Bab 1 — Sesuatu yang Tidak Tertulis

Athena, Yunani, abad keempat sebelum Masehi.

Ada tiga hal yang selalu membuat manusia berbohong: kekuasaan, cinta, dan kematian.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan pada usia sembilan belas tahun, ketika aku masih percaya bahwa segala sesuatu di dunia dapat dijelaskan dengan alasan yang masuk akal. Bahwa matahari terbit karena hukum alam, manusia menderita karena pilihan-pilihannya, dan kematian hanyalah akhir dari sesuatu yang pernah dimulai.

Aku tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian, aku akan menghabiskan hidupku untuk mencari jawaban atas sesuatu yang bahkan tidak bisa kupastikan keberadaannya.

Semuanya bermula dari tujuh menit.

Atau, lebih tepatnya, dari sebuah pertanyaan tentang tujuh menit.


Sore itu, pasar Athena dipenuhi suara para pedagang yang menawarkan minyak zaitun, buah ara, kain wol, dan tembikar dari berbagai penjuru Laut Aegea. Seekor keledai meringkik di dekat kios anggur, sementara dua orang lelaki berdebat tentang harga gandum seolah-olah kehormatan keluarga mereka dipertaruhkan di sana.

Aku berjalan di antara kerumunan dengan sebuah gulungan papirus di tangan kiri dan kantong kulit berisi beberapa keping drachma di pinggang. Guruku baru saja menyuruhku mencari tulisan seorang filsuf tentang jiwa, tugas yang menurutku jauh lebih menarik daripada mendengarkan perdebatan para pedagang.

Bagiku, pengetahuan adalah satu-satunya harta yang tidak dapat dirampas oleh waktu.

“Kau berjalan seperti orang yang sedang dikejar para dewa.”

Aku mengenali suara itu sebelum menoleh.

Dion berdiri di depan kios penjual buah ara, mengenakan tunik cokelat yang bagian lengannya telah ditambal dengan kain berbeda warna. Rambut hitamnya berantakan, dan ada noda tanah di lutut kirinya.

Ia tersenyum seolah-olah dunia tidak pernah memberinya alasan untuk bersedih.

“Aku sedang mencari sesuatu,” jawabku.

“Kau selalu mencari sesuatu.”

“Karena selalu ada sesuatu yang belum kuketahui.”

Dion mengambil sebuah buah ara dari keranjang, mengamatinya sebentar, lalu memasukkannya kembali.

“Pernahkah kau mencoba menikmati sesuatu tanpa harus mengetahui alasannya?”

“Tidak semua hal harus dinikmati. Beberapa hal harus dipahami.”

“Kalau begitu, aku kasihan kepada makananmu.”

Aku mendengus. Dion tertawa.

Begitulah dirinya. Ia selalu berhasil membuat percakapan serius terdengar seperti lelucon, lalu meninggalkanku dengan pertanyaan yang tidak sanggup kujawab bahkan setelah ia pergi.

Kami sudah berteman sejak kecil, meskipun aku tidak pernah benar-benar memahami mengapa. Ia tidak menyukai pelajaran filsafat, tidak tertarik pada perdebatan tentang keadilan, dan menganggap orang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari kebenaran sebagai orang-orang yang lupa pulang sebelum hari gelap.

Sementara aku ingin menjadi seseorang yang namanya dikenang setelah kematian, Dion hanya ingin mempunyai rumah dengan halaman yang cukup luas untuk menanam pohon ara.

Aku sering menganggap cita-citanya terlalu kecil.

Sekarang, ketika mengingat percakapan itu, aku bertanya-tanya: sejak kapan manusia menjadi begitu sombong hingga mengira impiannya sendiri lebih berharga daripada impian orang lain?

“Kau sudah mendengar kabar tentang lelaki dari Korinthos itu?” tanya Dion.

“Lelaki yang mana?”

“Yang meninggal ketika tidur. Katanya, sebelum napas terakhirnya, ia menyebut nama istrinya berkali-kali.”

Aku mengangkat bahu. “Orang yang sekarat sering kehilangan kesadaran. Belum tentu perkataannya memiliki arti.”

“Mungkin.”

“Dan apa hubungannya denganku?”

Dion tidak langsung menjawab. Ia memandang orang-orang yang berlalu di hadapan kami, seolah-olah sedang mencari seseorang di antara wajah-wajah asing itu.

“Ibuku pernah mengatakan sesuatu sebelum meninggal,” katanya akhirnya. “Ia bilang manusia tidak benar-benar pergi sekaligus. Ada bagian dari dirinya yang masih tinggal pada orang-orang yang pernah dicintainya.”

Aku terdiam sejenak.

Ibu Dion meninggal dua tahun sebelumnya. Aku menghadiri pemakamannya, berdiri di samping Dion ketika tanah terakhir ditimbunkan di atas makam, lalu pulang untuk menyelesaikan tulisan yang harus kukumpulkan keesokan paginya.

Aku tidak pernah bertanya apa yang dirasakannya setelah itu.

“Mungkin ibumu hanya ingin menghiburmu,” jawabku.

“Mungkin.”

“Orang yang sudah mati tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.”

Dion menatapku. Untuk sesaat, senyumnya menghilang.

“Itulah masalahnya, Nikandros. Kau selalu menganggap sesuatu tidak penting hanya karena kau tidak bisa membuktikannya.”

Aku hendak membantah, tetapi ia lebih dahulu melangkah menuju jalan yang mengarah ke agora.

“Besok aku akan pergi ke pelabuhan,” katanya. “Ada kapal yang berangkat ke Salamis. Kau mau ikut?”

“Untuk apa?”

“Melihat laut.”

“Aku bisa melihat laut kapan saja.”

“Tentu. Kau juga bisa mati kapan saja, tetapi bukan berarti kau harus menunggu sampai tua untuk melakukannya.”

Aku tertawa kecil, mengira ia sedang bercanda.

“Aku punya pekerjaan.”

“Kau selalu punya pekerjaan.”

“Dan kau selalu membuang-buang waktu.”

Dion berjalan mundur beberapa langkah, menghadapku dengan kedua tangan terentang.

“Kalau begitu, semoga suatu hari nanti kau menemukan sesuatu yang sepadan dengan semua waktu yang kau buang untuk mencarinya.”

Kemudian ia berbalik dan menghilang di antara kerumunan.

Aku tidak memanggilnya kembali.

Aku tidak tahu bahwa itulah percakapan terakhir kami yang kuingat dengan begitu jelas.


Malamnya, aku duduk di ruang baca kecil milik guruku, di bawah cahaya lampu minyak yang bergetar setiap kali angin menyelinap melalui celah pintu. Di hadapanku terbentang sejumlah papirus tentang jiwa, kematian, dan kehidupan setelahnya.

Aku membaca sampai mataku terasa perih.

Plato pernah menulis tentang jiwa dan keabadian. Para filsuf memperdebatkan apakah jiwa dapat bertahan setelah tubuh berhenti berfungsi. Para penyair menceritakan Hades, tempat orang-orang mati pergi, sementara para pendeta melaksanakan ritual untuk menghormati mereka yang telah meninggalkan dunia.

Setiap orang memiliki penjelasannya sendiri.

Namun, tidak seorang pun dapat kembali membawa bukti yang bisa diperiksa oleh orang-orang yang masih hidup.

Aku mengambil selembar papirus kosong dan menuliskan pertanyaan yang sejak sore terus mengganggu pikiranku.

Apakah manusia masih mengingat kehidupannya setelah kematian?

Aku menatap kalimat itu cukup lama, kemudian menambahkan satu pertanyaan lagi.

Dan jika ia mengingatnya, kenangan apakah yang akan muncul lebih dahulu?

Aku membayangkan seorang lelaki tua yang mengingat kemenangan-kemenangannya, seorang jenderal yang melihat kembali peperangan yang pernah dimenangkannya, atau seorang raja yang menghitung segala sesuatu yang pernah dimilikinya.

Barangkali, pikirku, kematian akan menjadi semacam pengadilan terakhir, tempat manusia berhadapan dengan seluruh kehidupannya sendiri.

Lalu aku teringat Dion.

Aku teringat caranya tertawa, caranya berbicara tentang hal-hal kecil, dan bagaimana ia selalu menganggap bahwa duduk di tepi laut tanpa melakukan apa-apa merupakan cara yang cukup baik untuk menghabiskan satu hari.

Aku menggeleng, mengusir pikiran itu.

Dion hanyalah Dion. Seorang pemuda yang tidak memiliki ambisi besar, yang tidak membaca banyak buku, dan yang mungkin tidak akan pernah meninggalkan nama dalam catatan sejarah.

Aku kembali menunduk, meneruskan tulisanku.

Di luar, angin malam menyentuh dedaunan pohon zaitun. Jauh di suatu tempat, seekor anjing menggonggong, disusul suara langkah seseorang yang melintasi jalan berbatu.

Aku tidak tahu mengapa, tetapi malam itu aku merasa seolah-olah sedang melupakan sesuatu yang penting.

Sesuatu yang dekat.

Sesuatu yang selama ini ada di hadapanku, tetapi tidak pernah benar-benar kulihat.

Aku menyingkirkan perasaan itu dan meniup lampu minyak.

Aku masih punya banyak waktu, pikirku.

Manusia seusia kami selalu berpikir demikian.


Tiga hari kemudian, Dion meninggal.

Ia ditemukan di jalan menuju pelabuhan, setelah seekor kuda yang menarik gerobak kehilangan kendali di tengah keramaian. Seorang pedagang mengenalinya dan membawa kabar itu ke rumahnya. Tidak ada pertempuran, tidak ada penyakit panjang, tidak ada percakapan terakhir yang bisa diceritakan kembali oleh orang-orang yang menyaksikannya.

Hanya ada sebuah jalan, seekor kuda yang ketakutan, dan kehidupan yang berhenti pada hari yang tampaknya sama seperti hari-hari lainnya.

Aku berdiri di depan rumah Dion ketika orang-orang mulai berdatangan.

Seseorang memegang bahuku. Seseorang yang lain berbicara kepadaku, tetapi aku tidak memahami kata-katanya.

Di sudut ruangan, aku melihat sandal kulit Dion yang diletakkan bersebelahan dengan sebuah keranjang kecil berisi buah ara.

Aku tidak menangis saat itu.

Aku hanya teringat percakapan kami di pasar.

Semoga suatu hari nanti kau menemukan sesuatu yang sepadan dengan semua waktu yang kau buang untuk mencarinya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap ada sesuatu yang benar-benar menunggu manusia setelah kematian.

Bukan karena aku takut mati.

Melainkan karena ada seseorang yang belum sempat kukatakan kepadanya bahwa kehadirannya ternyata jauh lebih berharga daripada seluruh pengetahuan yang pernah kucari.

Dan jika benar manusia memperoleh tujuh menit untuk mengingat kembali kehidupannya sebelum semuanya berakhir, aku ingin tahu apakah Dion sempat mengingatku.

Apakah ia mengingat percakapan terakhir kami?

Apakah ia mengingat laut yang ingin ia kunjungi?

Atau apakah aku bahkan tidak pernah cukup penting untuk muncul dalam tujuh menit terakhirnya?

Malam itu, aku membuka kembali papirus kosong yang kutinggalkan tiga hari sebelumnya.

Di bawah dua pertanyaan yang pernah kutulis, aku menambahkan satu kalimat.

Aku akan menemukan jawabannya, sekalipun aku harus menghabiskan seluruh hidupku untuk mencarinya.

Aku belum tahu bahwa perjalanan itu akan membawaku jauh melampaui batas-batas dunia yang kukenal.

Aku juga belum tahu bahwa jawaban yang kucari tidak akan pernah sesederhana benar atau salah.

Aku hanya tahu satu hal.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi mencari pengetahuan demi menjadi seseorang yang dikenang setelah kematian.

Aku mencari jawaban karena seseorang telah meninggal, dan aku tidak sanggup menerima bahwa mungkin saja seluruh kehidupannya berakhir tanpa memberiku kesempatan untuk memahami betapa berharganya ia ketika masih ada.

Dan di situlah pencarianku dimulai.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *