Oleh: Devi Purnama*

Aku terlahir dari namamu,
dari doa yang kau simpan
di sela lelah yang tak pernah kau bagi.
Tubuhku tumbuh
namun jiwaku terpaut
pada caramu menaruh rasa

Aku belajar bertahan
dari caramu menahan ambruk
Belajar gelisah
dari sikapmu yang kerap membisu.
Kita terikat,
bukan hanya terhubung oleh darah,
melainkan oleh pedih
yang diwariskan dalam ketidaksadaran.

Sesekali aku ingin pergi,
menjadi aku yang tak lagi menjadi sandaran bebanmu.
Meski begitu setiap langkah kerap kembali,
sebab suaramu
adalah rumah
yang paling kupahami.

Apabila suatu hari aku rapuh,
jangan kira aku tak berdaya.
aku tak lain hanyalah membawa
jalan hidupmu
yang terlalu lama bertahan.

Walau demikian ketahuilah,
di setiap helaan yang kupunya,
ada namamu yang kupeluk erat.
Sekalipun perih,
sekalipun berat,
ikatan ini takkan terlepas.

Watansoppeng, 8 Januari 2026

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5

(Visited 148 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *