Oleh: Andi Raka
Tidak semua perjuangan terlihat. Tidak semua luka terdengar. Namun dari luka yang paling dalam, sering kali lahir karya yang paling bermakna.
Saya dikenal sebagai pelajar yang aktif berprestasi di bidang seni dan kepemudaan. Selain berkarya dalam dunia puisi dan literasi, saya juga aktif dalam organisasi. Saya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Divisi Public Relation Kata Pelajar Indonesia Batch 4, serta pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIM MTs Guppi Mattirowalie pada tahun 2023. Bagi saya, organisasi bukan sekadar jabatan, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab, komunikasi, dan kepemimpinan.
Di bidang sastra, perjalanan saya dipenuhi pencapaian. Saya meraih Juara II Lomba Baca Puisi di Kampus Al-Gazali Bulukumba (2022), Juara I Cipta dan Baca Puisi MTsN 6 Bulukumba (2024), Juara I Lomba Puisi Pramuka SMK Negeri 2 Bulukumba (2025), Juara I Puisi SMK Techno Terapan Makassar (2025), serta Juara I Lomba Puisi Halo Penyair Batch 8. Tidak hanya di bidang sastra, saya juga meraih Juara Umum dan Medali Emas pada Kompetisi Olimpiade Sains Indonesia jenjang SMA/SMK/Sederajat bidang Pengetahuan Umum tahun 2025.
Namun di balik prestasi itu, ada perjalanan yang tidak mudah.
Pada tahun 2025, saya pernah mengalami perundungan berat di lingkungan sekolah akibat fitnah yang tidak benar. Situasi itu sempat mengguncang mental dan kepercayaan diri saya. Saya merasakan bagaimana rasanya disudutkan, disalahpahami, dan merasa sendirian di tengah keramaian.
Alih-alih menyerah, saya memilih bangkit.
Puisi menjadi ruang penyembuhan. Kata-kata menjadi tempat saya menenangkan diri. Dari lembaran-lembaran sederhana, saya menuliskan luka, harapan, dan tekad untuk tidak kalah oleh keadaan. Dari situlah saya memahami bahwa karya bukan sekadar ekspresi, tetapi juga terapi jiwa.
Pengalaman pahit itu justru menguatkan saya untuk menjadi bagian dari gerakan pelajar anti-bullying Indonesia. Saya ingin memastikan tidak ada lagi pelajar yang merasa sendirian menghadapi perundungan. Saya ingin luka yang pernah saya rasakan berubah menjadi suara yang menguatkan orang lain.
Kini, saya dikenal sebagai Duta Pelajar Kabupaten Bulukumba 2025, RU 1 Icon Model Hunt Sulselbar 2025, Winner Duta Ragam Pariwisata 2025, Pelajar Anti Bullying Indonesia, serta Duta Literasi Indonesia 2026. Semua pencapaian itu bukan sekadar gelar, tetapi simbol dari proses panjang yang ditempa oleh keteguhan.
Bagi saya, bangkit bukan berarti melupakan luka, tetapi berdamai dengannya. Menjadikan pengalaman pahit sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.
Karena pada akhirnya, luka tidak selalu menghancurkan. Jika disikapi dengan keberanian, luka bisa berubah menjadi karya. Dan karya bisa menjadi cahaya, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk banyak orang.
