Fadhil tak marah disamakan dengan hantu. Ia malah mematut
tampangnya jadi seram. Mata melotot, lidah terjulur dan kedua tangan
diangkat seperti hendak menangkapnya.
“Auuuuuw, takuuuut! Ada hantuuu!” seru Aulya heboh.
Para perawat pun mendadak heboh. Karena Fadhil seperti serius
berlagak hendak menangkap Aulya. Jadi Aulya berlari memutari
ranjang, bahkan akhirnya keluar ruangan. Mereka baru berhenti kejar-
kejaran, setelah Suster Kepala datang.
“Kalau gak berhenti, nanti dipasang infus lagi!” ujar Suster Kepala.
“Ampuuuun! Jangan diinfuuuus!” teriak Fadhil dan Aulya.
Keduanya kembali ke kamar dan patuh berbaring kembali di
ranjang masing-masing. Tak lama kemudian terdengar gelak tawa
keduanya. Para perawat hanya bisa geleng kepala sambil menahan geli
juga. Kelakuan mereka memang lucu dan menggemaskan.
Dua pekan mereka dirawat di rumah sakit daerah itu. Hingga suatu
hari mereka harus berpisah.
“Fadhil sudah sehat nih, Aulya,” kata Umi Fadhil. “Kami pulang
dulu, ya. Aulya cepat sehat, ya, biar segera pulang.”
“Kapan-kapan semoga kita ketemu lagi, ya Aulya,” ujar Fadhil saat
menyalaminya.
Aulya hanya mengangguk sedih. Seharian itu ia menangisi
perpisahan mereka. Ia takkan melupakan pertemanannya dengan anak
laki-laki itu. Hingga bertahun-tahun kemudian.
Kini Aulya berada di sebuah kamar 5×5 meter berwarna abu-abu
muda dengan lampu pualam satu di tengah ruangan. Di sekelilingnya
ada kasur cukup untuk dua orang, lemari kayu, kaca yang basar untuk
seluruh badan. Meja belajar dan lemari besar, memenuhi satu bagian
dinding kamar.
Belakangan ini pikirannya selalu ke hari-hari diopanme karena
thypus. Sekamar dengan anak laki-laki bernama Fadhil. Namun, ia tak
bisa mengingat lagi wajah Fadhil dan ibunya. Kenangannya saja yang
masih terpeta di memori otaknya. Kesal ia dibuatnya, terbawa pula ke
sekolah. Ia sudah duduk di bagku kelas dua SMP. Terkenal jago melukis
dan mahir mengarang.
“Haiiiish, ini gimana sih…. Kok teringat terus sama tuh anak!”
gerutunya sebal sendiri. Braaaak!
Tanpa sadar tangannya menggebrak meja. Untung lagi istirahat.
Hanya ia malas keluar kelas.
“Yaelah, masa pelajaran begitu saja gak bisa sih?” Fatih
menghampirinya
“Bukan pelajaran favoritmu ini,” sanggahnya menggeser buku IPA
di hadapannya. “Aku teringat terus sama seseorang….”
“Cieeee, cieee…. Cowok yeee!” ledek Fatih.
“Pssst, jangan suudon dulu.”
“Jadi siapa orang yang sudah meneror otak Sang Penulis ini?”
‘’Saat aku kelas satu SD di kampung. Aku diopname dan sekamar
dengan anak bernama Fadhil.Tapi aku lupa sama sekali tampang tuh
anak….”
“Syeeet dah! Hanya teman sekamar diopname, ya? Buat apa
mengingatnya terus?”
“Aku hanya ingin bertemu lagi dengannya. Apa dia masih hidup,
eh! Penyakitnya termasuk langka. Hemofilia, aku sudah browsing.
Ternyata itu kelainan darah bawaan, hanya diidap lelaki. Penasaran saja
sih….”
“Hemofilia, ya, itu cacat genetik bukan penyakit,” tukas Fatih,
tertegun.”Eh, kenapa kamu gak tanya ibumu saja?”
“Umi juga sudah lupa.”
“Kenapa gak didatangin saja rumah sakitnya? Datanya tentu
masih ada.”
“Ini sudah hampir delapan tahun, Fatih. Lagian jauh harus ke luar
kota.”
“Oh, begitu.”
“Aku sudah memikirkannya, tapi tempatnya jauh dan aku
sendirian…”
Beberapa hari kemudian Aulya jumpa kembali dengan Fatih. Ia
bilang ayahnya sudah mendatangi rumah sakit itu. Namun, mereka tak
lagi menemukan data pasien yang telah bertahun-tahun silam.
“Jadi buntu nih,” kesah Aulya.
Tiba-tiba Fatih menepuk dahinya sendiri. Plaaak!
“Ada apa?” tanya Aulya keheranan.
“Aulya, kamu itu kan penulis hebat di sekolah kita. Kenapa kamu
gak tulis saja pengalaman kalian dulu di rumah sakit itu?”
“Terus. Terus?”
“Kirimkan ke koran atau majalah, media sosial….”
“Ehm, kira-kira judulnya apa, yaaa?”
“Hmmm, apa ya? Gimana kalau; Aulya Mencari Fadhil?”
“Kira-kira bakal dia baca gak, ya?”
“Yaaaah, namanya juga ikhtiar.”
“Benar, ya. Manusia ikhtiar Allah yang menentukan.”
“Semangaaaat!” seru Fatih ketika mereka berpisah siang itu.
Di belahan bumi lain, ribuan kilometer jaraknya. Seorang remaja
sedang terbaring, diinfus di sebuah rumah sakit. Seumur hidupnya ia
harus diinfus trombosit secara berkala. Tiap tiga hari sekali ia harus
berurusan dengan rumah sakit. Rutnitas pengobatan itu nyaris
membuatnya bosan dan putus asa.
Saat ini ayahnya yang seorang Diplomat, membawanya ke rumah
sakit Internasional di Singapura.
“Kalau gak lihat pengorbanan Umi dan Abi, rasanya kepingin
menyerah saja,” keluhnya sambil menatap trombosit yang menetes
cepat melalui selang infus.
Tiba-tiba matanya menatap tajam ke salah satu judul kumpulan
cerpen di tangannya. Buku itu kiriman neneknya di Sumedang. Ada
sebuah judul cerpen; Aulya Mencari Fadhil. Sementara kumpulan
cerpen ini adalah karya para pemenang Lomba Menulis Anak Indonesia.
“Ini karya Aulya Pribadi, siswa kelas dua SMP Negeri 5, Jakarta,”
gumamnya sesaat membaca biodata para penulis.
Seketika bola matanya membesar, dia terlonjak, kaget dengan
hasil temuannya.
“Umiiii, Umiii….Sini, sini, baca cerpen ini, Mi,” panggilnya ke arah
ibunya yang selalu menemaninya saat harus ke rumah sakit.
“Ada apa, Nak, sakit?” bergegas ibunya menghampirinya.
“Bukan, Umi,” sanggahnya kepada ibu yang telah melahirkannya
dan hanya dia satu-satunya keturunannya.”Ini, Mi, ceritaku dulu waktu
diopname di Sumedang. Umi masih ingat gak sama anakperempuan
teman sekamarku?”
“Ya, masihlah. Karena kamu kan sering bilang; Fadhil gak mau
mati dulu. Kepingin ketemu kembali dengan Aulya….”
“Eh, iya, iya, begitu,” tukasnya tersipu-sipu.
Tanpa sadar ada butiran bening menetes dari sudut-sudut
matanya.”Aulya masih mengingatku, Umi. Ajaib bangeeet….”
Umi Fadhil segera menghubungi suaminya. Tak berapa lama
kemudian Diplomat itu datang. Ia pun membaca tulisan Aulya. Lama
mereka bertiga bertatapan.
Hingga sang ayah bergumam: “Betapa dahsyatnya buah pena, ya
Nak….”
“Iya, Abi,” sahut Fadhil yang telah selesai diinfus. “Mendadak aku
segar, sehat dan kuat nih, Abi, Umi. Apalagi kalau….”
Abi dan Umi paham dengan keinginan putra mereka.
“Kita akan datangi penulis cerita ini!” ujar mereka kompak sekali.
Ketika mereka diperjumpakan kembali di rumah keluarga Aulya di
Jakarta, ada kejutan menyambut. Aulya baru pulang dari Musabaqoh
Tilawatil Quran, meraih Juara Pertama se-Kabupaten. Keluarga
besarnya sedang berkumpul, mengadakan selamatan dengan
mengundang anak-anak yatim.
“Oh, sama dong dengan Fadhil,” berkata Abi Fadhil, setelah saling
menautkan kembali silaturahim mereka.“Anak kami juga belum lama
menjuarai MTQ di Masjid Omar Kampong Malaka….”
“Iya, Fadhil Juara Pertama MTQ di Masjid tertuadi Singapura itu,”
tambah Umi Fadhil.
“Masya Allah, subhanallah….” Seru semua yang hadir malam itu,
takjub.
Bagaimana tidak? Bisa-bisanya kedua sahabat kecil menyukai Al
Quran? Bahkan sama sampai menjuarai MTQ. Ini satu keajaiban
berkahnya Al Quran yang mereka sangat cintai.
Beberapa pekan kemudian.
Aulya dan Fadhil sekeluarga singgah di Masjid Omar Kampong
Malaka. Meskipun berada di kursi roda, Fadhil tampak bersemangat
sekali. Wajahnya bercahaya pertanda bahagia. Dialah yang
menjelaskan tentang Masjid istimewa ini.
“Masjid Omar Kampong Malaka berlokasi di kawasan Keng Cheow
street. Sebenarnya Masjid ini bukanlah Masjid yang megah dan mewah
seperti Masjid lainnya. Desain Masjid ini juga termasuk biasa-biasa saja.
Hanya saja Masjid ini adalah Masjid yang sangat Istimewa di Kota
Singa. Bagaimana tidak, Masjid Omar Kampong Malaka merupakan
masjid pertama yang dibangun di Singapura,” papar remaja ganteng
yang sama sekali tak terkesan sebagai penyintas Hemofilia.
“Boleh tahu, siapa yang membangun Masjid ini, Fadhil?” tanya
Aulya.
“Masjid yang terletak tidak jauh dari lokasi kuil Tan Si Chong Su ini
dibangun oleh seorang saudagar kaya keturunan Arab asal Palembang,
Sumatera Selatan. Namanya Syed Omar bin Ali Al-Junaedi. Selain
membangun Masjid, Syed Omar juga membangun beberapa sekolah
dan rumah sakit di Singapura. Namanya pun diabadikan menjadi nama
salah satu jalan, yaitu Syed Ali Road dan Aljunaide Road di Serangon,”
jelas Fadhil semakin bersemangat.
“Sepertinya kamu pantas jadi pemandu wisata nih,” cetus Aulya.
Tak urung merasa kagum dengan semangat dan pengetahuan
sahabat kecilnya.
“Doakan aku masih diberi waktu oleh Sang Pencipta,” kata Fadhil.
“Mari kita berdoa di dalam Masjid,” ajak Umi Aulya yang segera
diiyakan oleh Fadhil sekeluarga.
Siapa yang mengira jika di kemudian hari Fadhil masih diberi
waktu oleh Sang Pencipta. Meskipun memiliki cacat genetik, kelainan
darah bawaan, Fadhil termasuk jenius. Ia sukses sebagai pakar IT. Bisa
bekerja dari rumah, membangun bisnis Digital, E-Commerce,
Marketplace berskala Internasional.
Setelah Aulya lulus dari Nanyang University, Fadhil meminangnya.
Menjadikannya sebagai istrinya yang sangat dikasihinya senantiasa.
Demikian pula Aulya sangat mengasihi Fadhil, mantan sahabat kecilnya.
