Sebelum kita masuk ke pembahasan, sahabat perlu tahu bahwa menulis itu penting, loh! Mengapa menulis itu penting?

Sebut saja namanya Kak Kautsar. Saat duduk di bangku SD, dia pernah menuliskan pada lembar tugas bahwa dia ingin kuliah di Jepang. Mungkin karena ayahnya bekerja di perusahaan Jepang, ya?

Setelah lulus SMA, ternyata Kak Kautsar tidak berhasil masuk ke PTN favorit. Dengan segala “drama” setahun menganggur, akhirnya takdir membawa Kak Kautsar magang sambil kuliah di Jepang.

Pada suatu hari, dia membereskan kamarnya. Dia menemukan tumpukan kertas tugas-tugas sekolahnya dulu. Dia pun menemukan kertas itu, kertas di mana tertulis “Aku ingin kuliah di Jepang” disertai beberapa gambar ilustrasi yang diberi warna-warni krayon.

Itulah kekuatan menulis. Mau jungkir balik mendaftar kuliah ke PTN favorit pun tidak akan diterima. Mengapa? Karena semesta membimbingnya pada apa yang pernah dia tuliskan, yaitu kuliah di Jepang.

Aku pun punya cerita sendiri, meskipun tidak sedahsyat Kak Kautsar. Maklum, aku kan masih SMP.

Saat berada di bangku SD, guruku pernah bertanya, “Cita-citamu kalau sudah besar mau jadi apa?”

Dengan bangga aku menjawab, “Jadi penulis, Bu!”

Tahu dong kalau di sekolah kita belajar menggunakan buku paket? Ya, yang gratisan itu. Walaupun ada beberapa buku paket yang isinya kurang menarik, aku selalu penasaran dengan sampul belakangnya. Biasanya di situ tercantum profil si penulis buku. Wah, ternyata para penulis buku itu hebat-hebat, ya?

Aku pun mulai belajar menulis di buku kosong. Ide-ide yang melintas di kepala kutuliskan menjadi kisah-kisah yang berbeda. Wajar sih, karena belajar autodidak, tulisan yang aku buat masih banyak kesalahan dan kekurangannya.

Suatu hari, aku mengunduh aplikasi Wattpad. Remaja zaman now pasti sudah familiar dengan aplikasi tersebut. Di Wattpad, aku mulai menghabiskan waktu membaca beberapa judul cerita. Dari situ, keinginanku untuk menulis bangkit kembali.

Pada suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan salah satu penerbit yang telah menerbitkan banyak buku. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengirim naskah tulisanku. Di luar dugaan, naskah tersebut diterbitkan pada bulan Agustus yang lalu.

Bukan hanya keajaiban bagi diri sendiri, menulis pun bisa bermanfaat bagi orang lain. Apa yang kita tuliskan mungkin sepele, bahkan dianggap tidak mungkin menjadi kenyataan. Namun, ketika sudah dituliskan, ia akan “hidup”.

Ya, misalkan kita menulis. Kemudian, tulisan tersebut kita posting di media sosial dan dibaca oleh banyak orang. Mereka mendapat manfaat dari tulisan kita. Begitulah tulisan kita “hidup” dan bermanfaat bagi banyak orang.

Adakah orang yang sudah pergi meninggalkan kita, meninggal dunia, namun dirinya seolah-olah masih ada di sekitar kita? Jawabannya ada. Ya, mereka adalah para penulis. Karya-karyanya tetap abadi dan dibaca oleh banyak orang. Karya-karyanya telah mengubah peradaban.

Lalu, apakah menulis itu sulit? Aku pikir tidak. Dari pengalamanku, setidaknya ada empat hal sederhana yang dapat kita lakukan agar berhasil menulis.

Pertama, agar bisa menulis, kita harus banyak membaca. Salah satu penulis buku fiksi best seller pernah mengatakan, “Penulis yang hebat adalah pembaca yang luar biasa.” Jadi, perbanyaklah membaca. Setelah itu, kamu akan mendapat banyak ide tulisan. Bahkan, kamu akan banyak mendapat inspirasi untuk memperkaya isi tulisanmu.

Kedua, mulai menulis dengan genre yang kamu suka. Ide tulisanmu akan mengalir karena kamu menuliskan apa yang kamu suka dan dengan cara yang kau suka. Kamu pun bisa mendapatkan banyak inspirasi tulisan karena bahan-bahannya ada di sekitar dirimu, dalam keseharianmu.

Ketiga, perhatikan penggunaan kata dan tanda baca dalam menulis. Jika kata-katanya tepat dan tanda bacanya rapi, orang akan nyaman membaca tulisanmu dan mengerti apa yang kamu tuliskan. Mulai sekarang, cobalah lebih akrab dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), keduanya tersedia secara daring.

Keempat, menciptakan suasana yang menyenangkan saat menulis, terutama ketika rasa bosan menyergap. Tentunya setiap orang punya kebiasaan masing-masing. Untuk menghilangkan rasa bosan, ada yang berhenti sejenak menonton tv atau YouTube, ada yang jalan-jalan ke taman kota, ada yang beli jajanan kekinian, atau ada yang lebih suka mendengarkan musik seperti aku.

Kalau mendengarkan musik, pastikan playlist kamu berisi penyanyi dan lagu favorit. Kadang perlu juga untuk menyesuaikan genre musik yang kamu dengar dengan jenis tulisan yang sedang kamu buat. Selamat mencoba! []

(Visited 48 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *