Saat Tia membuka mata, ia sangat terkejut mendapati dirinya berada di tengah sebuah ruangan yang hanya menggunakan sebuah bola lampu sebagai penerang dan bola lampu itu berada tepat di atasnya.

Di tengah ruangan, Tia duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat ke belakang dan kakinya terikat di kaki kursi.

“Siapa yang mengikat gua… lepasin gua…” ucap Tia mencoba melepaskan tali yang mengikatnya.

“Pricelia… nama yang bagus… namun sayang… setelah hari namamu hanya terukir di nisan saja” ucap seseorang yang berjalan ke arahnya membawa sebuah nampan besi yang besar dan memakai baju operasi serta masker.

“Siapa kamu?.. Kenapa kamu ikat saya?.. ” ucap Tia.

“Karena ini hari terakhirmu maka aku akan menunjukkan siapa diriku” ucap Sosok itu membuka masker dan baju operasinya.

“K….kau.. kenapa kau menangkapku” ucap Tia.

“Karena aku gak suka liat kamu sama Reynal” ucap sosok itu.

“Jangan-jangan yang ngebunuh Amira sama Selin itu kamu” ucap Tia.

“Kalau ia kenapa?… aku gak suka liat mereka dekat sama Reynal” ucap sosok itu.

“Biadab… kau Dila!!” ucap Tia.

“Hahaha… ngapain marah… lo juga gak bisa apa-apa… lu cuma bisa nunggu kematian” ucap Dila berbalik untuk mengambil sebuah pisau di nampan atas meja.

Setelah selesai mengambil pisau, Dila berbalik ke arah Tia. Saat berbalik, Dila sangat terkejut karena Tia saat ini sedang berdiri di hadapannya. Belum sempat Dila bereaksi, Tia dengan cepat menancapkan pisau kesayangannya di mata Dila.

Dila menggeliat kesakitan di lantai seperti seekor cacing yang kepanasan.

“Sakit…? enggak lah.. masa sakit… baru gitu aja sakit nih tambah” ucap Tia menendang Dila sampai ke tembok.

“Itu untuk lu yang udah nyulik gua, dan ini untuk Selin” ucap Tia kembali menancapkan pisau ke paha Dila.

“Akkh… bagaimana lu bisa lepas” ucap Dila kesakitan.

“Ya talinya gua potonglah pake ini” ucap Tia menunjukkan sebuah pisau berukuran kecil yang terselip di antara lengan bajunya.

“Lu pikir bisa ngebunuh gua… lu salah target karena gua udah tau dari awal… dan yang tadi itu cuma bohongan… soalnya gua ngerekam” ucap Tia menunjukkan hpnya yang sedang merekam.

Tiba-tiba dari arah belakang, seorang pria membawa sebuah balok kayu dan menyerang Tia. Sebelum mengenai Tia, Reynal menahan balok kayu itu dan menendang orang yang ingin memukul Tia.

“R.. Reynal… kok kamu bisa disini” ucap Dila.

“Heh… dasar pemula.. lu pikir bisa nipu gua dengan drama lu itu… gak ngaruh” ucap Reynal menatap Dila tajam.

Lampu ruangan menyala. Sosok yang ingin memukul Tia tadi bangkit dan mencoba menyerang Reynal.

“Dasar pemula… gak bisa bela diri sok jadi pembunuh” ucap Reynal lalu membuat pria itu tersungkur ke tanah

“Sep… Asep” teriak Dila ketika melihat Reynal menancapkan pisau kesayangannya ke jantung pria itu.

“pfft… hahaha… namanya kok Asep sih” ucap Tia.

Dila merangkak ke arah tubuh Asep

“Tenang lu bakalan nyusul dia kok” ucap Tia melayangkan sebuah pisau panjang ke arah Dila.

Kresss.. Tia memotong kepala Dila. Darah segar mengalir dari tempat bekas kepala Dila.

Darah terciprat kemana-mana dan mengenai tubuh mereka berdua.

“Rey… urusan selanjutnya gimana” ucap Tia.

“Kita ambil mata dan jantungnya… tapi gak usah dibawa… gua gak minat… keluarin aja dari tubuhnya… lu udah rekam kan percakapan tadi” ucap Reynal.

“Udah… terus rekamannya buat apa?” ucap Tia.

“Keluarin memorinya… karena ini memori buatanku… mereka tidak bisa menemukan lokasi kita… bahkan untuk melacaknya itu tidak mungkin” ucap Tia.

Tia mengeluarkan memori handphonenya dan memberikannya pada Reynal. Reynal mengeluarkan kantong plastik kemudian memasukkan memori itu ke dalam kantong plastik itu.

Reynal melumuri tangannya yang terbungkus oleh sarung tangan dengan darah, kemudian berjalan ke arah tembok lalu menulis sebuah kalimat di tembok menggunakan darah tak lupa menggantung kantong plastik berisi memori itu di samping kalimat darah itu.

Setelah meninggalkan tempat itu, sekelompok mobil polisi mengepung area tersebut. Pasukan polisi itu turun dari mobil dan menerobos masuk ke dalam rumah.

Saat memasuki ruangan yang paling ujung, para anggota polisi terkejut melihat tubuh yang terpotong, mata dan jantungnya tergeletak di lantai.

Salah seorang polisi melihat kalimat yang dituliskan Reynal, kemudian mengambil kantong plastik itu.

Sebelum menetapkan sebagai tersangka, para polisi membawa potongan tubuh itu ke rumah sakit untuk diotopsi. Setelah hasil autopsi keluar dan mereka sudah melihat buktinya, pihak polisi pun menetapkan jasad mereka berdua sebagai tersangka.

*Karya Muh. Irwan Ali dari SMAs Haji Agus Salim Katoi

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *