Oleh : Zhabila Ramadhani

Perkenalkan namaku Sekala Diajeng. Panggil saja Sekala, seorang perempuan yang selalu merasa tidak percaya diri dan akhirnya dipertemukan dengan seorang laki-laki bernama Zidan Putra Adiwijaya atau dikenal Zidan.

Sejak kecil, aku sering mendapat hinaan bahkan pukulan dari orang – orang di sekitar aku. Saat aku duduk di bangku kelas 2 SD, aku hampir dilecehkan oleh tetanggaku sendiri.

Sejak saat itu, aku selalu merasa tidak percaya diri dan selalu takut untuk tampil di depan banyak orang. Aku bahkan selalu takut untuk mengeluarkan pendapatku. Aku terlalu takut mendengar kata- kata hinaan yang diucapkan oleh orang orang.

Saat aku berusia 14 tahun, aku pernah memikirkan tentang bunuh diri. Aku selalu berpikir bahwa bunuh diri jalan terbaik agar aku tidak pernah mendengar kata kata itu lagi.

Pikiran itu berubah saat aku bertemu seorang laki-laki dari sosial media, ya laki-laki itu bernama Zidan Putra Adiwijaya. Zidan yang baik,dewasa,dan selalu mendengarkan keluh kesahku setiap malam.

Singkat cerita, aku dan Zidan semakin dekat, bahkan tak jarang juga Zidan selalu bercerita kepadaku tentang kegiatan yang dia lakukan dan bahkan mengirimkan beberapa foto dirinya sedang bermain dengan kucing kesayangannya.

Saat aku melihat Zidan sedang memberikan ucapan kepada salah satu temannya yang sedang berulang tahun di sosial medianya, aku merasakan sesak di dadaku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari perasaanku kepada Zidan, yah aku menyukai Zidan.

Aku selalu bersikap seperti biasanya kepada Zidan. Tidak ada yang berubah. Aku berusaha menyembunyikan perasaanku sendiri. Sampai pada akhirnya aku tidak bisa lagi menyembunyikannya. Akhirnya kuputuskan untuk memberi tahu Zidan tentang perasaanku.

Awalnya dia senang aku sudah bisa jujur dan tidak menyembunyikan perasaanku lagi. Aku kira dia akan menjawab hal yang sama sepertiku, tetapi ternyata tidak. Ternyata Zidan hanya menjawab pesan itu bukan perasaanku.

Aku berusaha menerima hal itu dan mulai untuk berhenti menyukainya. Awalnya aku kira bisa tapi ternyata tidak. Aku malah semakin jatuh hati padanya. Dia tetap menjadi Zidan seperti saat sejak awal bertemu, Zidan yang dewasa.

Awalnya aku selalu berpikir dia akan risih, ternyata tidak. Dia bahkan masih sering mendengar keluh kesahku. Bahkan saat dia sedang sibuk, dia selalu menyempatkan waktu untuk mengabariku dan menyuruhku untuk bercerita tentang kegiatan yang aku lakukan.

Untuk Zidan Putra Adiwijaya, terima kasih karena sudah mengisi hari-hariku dan terima kasih juga sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Maaf karena sampai saat ini aku masih mencintaimu.

Watansoppeng, 13 Oktober 2021

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *