Oleh: Nayla Basam
Di persimpangan hari, aku melangkah tanpa henti
Disambut sunyi pada lorong tak bertepi
Kunanti terang yang mungkin kan hadir
Namun, selalu gelap yang menghampiri
Aku hidup di antara hampa dan luka
Tak pernah lelah duka menerpa
Kebahagiaan hanya bayang di ujung mata
Sebatas mimpi yang hilang tertelan lara
Entah perihal takdir atau sekelebat dosa
Perasaan gundah setiap hari sama, tak pernah reda
Di tengah derasnya nestapa
Terus kucari secercah cahaya, setidaknya mampu menghangatkan jiwa
Mereka bertumpu pada bahuku yang lemah
Sementara aku yang sedang berdarah, sendiri berkelana
Dalam hening ku berbisik pelan
Hai diri, mampukah kita bertahan?
Watansoppeng, 7 Oktober 2024
(Visited 28 times, 1 visits today)
