Oleh: Nayla Basam*
Di balik kelopak matanya yang terpejam
Dunia dalam kepalanya kini bukan lagi sekadar sketsa sederhana
Melainkan simfoni khayalan yang mengalun, membawa harmoni dan warna ke setiap sudut pikirannya
Terperangkap dalam zona nyaman
Hingga ketika ia mencoba kembali ke dunia nyata, rasanya tak pernah aman
Kebahagiaan seolah hirap tertelan angan
Niat hati mencari ruang yang sejati
Namun delusi selalu tiada henti
Jiwanya terkurung secara abadi
Berbagai dualitas tercipta di dunia
Ntah itu nyata atau fana
Sebaik-baiknya naskah pikiran, semestalah yang paling pandai menciptakan cerita
Ia yang merasa dibuat kecewa oleh dua dunia, mengutuk takdir yang tak berkesudahan
Sewaktu-waktu ia kan meminta pada sang pencipta
“Tuntun aku pergi dari dunia semu ini. Namun, tolong, jangan sampai ada satu tetes air mata yang terjatuh nantinya.”
Lagi-lagi semesta tak berpihak padanya
Konon, hidup adalah makna dari setiap pilihan. Semua hanya perlu giliran
Di dunia nyata atau semu,
Setiap tawa dan duka pasti akan meninggalkan setetes air mata, bukan?
*Penulis adalah Siswi SMAN 1 Soppeng
