Oleh: Aisyah Shafira Yunus
Mungkin bagi sebagian orang, malam terasa menyeramkan. Gelap, sunyi, dan seolah menyimpan banyak misteri. Namun, bagi sebagian yang lain, malam justru menenangkan. Malam memberi ruang untuk melamun, menenangkan diri, bahkan menangis diam-diam di kamar setelah lelah menjalani hari tanpa ada seorang pun yang tahu.
Dulu, aku pun menganggap malam itu menakutkan. Aku takut pada gelapnya, pada sunyinya, dan pada bayangan-bayangan yang entah nyata atau hanya dalam pikiranku. Tapi saat memasuki masa remaja, aku mulai melihat malam dengan cara yang berbeda. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, “Kenapa dulu aku takut malam?” Padahal, malam justru adalah waktu paling jujur untuk meluapkan semua yang tak bisa dikatakan siang hari.
Saat tak ada tempat untuk bercerita, aku menatap langit dan berbicara pada bintang. Langit malam menjadi saksi diam segala rasa yang kusimpan sendiri. Pernah, pada suatu malam tepat pukul dua belas, ketika semua orang telah terlelap, aku berdiri di jendela, memandangi langit sambil mendengarkan lagu-lagu sedih. Di situ aku mengingat lagi perkataan dan perlakuan orang-orang yang membuat hatiku terluka.
Aku ingin menangis saat itu juga, tapi tidak boleh ada yang melihat. Jadi, aku menangis tanpa suara. Dan tahukah kamu? Menangis tanpa suara itu ternyata lebih menyakitkan. Rasanya seperti menjerit dalam ruang hampa.
Beberapa orang mungkin tak sadar bahwa ucapannya menusuk. “Mungkin mereka tidak sadar kalau tadi perkataannya menyakitkan,” bisikku dalam hati sambil menyeka air mata. Kenapa sih orang-orang tidak berpikir dulu sebelum bicara? Mungkin bagi mereka, ucapan itu sepele. Tapi bagiku, itu seperti belati yang menggores pelan-pelan.
Di malam hari aku menangis, tapi saat siang menjelang, aku kembali memakai topeng: tersenyum, tertawa, bahkan bercanda seolah semuanya baik-baik saja. Padahal tidak. Tengah malam aku menangis, tapi di siang hari aku tertawa paling keras. Kadang-kadang, tawa yang paling lantang justru datang dari mereka yang menyimpan luka paling dalam.
Keluargaku mungkin tak selalu mendengarkan keluh kesahku. Tapi langit malam selalu ada. Ia tak pernah memotong ceritaku. Ia mendengarkan dengan sabar, bahkan ketika aku hanya diam dan menangis.
Malam memang gelap. Tapi justru dalam gelap itulah aku menemukan cahayaku sendiri.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng
