Oleh: Adhini Khumaira Latifah*

Hai tuan, bagaimana dengan kabarmu? Kuharap kau bahagia di luar sana. Kuharap kau tidak lupa dengan semua luka yang kau berikan kepadaku, dan ingatlah tuan, hukum alam itu nyata. Jika diingat kembali sudah hampir setahun kau meninggalkanku,. Jika kemarin aku sangat sulit untuk melupakanmu, maka sekarang lihatlah, aku berhasil melewati semua kesedihan yang kau perbuat. Entah yang kemarin salahku atau mungkin salahmu, terserahlah. Aku tidak akan mengejarmu lagi.

Aku sudah ikhlas dengan semuanya. Namun, sebelum aku seikhlas ini, banyak hal yang membuatku hampir kehilangan jati diriku sendiri. Lihatlah tuan, aku sudah bahagia tanpa bantuan orang baru aku bisa melupakanmu. Namun ini bukan tentang orang baru, tapi ini tentang bagaimana cara aku sembuh dengan sendirinya. Bagaimana aku yang selalu menyibukkan diri dengan organisasi dan hal-hal yang membuatku lupa tentang percintaan.

Ya… begitulah caraku melupakanmu tuan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku juga menemukan penggantimu. Awalnya aku berpikir apakah aku sudah mengikhlaskanmu sehingga aku berani menerima orang baru? Yaa, nyatanya aku sudah benar-benar melupakanmu. Teruslah berbahagia tuan, agar malam yang selalu dipenuhi dengan tangisan ini tidak sia-sia.

Jangan pernah menyapaku lagi. Cukup kemarin kita bersama, dan kuharap aku tidak akan menemukan dirimu di orang lain, dan juga cukup sekali kumengenalmu. Kau akan abadi di setiap tulisanku tuan.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.7

(Visited 42 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *