Oleh: Aprilla Harlina

Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang akhir-akhir ini sangat mengganggu pikiranku. Ini tentang seseorang yang kusebut “orang favorit”. Memang, ketika kita memfavoritkan seseorang, sering kali kita ingin menjadi seperti dirinya. Bahkan, jika keinginan itu tumbuh terlalu dalam, ia bisa berubah menjadi obsesi.

Aku secara sadar telah terobsesi untuk menjadi sepertinya. Apa yang ia miliki, aku pun ingin memilikinya. Namun, semakin aku berusaha, semakin aku merasa hal itu mustahil. Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Bagiku, ia tampak hebat, hampir sempurna. Tapi dari sudut pandangnya sendiri, mungkin ia hanyalah sosok yang rapuh, tersesat, dan kehilangan arah. Ia merindukan momen-momen hangat bersama keluarganya. Sesuatu yang tampak sederhana, tapi begitu berarti baginya.

Awalnya aku menyangkal. Kupikir, tidak mungkin ia selemah itu. Tapi kemudian, aku sadar ia memang pernah rapuh, namun justru di situlah kekuatannya. Ia kuat, karena ia bertahan. Ia hanya sedang berjuang untuk merebut kembali hak-haknya, sesuatu yang semestinya menjadi miliknya sejak awal.

Di sinilah letak pentingnya: seharusnya aku sadar, aku paham peranku. Peran dan posisi yang kumiliki saat ini. Itulah yang selama ini ia impikan. Kebebasan yang kumiliki adalah kebebasan yang ia dambakan. Sayangnya, aku terlalu sibuk menjadi “seperti dirinya”, tanpa benar-benar memahami makna di balik perjuangannya.

Aku gagal menangkap pesan dari ceritanya. Yang kutahu hanyalah aku mengaguminya, memujanya, menjadikannya panutan tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia ingin aku menjadi diriku sendiri. Aku terlambat menyadari bahwa waktuku habis hanya untuk meniru, bukan untuk tumbuh. Jika ia berada di sini sekarang, mungkin ia akan kecewa melihatku: seseorang yang memiliki begitu banyak kesempatan dan dukungan, tapi justru menyia-nyiakannya.

Dan mungkin ia akan berkata:

“Kau memiliki banyak hal yang kuinginkan. Kebebasan, kesempatan, dan dukungan. Lalu kenapa kau ingin menjadi sepertiku? Apa yang lebih dariku hingga kau ingin menjadi aku? Apa yang kurang dariku yang hendak kau lengkapi?”

Bukan. Bukan karena kau kurang. Tapi karena aku tak mampu melihat ke dalam diriku sendiri. Aku menutup mata terhadap hal-hal yang menjadi tugasku saat ini. Aku merasa kosong dan kekosongan itu coba kuisi dengan pelarian. Pelarian melalui kisah dan kehidupan orang lain. Aku mulai memersepsikan diriku sebagai mereka, bukan lagi sebagai aku.

Dari situlah semua kesalahan bermula. Aku gagal membangun diriku sendiri. Tak ada satu pun pencapaian yang benar-benar menggambarkan siapa aku. Semuanya hanya bayangan dari orang lain. Ya, aku telah gagal. Gagal menjadi diriku sendiri.

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *