Oleh: Regina Salzabila
kamu,
pernah menjadi bagian
dari perjalanan yang mengubah arah pandangku,
membuka cakrawala yang tak pernah kusentuh,
serta mengenalkanku pada perasaan
menjadi seseorang yang layak diperjuangkan.
tentangmu,
rupanya masih banyak yang menetap
di sudut ingatan yang tak pernah benar-benar lengang.
kenangan-kenangan baik,
juga untaian kata yang dahulu begitu meneduhkan,
masih tersusun dalam diam,
seakan waktu tak pernah mengubah apa-apa di antara kita.
barangkali,
itulah sebabnya membencimu
tak pernah semudah yang kukira.
sebab bagaimana mungkin aku mengingkari
segala baik yang pernah kau titipkan,
hanya karena akhirnya kau memilih
menjadi asing tanpa sepatah pamit?
aku telah melepaskanmu,
meski tak seluruhnya mampu merelakan.
sebab kepergianmu telah usai,
tetapi maknanya masih berulang
di ruang-ruang sunyi pikiranku.
aku tak lagi menanti kepulangan,
hanya sedang belajar menerima
bahwa tak semua yang pernah terasa rumah
ditakdirkan menjadi tempat menetap.
dan barangkali,
yang paling sukar dari kehilanganmu
bukanlah perihal tak lagi memilikimu,
melainkan mendamaikan diri
dengan kenyataan bahwa seseorang
yang pernah membuatku merasa begitu berarti,
ternyata mampu pergi
seolah keberadaanku
tak pernah berarti apa-apa.
