Selama tiga tahun lamanya saya menjadi siswa dengan seragam putih-biru. Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru yang tentunya belum pernah saya dapatkan di tingkat sekolah sebelumnya. Di pertengahan tahun 2022, saya berhasil menyelesaikan pendidikan saya di bangku sekolah menengah pertama.

Tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah yang letaknya bisa dikatakan berada di daerah pegunungan membuat semangat belajar terus bertambah. Pohon hijau banyak mengelilingi lingkungan sekolah. Dengan kondisi sekolah yang berada di atas rata-rata ketinggian, membuat kami para siswa sangat mudah untuk melihat keindahan gunung yang tepatnya berada di belakang kelas. Saat berada dalam kelas pun, para siswa juga dapat mengamati keindahan gunung dengan kaca jendela sebagai pembatasnya.

Kata orang-orang, “Kalau otaknya lelah untuk bekerja, itu artinya otak butuh refreshing. Coba sekali-kali lihat pemandangan yang indah. Setidaknya dengan pemandangan yang indah, otak dapat kembali bekerja. Jika otak kami lelah menghadapi pelajaran yang sulit, refreshing-nya tidak perlu jauh-jauh. Cukup menoleh ke arah luar jendela, maka mata akan senang mendapatkan pemandangan yang indah.

Saya sebagai siswa yang letak sekolahnya berada di pegunungan sangat senang. Setidaknya dengan keindahan alam dapat membangkitkan semangat saya untuk terus ke sekolah. Lokasi sekolah yang berada di ketinggian membuat kami para siswa tidak terganggu dengan kendaraan warga pada jam pelajaran sedang berlangsung.

Berada di ketinggian juga membuat para siswa tidak berkeliaran di jalan raya. Setidaknya hal ini dapat membuat kami aman dari kendaraan yang lalu-lalang.

Jangan pernah merasa terasingkan bila sekolahmu berada di bagian pegunungan. Justru keindahan alam letaknya di pegunungan. []

(Visited 23 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *