Sudah lebih dari dua tahun sejak kepergianmu, dan rasanya waktu begitu cepat berlalu. Bahkan, aku sampai lupa tanggal tepatnya hari kepergianmu. Sekarang, aku tidak lagi punya tempat untuk pulang, terutama saat aku merasa tertekan atau terluka. Tempat yang dulu selalu menjadi tempat pulang, tempatku berlindung, kini sudah tak ada lagi.
Aku bingung, sekarang harus bercerita kepada siapa. Rumah yang selalu aku anggap sebagai pelabuhan rasa aman sudah tidak ada. Dan kini, keluarga kita pun terpecah belah sejak kejadian tahun lalu. Mungkin saja, keluarga kita tak akan pernah kembali seperti dulu.
Padahal, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, Ma. Banyak cerita dan keluh kesah yang hanya ingin kubagikan denganmu. Tetapi sekarang, aku belum bisa datang mengunjungimu di pemakaman. Mungkin, suatu saat ketika ada kesempatan, aku akan datang menemuimu di sana.
Apakah Mama bahagia di sana? Apakah Mama sudah menemukan kedamaian dan mungkin… melupakan aku? Jika memang Mama sudah bahagia di sana, aku akan ikhlas. Aku akan tetap berdoa, semoga Mama selalu berada dalam kebahagiaan abadi di atas sana.
