Oleh:Andi Annisa

Aku sangat ingin kita bersatu. Tapi sayangnya tembok yang sedang ada di hadapan kita terlalu tinggi, sehingga aku tak mampu untuk menggapainya. Begitu pun dengan engkau. Kau juga tidak bisa menggapai tembok itu, bukan? Aku tau kau lebih tinggi dariku. Akan tetapi, setinggi-tingginya engkau, lebih tinggi lagi tembok yang sedang menghalangi hubungan di antara kita berdua. Tuhanmu tak ingin kau mengambil aku dari Tuhanku. Begitu pun sebaliknya, Tuhanku juga tak ingin engkau mengambil aku darinya. Tapi Tuhan itu tetap satu, kita yang berbeda.

Semesta yang akan menjadi saksinya. Aku hanya ingin bersamamu hingga akhir waktu, tidak dengan yang lainnya. Namamu, senyumanmu, dan tawamu, sudah tidak bisa untuk dihapus di dalam hatiku. Bagaikan tinta pulpen yang telah kering mengenai papan tulis. Sebesar apa pun usahaku untuk menghapus tinta itu, tinta itu sudah menjadi permanen dan tak akan bisa untuk kuhapus hingga kapan pun. Terkadang aku sangat dibuat heran oleh semesta. Mengapa semesta mempertemukan kita bila memang pada akhirnya kita tidak akan bisa bersatu? Mengapa?

Orang tuamu memberikan engkau tekanan untuk bisa melepaskanku, begitupun dengan aku. Kedua orang tuaku juga memberikan tekanan setiap hari untuk aku mau melepaskanmu. Akan tetapi, aku tak kuasa untuk melakukan hal itu. Setelah apa yang semua kita lalui bersama, aku harus melepaskanmu begitu saja? 2 tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku. Di dalam 2 tahun itu sangatlah banyak kenangan kita berdua. Susah dan senang telah kita lewati bersama, bukan? Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi apakah masalah yang ada di dalam hubungan kita ada jalan keluarnya? Aku rasa tidak ada.

Namun setelah aku berpikir sejenak, sepertinya memang benar. Satu-satunya jalan keluar dari permasalahan hubungan kita hanyalah saling melepas satu sama lain. Sepertinya memang sudah waktunya untuk pergi. Aku bukan menyerah, hanya saja aku tak mau menjadi orang yang egois. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita sendiri. Bila restu tapi berpihak, kita bisa apa? Aku hanya pergi, bukan meninggalkanmu. Terima kasih atas segala pengorbanan serta kebahagiaan yang telah engkau beri selama 2 tahun ini.

(Visited 61 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *