Oleh: Usnul Safitri
Hai… Aku Vara. Aku mempunyai teman yang bernama Amel. Awal mula aku mengenalnya saat kelas 1 SMA. Waktu itu kita satu kelas. Aku dulu tidak mempunyai teman, tetapi ada dia yang selalu mengajakku bermain. Aku sebenarnya ragu untuk lebih dekat dengannya. Banyak teman mengira kami mirip. Namun selama 5 bulan kami bersama, aku mulai perlahan mengetahui sifat aslinya. Saat penerimaan rapor, di situlah ia sangat berubah.
Orang yang selama ini aku percaya ternyata merusak semuanya. Putri, teman lamaku dari TK sampai SMP bertanya padaku,” Eh, gua liat lo udah ga deket lagi tuh sama si Amel. Lagi berantem yaa? Emangnya kenapa? jawabku. Tidak apa-apa sih. Cuma sekadar nanya aja. Memang kamu tidak tau sifat aslinya bagaimana? Putri bertanya dengan penuh selidik.
“Aku sih sudah tau dari dulu.” Kalau lu. Udah tau belom? balasku.”Ya udah taulah dari dulu, jawab Putri.
Semenjak aku dekat dengan Putri, Amel selalu kepo. Entah itu tentang game yang kami bahas maupun tugas, dia selalu kepo. Tetapi aku dengan Putri berusaha menahan diri hingga akhirnya kami muak dengan dia.
Hingga suatu ketika aku mendengar kabar bahwa salah satu cerita yang aku pernah ceritakan kepada Amel tersebar. Di situ aku benar-benar kecewa. Aku pikir dia tidak akan menyebarkan cerita itu tetapi ternyata aku salah.
Dari sini kita bisa belajar bahwa janganlah menilai orang dari luarnya tetapi nilailah dari hatinya, dan ingat berhati-hatilah jika ingin bercerita kepada seseorang. Jika ingin bercerita, lihatlah dia pendengar atau penyebar berita bohong.
