Oleh: andi Aiesha Zafirah*
Saat matahari pergi dan bulan menyapa, aku akan duduk di balik jendela, menatap ke langit malam yang gelap namun dihiasi oleh cahaya-cahaya yang gemerlap.
“Tuhan, ciptaan-Mu sangat indah,” kalimat itu keluar dari mulutku saat melihat keindahan bintang-bintang yang membentang di langit.
Tidak bisa dipungkiri bahwa semua bintang yang terpajang di langit malam itu menghasilkan sinar yang begitu indah. Namun, ada satu bintang yang sinarnya lebih berbinar-binar dan mencolok dibandingkan yang lain, membuat mataku tidak bisa berpaling darinya.
Sinarannya begitu indah, memanjakan mataku yang sudah lelah dan memaksaku untuk jatuh tertidur. Namun, aku tidak ingin kalah dari rasa kantuk dan tertidur lelap secepat itu, karena jika aku tertidur, aku akan melewatkan pemandangan indah malam ini dan harus menunggu berjam-jam lagi esok hari untuk melihat kembali sinaran bintang yang sempat terlewatkan.
Aku memandangi bintang yang indah itu berjam-jam tanpa merasa bosan sedikit pun. Mungkin aku telah memandanginya terlalu lama, karena aku mulai berkhayal untuk meraihnya dengan tangan lemahku yang kehabisan tenaga.
Andai saja aku seorang astronaut yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa, atau seseorang yang diberi kekuatan untuk terbang ke angkasa, pasti aku telah menggenggam bintang yang indah itu dengan kedua tanganku dan mengagumi keindahannya dari dekat dengan kedua bola mataku.
Namun, realitanya, aku hanyalah seorang manusia biasa yang hanya dapat mengagumi keindahannya dari jauh. Aku hanya bisa berdoa agar keajaiban tiba-tiba datang menyapaku dan membuat bintang yang indah itu jatuh ke arahku, lalu mendekapku dengan sinarannya yang selalu kuagungkan.
Watansoppeng, 2 Februari 2025
