Oleh: Andi Salya Tanisha
Di suatu hari yang cerah, ada tiga orang sahabat yang sedang duduk di taman sekolah saat jam istirahat. Mereka berbincang dengan serius. Aku jadi penasaran, apa yaa… yang mereka sedang perbincangkan? Oh…ternyata mereka lagi ngomongin tentang kepadatan penduduk di Indonesia.
Salah satu dari mereka bertanya,” Ada yang tahu Indonesia menduduki urutan ke berapa di dunia sebagai negara berpenduduk terpadat?
Kina menjawab pertanyaan temannya itu, ” Wah.. Indonesia menduduki urutan ke-4 loh sebagai negara berpenduduk terpadat di dunia, dan total populasinya sekitar 260 juta penduduk. Ini disebabkan negara kita memiliki ratusan suku, bahasa, dan budaya yang beraneka ragam. Meskipun demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh dua suku terbesar. Dua suku terbesar ini adalah suku Jawa dan suku Sunda.
Lalu Aldo bertanya lagi,” Faktor penyebabnya apa saja dong?
Mila balik menjawab pertanyaan temannya itu.
“Ada berbagai faktor, tapi yang utama dan paling berpengaruh adalah faktor kelahiran. Tapi teman-teman, kira-kira apa yaa.. upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kepadatan penduduk di indonesia saat ini?
Kina kembali menjawab,” Hal yang harus kita lakukan adalah, pertama, pengurangan pertumbuhan penduduk dengan menggalakkan kembali Program Keluarga Berencana yang kita kenal dengan slogannya ” Dua Anak Cukup”. Program pemerintah ini adalah cara yang paling tepat untuk menanggulangi laju pertumbuhan penduduk yang sudah tidak terkendali lagi. Kedua, melakukan program transmigrasi dengan memindahkan penduduk daerah yang padat ke daerah yang masih kurang penduduknya, dan kehidupannya lebih menjanjikan. Selain itu juga, program perbaikan gizi untuk menghindari stunting atau gizi buruk perlu lebih ditingkatkan lagi, salah satunya melalui posyandu, dan masih banyak lagi. Perbaikan gizi anak bangsa dimaksudkan untuk melahirkan generasi penerus pembangunan bangsa yang sehat lahir dan batin, cerdas, dan bermartabat.
KRIIING… bel pun berbunyi tandanya mereka harus kembali ke kelas untuk memulai pelajaran, dan selesailah pula perbincangan di hari yang cerah itu. Perbincangan penuh makna oleh anak-anak cerdas, harapan masa depan.
Watansoppeng, 25 Juli 2022
