Oleh: Nurul Saadah*

Mentari pagi menyelinap pelan melewati celah jendela kamar kecil Aira. Cahaya itu jatuh tepat di wajahnya yang masih terlelap, seolah membangunkannya dengan sentuhan lembut. Aira pun membuka mata, menatap langit-langit kamar yang mulai kusam, lalu menghela napas panjang. Hari baru telah datang pelan, tetapi pasti.

Sudah berbulan-bulan Aira merasa hari-harinya begitu berat. Ia sedih karena nilai pelajarannya menurun. Ayahnya jarang pulang karena pekerjaan, sementara ibunya sering terlihat lelah, hingga Aira kerap merasa sendiri. Namun pagi itu terasa berbeda. Entah mengapa, sinar matahari yang masuk ke rumah sederhana mereka terasa lebih hangat, membuat dada Aira dan juga ibunya terasa lebih ringan.

Aira bangkit dari tempat tidurnya dan membantu ibunya menyiapkan sarapan. Di sela kesibukan itu, ibunya tersenyum dan berkata pelan, “Setiap pagi adalah kesempatan baru, Nak.” Kalimat sederhana itu terngiang di benak Aira, menetap seperti doa yang diam-diam memberi kekuatan.

Di sekolah, Aira memberanikan diri duduk di bangku depan. Ia memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh, mencatat hal-hal penting, dan bertanya saat ada pelajaran yang belum ia pahami. Untuk pertama kalinya, Aira mencoba lagi tanpa takut gagal, tanpa ragu pada dirinya sendiri.

Bel istirahat pun berbunyi. Aira berdiri di lapangan sekolah, menatap sinar matahari yang bersinar terang di atas kepalanya. Ia tersenyum lembut. Mungkin masalahnya belum sepenuhnya hilang, mungkin jalannya masih panjang, tetapi pagi ini terasa berbeda. Pagi ini memberinya secerah harapan.

Aira mengerti satu hal: mentari pagi bukan sekadar cahaya yang menerangi hari, melainkan pengingat bahwa selalu ada asa bagi siapa pun yang mau bangkit dan melangkah lagi meski perlahan.

Watansoppeng, 8 Januari 2026

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5

(Visited 65 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *