Oleh : Nur Aqilah Salim

“Belajar yang pinter, bekalnya jangan lupa dihabisin, terus bawa motornya jangan kebut-kebut,” pesan seorang ibu kepada anak laki-lakinya di setiap pagi. Kamu salah jika mengira itu percakapan seorang anak SD dengan bundanya, karena sungguh itu adalah obrolan siswa SMA dengan mama tercinta. Iya, dia siswa kelas 12 yang sebentar lagi akan lanjut ke universitas. Tetapi sikap posesif kedua orang tua tak bisa lepas.

Lantas kini apa yang terlintas di benakmu? Seorang anak laki-laki yang manja? Ataukah bayi dewasa yang keras kepala? Tidak. Dia Albert Albiero Gantar yang kerap kali disapa Al, si cerdas, budiman nan rupawan. Incaran para kaum hawa sekaligus anak emas para guru di sekolahnya, Galaxy International Senior High School atau sebut saja SMA Galaxy.

Menjadi anak bungsu dari tujuh bersaudara sekaligus anak laki-laki satu-satunya, kesayangan orang tua, kebanggaan keluarga, calon penerus perusahaan sang papa membuat Al diperlakukan bagai raja, diberikan fasilitas selayaknya dan diberi pendidikan sebaik-baiknya.

Menyandang predikat siswa teladan dua tahun berturut-turut di sekolah tersebut, tentunya tata krama Al sudah tidak diragukan lagi. Tapi entah ada apa dengan hari pertama di bulan Januari 2017, tidak seperti biasanya, pertama kali Al bangun kesiangan. Alarmnya berbunyi sedari tadi, tapi magnet tempat tidurnya seolah sangat kuat menarik Al untuk tertidur lebih lama lagi.

Kali ini tanpa menghiraukan sarapan dan tanpa membawa bekalnya, Al langsung tancap gas menuju sekolah. Sang mama hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya pagi itu. Sampai di depan gedung SMA Galaxy, Al dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya, pintu gerbang telah tertutup rapat.

“Pak, pak, pak Dion” teriak Al memanggil satpam penjaga namun sama sekali tak terdengar jawaban. Nekat, Al memanjat gerbang tersebut kemudian didapatinya pak Dion yang sedang tertidur pulas di bangku dekat gerbang, “Syukurlah,” katanya.

Langsung saja pemuda berambut hitam legam dengan kulit putih bersih itu berlari menuju ruang kelas. Sayangnya pelajaran telah dimulai. Di tengah-tengah penjabaran rumus Matematika yang tak mudah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, terlihat Al yang berdiri lesu di situ.

“Albert cetar anak pak gantar, tumben telat?” celetukan Aarav si teman baik Al, diikuti tawa lepas dari seisi kelas. Sesaat kemudian dengan tatapan sinis, guru yang sedang mengajar di kelas itu memberikan kode kepada Al untuk maju menjelaskan alasannya terlambat.

“Maaf bu, saya kesiangan” kata Al. Sekarang kamu berdiri di samping papan tulis sampai jam pelajaran saya selesai,” pinta sang guru dengan tegas.

Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Al harus berdiri satu jam untuk menjalankan hukuman. Saat bel istirahat berbunyi, ia bersama Aarav dan Keyl berjalan ke kantin. Baru juga memasuki kantin, Al malah menabrak salah seorang siswi bernama Tiwi yang sedang membawa sebotol minuman, membuat separuh baju dan celana Al basah.

“Maaf gak sengaja” Tiwi berusaha mengelap pakaian Al, sedangkan Al hanya mengangguk-angguk kecil lalu meninggalkan Tiwi untuk pergi ke wc dengan niat mengeringkan sendiri bagian bajunya yang terkena minuman barusan.

Kembalinya dari wc, Al dibuat bingung. Satu sekolah menatapnya dengan tatapan sangar, seakan dirinya habis melakukan dosa besar. Pemuda kebingungan ini menghampiri Keyl dan Aarav untuk menanyakan apa yang telah terjadi.

“Liat nih, sekarang bilang kalau cowok dalam postingan ini bukan lo, kan? Al?” Keyl mengerutkan dahinya dan menempatkan ponselnya tepat di depan wajah Al yang masih terheran-heran.

Di situ tampak postingan dari sebuah akun gossip memperlihatkan sesosok siswa SMA Galaxy sedang melakukan kekerasan fisik kepada salah seorang siswi SMA Surya. Jika dipantau dengan saksama, pria tersebut adalah Al, sedangkan wanita itu masih tanda tanya.

“Enggaklah, ini gak mungkin. Kalian percaya kan gue gak mungkin setega ini?” ucap Al yang mulai meninggikan nada suara, berusaha meyakinkan bahwa itu bukan dirinya.

Continue to the next part…

(Visited 32 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *