Oleh: Keysha Dwiayundah
Tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan. Tapi bagaimana jika ia sudah tahu tentang kesalahan itu dan tetap menjalani hidup dengannya?
Aku merasa agak aneh tentang konsep bagaimana seseorang menjalani hidup namun dengan sadar masih bergandeng kesalahan, tidakkah mereka menyadari bahwa itu dapat menjerumuskan mereka suatu hari tanpa ada yang tahu? Bahkan bukan mereka yang khawatir akan hal itu, tapi orang-orang terdekat mereka sendiri.
Aneh sekali bagaimana seseorang bisa berbicara besar diluar sana tentang kebaikan, kebajikan, dan kesabaran sedangkan mereka sendiri menjalani semua itu lewat lorong tikus. Entah apa saja yang telah diucapkan mereka kepada orang-orang sehingga mereka mengagumi apa yang mereka lihat dari depan tanpa tahu lubang hitam besar dibelakang si besar kata itu.
Aku tidak tahu keinginan macam apa yang sesekali timbul dari dalam lubuk hatiku setiap kali melihat orang-orang macam si besar kata itu. Ada keinginan besar berharap orang-orang akan mengetahui kartu mereka dan meretakkan topeng tebal yang selama ini mereka pasang. Keinginan bahwa image yang mereka bangun selama ini runtuh, menunjukkan betapa banyaknya daging yang membusuk di balik kulit yang bersih. Harapan yang sebenarnya bisa menjadi sebuah dosa bagiku sendiri tapi sangat sulit mencerna kebencian dalam diriku sendiri, bahkan dalam setiap kata yang keluar dari si mulut besar itu rasanya seperti bisikan iblis yang memercikkan api neraka.
Tapi apalah aku ini, itu semua hanya keinginan akibat emosi yang pada kenyataannya harus ku telan saja. Aku sangat berharap tidak ada orang yang merutuki ku karena merasa bahwa aku sama saja seperti si mulut besar itu. Tapi waktu terus berjalan, tak selamanya aku dan kita semua bisa hidup dalam kepahitan yang dalam konteks ini adalah mendendam. Biarlah ini semua menjadi perenungan ku, meskipun sulit aku yakin akan ada suatu hal yang menolong ku untuk menelan dan mencerna semua kebencian ku terhadap si mulut besar itu.
Si mulut besar itu tak menunjuk pada satu orang saja. Biarlah si mulut besar itu tetap menjadi rahasia bagiku sendiri, aku mendoakan hidupnya dan semoga tak ada orang lain yang ikut dipaksa menelan segala yang dipikirkannya tentang si mulut besar.
Watansoppeng, 20 Oktober 2026
