dia mengidap penyakit Leukimia. Amanda gak pernah cerita ke kamu yah?”

Tubuh Fanya meluncur dengan lembut ke lantai setelah mendengar kabar kematian sahabatnya.Sesak di dada menyerang Fanya hingga tak sadarkan diri. Nisa pun meminta bantuan teman-teman yang lain untuk membawa Fanya ke rumah sakit.

Suasana rumah sakit

Setelah 1 jam di rumah sakit, akhirnya Fanya sadar,

“Fanya, akhirnya kamu sadar nak, mama khawatir,” kata ibu Fanya yang tak kuasa menahan air matanya.

” Ma, Amanda sahabat Fanya, sahabat masa kecil Fanya, meninggal tanpa sepengetahuan Fanya,” Fanya sangat hancur, bagaikan raga tanpa jiwa.

“Nak, maafin mama, mungkin ini saatnya kamu harus tahu. Seminggu yang lalu, saat kamu mengalami kecelakaan, dokter mengatakan kalau hanya ada satu harapan untuk bisa menyelamatkan hidup kamu yaitu mencari seseorang yang mau mendonorkan jantungnya untuk kamu, karena jantung kamu sudah lemah, dan di saat itu juga Tuhan mengirim Amanda, seorang malaikat yang bersedia untuk mendonorkan jantungnya untuk kamu nak,” kata ibu Fanya dengan memeluk tubuh putrinya.

“Kenapa mama izinin Amanda untuk lakuin itu ma? kenapa? lebih baik Fanya yang mati ma,” Fanya melepaskan pelukan ibunya. Air mata meluncur dari pipi Fanya. Wajah yang pucat dan jantung yang sesak membuat perasaan Fanya hancur. Apa dia bisa hidup tanpa kehadiran Amanda, sahabat yang telah mengubah hidupnya?

“Fanya gak bisa hidup tanpa Amanda ma, gak bisa! kenapa Tuhan jahat sama Fanya? Waktu kecil Tuhan memisahkan Fanya dari Amanda dan setelah sepuluh tahun akhirnya kami bisa bersahabat lagi dan sekarang Tuhan mengambil Amanda,” Fanya terus menangis hingga ibunya berusaha untuk menenangkannya.

“Kamu yang sabar nak, sekarang Amanda sudah tenang disana. Amanda pasti sedih lihat kamu menangis seperti ini. Tapi sebelum Amanda meninggal, dia menitipkan surat ini untuk kamu.”

Fanya pun membuka suratnya dan membacanya.

Isinya:

Fanya sahabatku, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk 121 hari persahabatan kita. Terima kasih atas 121 hari yang telah kita habiskan bersama dengan suka maupun duka. Aku tak menyangka, ternyata hari ini adalah hari terakhir kita bersama dan aku harus mundur menghadapi kehidupan ini. Aku tahu kamu gadis yang kuat, kamu tidak boleh menangisi kepergianku. Kamu harus bisa berdamai dengan kenyataan. Aku akan menepati janjiku untuk sahabatku, jantungku akan selalu bersama kamu. Jantungku akan berdetak di tubuhmu mengiringi setiap helaian nafasmu. Jangan pernah merasa bersalah atas kepergianku dan maaf aku telah merahasiakan penyakitku darimu. Selama ini aku mengidap penyakit leukimia dan tidak ada harapan lagi untuk aku bertahan hidup. Fanya, you are best friend. Aku menunggumu di surga.

Amanda,

Jakarta, 10 Desember 2020

Fanya terus menangis sambil memeluk surat terakhir dari Amanda. Ia tak menyangka akan menemukan sahabat setulus Amanda yang rela memberikan jantungnya untuk sahabatnya.Amanda telah mengajarkan banyak kisah untuk Fanya. Keesokan harinya, setelah Fanya keluar dari rumah sakit, ia dan ibunya berziarah ke makam Amanda.

“Seharusnya aku yang mati Man, bukan kamu,” Fanya meneteskan air mata di dekat makam sahabatnya.

Amanda sudah tiada. Itulah fakta menyakitkan yang harus Fanya hadapi saat ini. Kini Fanya harus menjalani hari-harinya tanpa Amanda. Kini Amanda telah tenang di surga dan tidak ada lagi senyuman manis di bibirnya yang membuat Fanya merasa aman.

Sahabat adalah seseorang yang selalu mengulurkan tangannya ketika semua orang berusaha menjatuhkanmu.

(Visited 38 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *