flashback
Pagi itu, Jerry berangkat ke sekolah lebih awal dari siswa-siswi lain. Jerry berjalan ke sekolah membawa setumpuk buku di tangannya.
Sesampainya di sekolah, Jerry langsung berjalan ke arah perpustakaan. Jerry mengambil kunci dari dalam sakunya lalu membuka pintu perpustakaan.
Setelah pintu sudah terbuka, Jerry masuk. Dia meletakkan setumpuk buku yang dibawanya di atas meja. Banyak sekali buku yang dia bawa.
Jerry menuju barisan rak buku. Isinya berantakan. Biasa, anak sekolah kalau mengambil buku seenaknya. Setelah itu, disimpan di sembarang tempat, bukan dikembalikan ke tempatnya semula. yang berantakan. Seakan tanpa beban, Jerry merapikan susunan buku-buku di raknya masing-masing.
Sesaat kemudian Bu Widya yang bertugas sebagai penjaga perpustakaan datang dan menyapa Jerry.
“Pagi, Nak Jerry!” sapa Bu Widya.
Mendengar itu, Jerry berbalik. Ternyata Bu Widya sudah duduk di kursi kerjanya.
“Pagi juga, Bu!” Jerry pun kembali merapikan sisa buku yang masih berantakan.
“Nak Jerry, Ibu berterima kasih pada Nak jerry karena selalu membantu Ibu merapikan dan menyusun buku-buku yang ada di sini.”
“Sama-sama, Bu. Lagian, aku seneng bisa ngebantu Ibu ngerapihin buku-buku di sini. Setiap aku mau minjem buku, Ibu selalu minjemin. Ibu juga selalu ngebantu aku. Jadi, sudah seharusnya aku ngebantuin ibu juga.”
Bu Widya tersenyum kagum mendengar pernyataan Jerry.
“Oh iya Nak Jerry, Ibu mau nanya. Boleh?”
“Silakan. Tanya apa, Bu?”
“Ibu dengar kamu tinggal sendirian, ya?”
“Oh… iya, Bu. Saya nge-kost di dekat sekolah.”
“Kenapa?”
Jerry berhenti sejenak. Kedua tangannya nampak bersandar pada rak buku. Seperti sedang berpikir tentang jawaban atas pertanyaan Bu Widya. Lalu, dia pun kembali merapikan isi rak buku.
“Karena saya hanya tinggal sendiri, Bu.”
“Maksud Nak Jerry bagaimana?”
“Orang tua saya meninggal karena kecelakaan. Mobilnya terjun ke jurang. Saat itu, umur saya masih umur sepuluh tahun. Kebetulan saya dan kakak saya tidak ikut, di rumah aja.”
“Terus, kakak kamu sekarang di mana?”
“Lima tahun yang lalu kakak saya meninggal, Bu. Kakak bunuh diri saat saya masih berumur 13 tahun.”
“Oh, Ibu minta maaf ya, Nak Jerry…”
“Gak papa kok, Bu. Bagi saya, Ibu adalah orang yang paling dekat. Jadi, saya sudah menganggap Ibu sebagai keluarga saya sendiri.”
Sedikit lagi rak buku perpustakaan akan rapi. Saat menarik sebuah buku, secarik kertas jatuh dari dalam buku tersebut.
Jerry mengambil kertas itu dan membukanya. Saat membaca isi dari kertas itu, Jerry menggertakkan gigi-giginya. Dia melipat kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
Jerry membuka buku itu. Lagi-lagi ekspresi wajahnya berubah. Namun, tidak ada yang memperhatikan. Jerry memegang buku itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merapikan sisa buku di rak.
Setelah selesai merapikan buku-buku di rak, Jerry berjalan ke arah Bu Widya.
“Bu, saya pinjam buku ini, ya?”
“Tumben cuma satu? Biasa kamu pinjam lebih dari lima? Terus kamu suka pinjem buku yang tebal-tebal gitu. Ibu sampai heran, kok dengan entengnya kamu membawa buku sebanyak itu. Tapi baiklah…”
“Terima kasih, Bu.”
Jerry berjalan menuju kelasnya. Sebuah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan tersebut digenggamnya erat.
*
Di dalam sebuah ruangan, di bawah cahaya lampu, terlihat seorang laki-laki dengan kain yang menutupi wajahnya. Dia duduk di sebuah kursi dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat.
“Hai! Apakah kau mengenali suaraku?”
Seorang laki-laki misterius muncul dari balik pintu dan perlahan mendekati laki-laki yang terikat itu.
“Siapa itu? Gue di mana? Woy, lu siapa?”
Laki-laki bernama Lude tersebut setengah ketakutan. Badannya yang tinggi besar digerak-gerakkan, berharap ikatan kaki dan tangannya bisa terlepas.
“Wah, Lude… Kau tidak mengenali suaraku?”
Laki-laki misterius itu berjalan mendekati Lude. Kemudian, dia melepas kain yang menutupi wajah Lude. Seketika itu juga raut wajah Lude semakin ketakutan, seakan-akan sedang melihat hantu.
“K…kau!! Bagaimana mungkin?” Lude setengah berteriak.
“Apa yang tidak mungkin? Kamu pikir aku akan di sana selamanya?” Laki-laki misterius itu berkata sinis.
“K…kau!! Mengapa kau ada di sini?” Lude menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, tetapi tubuhnya terikat erat.
“Memangnya aku harus ada di mana? Di dasar laut bersama ikan-ikan?”
Laki-laki misterius itu berdiri santai di samping Lude.
“Lihatlah teman-temanmu!”
Lampu di separuh ruangan menyala. Pantas saja dari tadi Lude mencium bau amis darah dan bau bangkai membusuk.
Empat mayat tergantung di ujung depan ruangan tersebut. Itu mayat teman-temannya. Lude kaget bukan kepalang. Perutnya mendadak mual dan ingin muntah melihat kondisi mayat-mayat tersebut.
“Kau akan menyusul mereka, hahahah!”
Seketika itu, sebilah pisau menancap di tangan Lude.
“Aaaarrggghh…!!!”
“Hahaha… Sakit, ya? Ah, belum lah… Kamu kan kuat?” Laki-laki misterius itu mengulum senyum yang mengerikan
“A…ampun, a…aku.. minta… maaf… Jangan bunuh aku…”
“Minta maaf? Ampun? Heh, apakah kamu pernah berpikir bagaimana kehidupanku dan kakakku, hah? Apakah kamu tahu penderitaannya, hah?”
Laki-laki itu mengambil pisau kedua dan menancapkannya ke tangan Lude yang lain. Lagi-lagi Lude mengerang kesakitan.
Laki-laki itu berjalan ke sebuah lemari es berukuran besar. Perlahan dia membuka pintunya. Lude terkejut melihat isi lemari es tersebut.
“Kak, lihatlah! Aku membawakan pelaku lainnya. Lihatlah!” ucap sosok itu sambil mengelus wajah sesosok mayat beku.
Sosok dalam Lemari es itu adalah kakak Jerry yang bernama Jefry. Jefry masih memakai pakaian saat pembunuhan terjadi
“Jerry, lepasin gue!” teriak Lude.
“Ssst, jangan berisik! Nanti kakakku bangun…”
Sosok laki-laki misterius itu ternyata Jerry.
“Gila kamu, Jerry!”
“Ya, aku sudah gila. Aku gila karena ulah kalian. Kalian yang membuat kakakku meninggalkanku!”
Jerry pun mengambil pisau ketiga. Dia mengarahkan pisau itu ke lengan Lude lalu menarik pisau itu dari bahu sampai telapak tangan Lude dengan sekali tarikan.
Darah bercucuran dari bekas sayatan tersebut. Karena banyak darah yang keluar, kesadaran Lude mulai samar-samar.
Sebelum Lude kehilangan kesadaran sepenuhnya, Jerry kembali menyayat tangan yang satunya menggunakan pisau yang sama. Jerry tertawa puas saat melihat mangsa di depannya berada di ujung kematian.
Jerry berjalan perlahan ke sisi kanan. Ruangan itu sungguh mengerikan. Kedap suara. Sekuat apa pun orang berteriak di situ, tidak akan ada orang yang mendengar di luar sana.
Sejumlah pas foto tergantung di samping lemari es tempat jasad kakaknya disimpan membeku. Beberapa foto sudah ditandai dengan tanda silang. Bukan menggunakan tinta atau spidol, melainkan goresan darah.
Sebuah pas foto laki-laki menjadi pusat perhatian Jerry. Kepalanya bulat. Rambutnya sudah menipis di bagian atas, namun masih terlihat tampan. Postur tubuhnya nampak tinggi besar dan kekar. Seperti sebuah foto yang diambil dari profil akun media sosial. Senyumnya menarik, menebar pesona. Tetapi, Jerry tahu semua itu palsu.
“Selanjutnya giliranmu, Geno. Semoga kau siap…”
Jerry membuat coretan silang menggunakan ujung pisau yang berlumuran darah Lude pada foto tersebut.
“Tinggal Geno dan Radit. Persiapkan dirimu. Aku akan datang mengampirimu, hahaha…!” Tawa Jerry bergema di seluruh ruangan.
Jerry berjalan ke luar ruangan. Dia meraih ponsel dan menelepon seseorang. Singkat saja pembicaraannya. Dia pun masuk dan menutup pintu ruangan itu.
Nampaknya yang ditunggu sudah datang. Jerry berjalan perlahan ke arah pintu depan bangunan tua tempatnya beraksi. Sudah ada seorang laki-laki menunggunya.
Jerry tersenyum tipis padanya. Dia pun melangkah ke arah sebuah mobil yang sudah terparkir tidak jauh. Laki-laki itu mengangguk dan mengikutinya.
Jerry duduk di jok belakang. Dia memberi isyarat pada sopirnya. Mobil itu pun melaju perlahan menuruni bukit menuju rumah kost-nya. Ya, rumah kost seorang pelajar kutu buku yang biasa orang temui di perpustakaan sekolah.
Keesokan harinya, Jerry pergi ke sekolah seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, di balik gayanya yang culun dan kacamatanya yang tebal, sekilas terlihat senyum yang misterius dan mimik wajah yang mengerikan.
To.. be..Continue
Nama : Muh.irwan ali
Kelas : X
Asal sekolah : SMA Haji Agus Salim
Kabupaten : Kolaka Utara
