Oleh: Aqilah Putri Faishal

Mungkin dulu aku percaya bahwa kebahagiaan adalah tujuan tertinggi dalam hidup. Namun kini, pandanganku berubah. Aku tak lagi mengejar sorak-sorai dan tawa yang memekakkan telinga. Yang kuinginkan hanya satu: hidup yang tenang. Hidup yang damai, tanpa badai masalah yang datang bertubi-tubi, menusuk tanpa memberi jeda untuk bernapas.

Entah sejak kapan aku mulai merindukan ketenangan itu. Yang pasti, harapan besar itu lahir ketika hidupku jatuh. Jatuh sedalam yang tak pernah kubayangkan. Jatuh yang membuatku tak hanya kehilangan arah, tapi juga kehilangan cahaya. Di titik itu, aku belajar satu hal pahit: tidak semua orang yang kita sebut “terdekat” akan benar-benar mengulurkan tangan ketika kita tenggelam.

Sebagian dari jatuhku ini, sebenarnya, juga kesalahanku. Kesalahan yang tak pernah kuinginkan, tak pernah kurencanakan, namun menjerumuskanku ke dalam posisi yang membuatku merasa terhukum, serba salah, dan seolah dunia tak lagi berpihak padaku. Beribu kalimat maaf kusampaikan kepada semua orang yang ikut terkena percikan, termasuk kepada diriku sendiri yang sudah hampir hancur.

Namun ada hebatnya. Aku tak ingin mati dari hancurku. Kini, aku masih punya usaha untuk bangkit dari titik terendah. Bukan hanya soal keberanian. Ini adalah perang. Perang melawan rasa malu, rasa bersalah, rasa ingin menyerah, bahkan perang melawan suara-suara kecil di kepalaku yang berkata, “Kamu sudah selesai.” Aku memungut satu per satu serpihan diriku yang pecah, lalu menyusunnya kembali. Bukan untuk kembali seperti semula, tetapi untuk menjadi bentuk yang lebih baik dari sebelumnya.

Ketenangan. Banyak yang berkata kebahagiaan itu mahal. Tapi bagiku, ketenangan jauh lebih mahal. Bahagia bisa saja hadir sesaat, tetapi ketenangan adalah rumah tempat pulang, tempat hati berdiam, dan walaupun untuk sampai ke tujuan aku harus melawan banyak rasa sakit, aku akan tetap melangkah.

Sadarku tumbuh saat jatuhku menjadi ujian, untuk melihat apakah aku benar-benar punya nyali untuk bangkit. Karena dunia tidak akan berhenti menekan hanya karena aku sedang jatuh, dan orang-orang tidak akan selalu menolong hanya karena aku pernah ada untuk mereka. Maka, aku memilih untuk tidak lagi menunggu penyelamat. Diriku adalah penyelamatku sendiri.

Jika suatu hari aku berhasil berdiri di tanah yang damai itu, aku akan mengingat hari ini. Hari ketika aku jatuh, sendirian, namun tetap memilih untuk bangkit.

Watansoppeng, 14 Agustus 2025

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aqilah Putri Faishal

Namaku Aqilah Putri Faishal biasanya di panggil Qelaa. Saat ini aku sudah berusia 15 thn. Dua orang terhebat dalam hidupku adalah ayah dan ibuku. Ayah bernama Muhammad Faishal, dan ibuku Henni Erna Ningsih. Hobi aku menulis dan juga bercerita. Selain punya hobi, masa iya sih aku gak punya bakat? SMPN 1 WATANSOPPENG adalah titik awal aku meraih prestasi dan mengembangkan bakatku yaitu di bidang pramuka dan juga seni musik Sudah banyak juara yang kuraih di pramuka seperti pionering, lkbb, yelling, paduan suara, dan masih banyak lagi. dan selanjutnya di bidang seni musih meraih juara di event oni oni toriolo yang pada saat itu saya memainkan alat musik suling bambu. Dari semua pencapaian itu, aku merasa bangga kepada diriku dan berterima kasih atas semua dukungan yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *