Oleh: Aqilah Putri Faishal
Cinta abadi yang dulu pernah hilang kini kembali hadir dalam hidupku. Ia mulai mengiringi langkahku dengan tinta berwarna. Tinta yang dulu sempat memudar, lalu menghilang begitu lama. Kehilangannya menyisakan kehampaan. Hidupku terasa sepi tanpa suaranya, tanpa canda dan lelucon yang selalu ia lontarkan untuk membuatku tertawa. Namun, di balik semua itu, kenangan tentangnya tetap tersimpan rapi dalam album kehidupanku. Cintanya, bagiku, tak pernah benar-benar sirna.
Pernah terlintas di benakku untuk melupakannya, namun tak ada daya. Aku memilih menjalani hidup yang sepi ini dengan tenang, tanpa mengganggunya. Namun kini, kehadirannya kembali membawa warna yang sempat pudar. Senyumannya yang dulu hilang kini hadir lagi dalam hari-hariku, membawa kebahagiaan yang sempat lenyap. Meski demikian, di balik rasa bahagia ini, ada kecemasan yang tak dapat kuhindari. Aku bertanya-tanya, apakah tinta berwarna yang kini ia goreskan dalam hidupku adalah bentuk perbaikan, atau hanya sekadar tinta yang sama seperti sebelumnya, tinta yang perlahan akan kembali memudar dan akhirnya menghilang?
Aku tak ingin hal itu terulang lagi. Harapan mulai tumbuh dalam diriku. Teruslah iringi langkahku dengan caramu. Cara yang selalu berhasil membuatku tertawa. Tetaplah di sisiku saat aku sedih dan jadilah tempat ternyamanku. Itulah harapan yang kini terukir jelas di benakku untuknya, yang kembali dan menghadirkan warna baru dalam hidupku.
Bahagia, cemas, dan penuh harapan, itulah perasaan yang kini bercampur aduk dalam diriku. Namun, melalui semua ini, aku belajar untuk menjadi lebih baik, menjalani segalanya dengan tenang, dan mensyukuri setiap hal yang terjadi dalam hidupku.
Watansoppeng, 2 Februari 2025
