Oleh: Nur Indah

Setelah kembali dari kantin, kini aku sudah berada di dalam kelas. Namun, tampaknya guru tidak masuk pada jam pelajaran kedua kali ini. Sebab, sudah hampir jam istirahat, tetapi guru tak kunjung hadir. Aku pun menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Savira.

“Vira, aku mau nanya,” tanyaku sembari duduk di hadapannya.

“Tanya apa?” Vira kini menatapku.

“Kemarin waktu aku tidur di kelas, ada kakak kelas yang datang dan duduk di kursi Tika?” tanyaku sambil menatapnya.

“Iya, ada. Kakak kelas cowok, orangnya tinggi, cuman aku nggak tahu namanya siapa,” jawab Vira.

“Terus, dia ngapain?” tanyaku semakin penasaran.

“Dia duduk di kursinya Tika, tepat di belakang kursimu. Diam, lihatin kamu tidur. Pas aku mau bangunin kamu, dia larang. Katanya, jangan dibangunkan,” jawabnya dengan tatapan jail yang mulai muncul.

“Hah? Kok kamu nggak bangunkan aku? Aku dilihatin tidur dong? Duh, malu!” ucapku sembari menelungkupkan wajahku.

“Lagian, dia cuman diam dan lihatin kamu. Setelah lonceng berbunyi, dia juga keluar gitu aja.”

Aku mendengar kata-kata Savira dengan saksama, tetapi aku juga kebingungan siapa kakak kelas itu.

“Kamu ingat wajahnya, kan? Nanti tunjukin ke aku kalau kamu lihat dia. Aku nggak mau ngapa-ngapain, aku cuman mau tahu orangnya,” jawabku cepat.

Savira pun mengiyakan perkataanku.

“Haloo! …”

Sapaan dari arah belakangku terdengar. Aku pun memutar badan dan menatap siapa yang menyapaku.

“Eh, iya, Kak. Hai,” jawabku setelah melihat siapa yang menyapa. Ternyata, itu kakak kelasku yang bernama Irwan. Beliau kakak kelas XI sekaligus ketua OSIS di sekolahku.

“Aku mau nanya sama kamu, boleh?” tanyanya kepadaku sembari melihat sekelilingnya.

“Iya, Kak, boleh. Mau nanya apa emangnya?” Aku mengangguk dan bertanya balik.

“Kamu katanya suka sama aku, ya? Teman-teman di sekolah pada ngasih tahu kalau ada anak kelas X yang suka sama aku. Namanya Indah, dan yang kutahu, Indah cuman satu di sekolah ini, hanya kamu,” ucapnya panjang lebar.

Seketika aku menggelengkan kepala secepat mungkin, bermaksud untuk menyangkal perkataannya.

“Enggak, Kak! Siapa yang nyebar berita hoaks itu? Aku nggak suka Kakak, kok. Serius, deh! Kalau nggak percaya, coba tanya Savira.”

Aku pun melempar ujaran kepada temanku itu, bermaksud agar dia mau membantuku.

“Aku pula, manalah kutahu,” jawabnya.

Tapi sayang, jawaban dia justru bikin aku kesal.

Kak Irwan yang berdiri di hadapanku masih tertawa kecil bersama temannya yang tidak kuketahui namanya.

“Sebenarnya, aku tidak percaya juga sama berita yang diucapkan anak-anak di sekolah. Aku cuman iseng buat mastiin aja,” jawabnya sambil bersandar di mejaku.

“Iya, Kak. Aku tidak suka sama Kak Irwan, kok. Aku nggak suka sama siapa-siapa di sekolah ini, Kak. Serius, deh.”

Aku menjawab dengan yakin, lalu dia berkata, “Tidak apa-apa suka sama orang, tapi jangan suka sama saya, ya? Saya tidak suka sama kamu juga, kok.”

Tunggu, tunggu! Maksud perkataan orang di hadapanku ini apa? Juga? Aku mana mungkin suka sama dia. Walaupun ucapannya terdengar pelan dan sopan, entah mengapa di telingaku terdengar kasar, seakan-akan aku nggak boleh disukai sama cowok. Namun, itu semua hanya isi hatiku.

Aku menjawab dengan singkat, “Iya, Kak. Aman, kok. Maaf karena berita hoaks itu Kakak sampai samperin aku ke kelas.”

Dia pun mengangguk dan meminta maaf juga. Setelah itu, dia berlalu pergi meninggalkan kelasku bersama temannya sembari tertawa. Entah apa yang dia tertawakan.

Aku berbalik menatap Savira dan kulihat Savira ternyata juga menatapku.

“Bukan dia yang datang kemarin, Ndah.”

Aku tahu, kok. Tapi entah mengapa, aku merasa sakit hati dengan kata-kata terakhir yang diucapkan kakak kelasku tadi.

“Indah, Indah! Saya mau cerita!”

Aku menoleh dan melihat Asisah berjalan mendekat. Di tangannya terdapat sebuah plastik bening yang berisi es teh.

“Cerita apa tuh?” Aku menjawab dengan cepat.

Lalu, Asisah duduk di atas mejaku. Dia menatapku sambil senyum-senyum tidak jelas.

“Kamu cerita dulu baru senyum. Ada apa sih?” ucapku tak sabaran.

Perkataanku berhasil membuatku meledeknya.

“Ada kakak kelas, gantenggg bangettt, Ndahhh! Tinggi dan putih, terus cuekk jugaaa. Sumpahhh, Indahhh, ganteng sekali! Mirip Henki yang di film anime yang kutonton tiap hari,” ucapnya menggebu-gebu. Tangannya juga tak tinggal diam. Dia memukul pahanya sendiri. Sepertinya temanku ini tidak bisa menahan salting-nya, dilihat dari tingkahnya itu.

“Terus, terus? Kamu lihat di mana emangnya?” tanyaku yang ikut penasaran.

“Aku tadi lewat parkiran. Ternyata, ada rombongan kakak kelas itu duduk di parkiran. Aku lihat salah satu di antara kelima kakak kelas yang duduk di parkiran motor tadi. Cuman satu yang menarik mata,” ucapnya sambil senyum-senyum.

Aku menatapnya, lantas tertawa kecil.

“Kamu ini, emang dia semenarik itu sampai bikin kamu salting begini? Cie, cieee, Asisahhh! Kiw, kiw!”

Aku pun meledeknya dan berjalan ke arah pintu kelas.

“Cica, biar kukasih tahu kakak kelas itu kalau kamu kagum sama dia,” kataku pelan, tetapi kupastikan Asisah mendengarnya dengan sangat jelas. Tak lupa, tatapan jailku juga menyertainya.

“Indah, jangan aneh-aneh! Itu cuman kagum karena ternyata ada spek manhwa di dunia ini.”

Nah, kan? Dia bawa-bawa kartun anime-nya lagi. Aku pun tetap meledeknya dan berjalan keluar kelas sambil tertawa. Dia mengikutiku, berusaha menarik tanganku.

“Apaan sih, Ca? Aku cuman bercanda. Aku mau ke perpustakaan ini.”

Aku tertawa menatap raut wajahnya yang entah mengapa sangat lucu di mataku.

“Awas kamu, Indah, kalau bohong!” Dia mengancamku, kah? Sepertinya iya, dilihat dari tangannya yang dibuat menjadi dua jari, diarahkan ke matanya, lalu ke arahku.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata, seru juga menjahili Asisah. Namun, aku juga tidak tahu wajah kakak kelas yang dikagumi Asisah itu.

Aku pun berjalan ke arah perpustakaan untuk meminjam buku paket Kimia. Setelah mendapatkan bukunya, aku kembali berjalan ke arah kelasku. Sebelum masuk ke kelas, aku mencuci tanganku di keran air yang berada tepat di depan kelasku. Aku berjongkok untuk mencuci tangan, bukan karena kotor, melainkan sekadar ingin membasahi tanganku saja.

Tepat setelah aku selesai dan melangkah untuk masuk ke dalam kelas, aku berpapasan dengan Kak Irwan. Ternyata, dari arah belakangku juga ada beberapa langkah kaki yang mendekat.

Sepertinya rombongan kakak kelas yang dibicarakan Asisah tadi, batinku.

Tanpa menyapa, bahkan menoleh untuk melihat, aku berjalan lurus untuk masuk ke dalam kelasku.

Tak terasa, pukul 01.30 pun tiba. Lonceng pulang berbunyi. Sebelum pulang, kami apel siang terlebih dahulu. Untungnya, siang ini tidak terlalu panas karena mendung. Namun, tetap saja bikin gerah jika berlama-lama di bawah cahaya matahari yang tidak terik ini.

Aku berdiri di barisan paling belakang sambil menenteng tumbler airku yang tersisa setengah. Aku menoleh ke sebelah kiri dan kebetulan di sampingku berdiri teman sekelasku bernama Asrul.

“Tali sepatumu lepas itu. Ikat dulu itu,” ujarku sembari menunjuk ke arah sepatunya.

“Oh iya, makasih,” jawabnya.

Aku melihat dia lekas mengikat tali sepatunya yang terlepas. Aku pun mengangguk dan menoleh ke depan lagi untuk menatap OSIS yang mulai mengabsen.

Di tengah keheninganku, aku samar-samar mendengar suara cekikikan. Tidak keras, tetapi cukup jelas di telingaku.

“Iya, katanya dia suka Irwan, padahal Irwan suka sama Nurfadillah.”

Aku menoleh ke arah kanan untuk menatap kakak kelasku yang perempuan. Ternyata, dia berbisik-bisik dengan temannya yang sangat tinggi itu, tetapi tatapannya mengarah kepadaku.

“Vira, coba balik kanan. Kakak kelas itu cerita aku, kah?” Aku maju beberapa langkah ke depan untuk berbisik kepada Savira.

Savira pun menoleh ke kanan untuk memastikan ucapanku.

“Kayaknya iya. Tidak usah pedulikan,” jawabnya.

Aku pun mengangguk, tetapi masih menoleh ke arah kanan dan menatap kakak kelasku. Namun, ternyata di sebelah kakak kelasku yang perempuan itu ada juga kakak kelas XII yang cowok, yang saat itu tak sengaja kutatap di kantin saat bersama Cantika.

Dia menatapku selama beberapa detik, tetapi cukup mengganggu pikiranku.

Tatapannya seperti visual karakter di WP saja, batinku.

Setelah itu, aku mendengar suara OSIS yang memimpin apel siang ini. Barisan telah dibubarkan, dan kami pun diizinkan pulang ke rumah masing-masing.

Aku berjalan pulang sendirian sebab Cantika tidak masuk sekolah.

“Huff, capek!”

Aku berhenti sejenak di pinggir jalan dan menatap jalanan yang sangat sepi. Hanya ada aku. Setelah itu, aku kembali melanjutkan langkahku, tidak terburu-buru, tetapi cukup jelas tujuanku, yaitu ingin segera sampai di rumah dan merebahkan badanku di atas kasur.

Setelah tiba di rumah, aku lekas bergegas membersihkan badan. Lalu, aku merebahkan badanku di tempat tidur sambil membuka HP-ku untuk menghubungi Cantika.

“Cantika, yuhuuuu! Sudah sembuh belum?”

“Belum, makin parah kurasa. Perasaanku juga tidak enak.”

“Sudah berobat kah?”

“Iya, sudah, tapi masih pusing.”

“Oke, deh. Istirahat yang cukup, GWS, ya.”

Setelah percakapan singkatku dengan Cantika di WhatsApp, aku pun memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak.

Tak terasa, malam telah tiba. Aku kini sedang duduk bersantai di teras rumah bersama kedua orang tuaku serta adikku. Kami berbincang-bincang hangat. Di sela-sela obrolan, sesekali kami tertawa karena lelucon yang kubicarakan.

Makan malam pun tiba.

“Panggil adikmu makan,” mamaku menyuruhku memanggil adikku.

“Dia tidak makan malam itu. Mungkin lusa lagi dia baru makan.”

Adikku memang tergolong manusia yang jarang makan malam. Adikku juga pemilih makanan, berbeda denganku yang semua jenis makanan pun kumakan. Itulah salah satu perbedaan kami bersaudara.

Pagi pun tiba. Kini aku berangkat sekolah sendiri lagi sebab Cantika belum bisa masuk sekolah.

Setibanya aku di sekolah, aku mendengar berita bahwa akan ada murid baru di kelasku. Aku tidak penasaran, tetapi setelah mengetahui siapa yang menjadi murid baru di kelasku, timbullah rasa penasaran di hatiku. Aku ingin tahu apa alasan mereka pindah.

“Ndah, katanya ada murid baru. Nanti kamu sudah tahu?” tanya Sapina.

Aku mengangguk.

“Iya, mereka kan teman SMP kita. Tapi, kok bisa mereka berdua pindah secara bersamaan?”

Namun, pertanyaanku tak mendapat jawaban, meski kini murid baru itu telah duduk di kelasku.

Tak lama kemudian, guru mata pelajaran Fisika masuk ke dalam kelasku untuk memulai sesi mengajarnya.

“Ada murid baru, ya?” tanya guruku.

“Iya, Bu, pindahan dari SMK 1,” ucap Faenal.

“Ayo, murid baru, perkenalkan nama dulu,” guruku mempersilakan murid baru itu untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

“Perkenalkan, nama saya Ida, pindahan dari SMK,” ujar Ida.

“Nama lengkapnya siapa?” tanya guruku.

“Hanya Ida, Bu,” ucap Ida.

“Perkenalkan, nama saya Lisnawati,” lanjut murid kedua memperkenalkan diri.

Setelah sesi perkenalan, kami pun melanjutkan pelajaran.

“Sri Ayu Cantika itu yang mana?” tanya guruku secara tiba-tiba.

Aku ingin menjawab, tetapi didahului oleh temanku.

“Cantika itu yang sinis tatapannya, Bu. Dia memang jarang ke sekolah,” ucap Faenal.

Aku menatapnya.

“Eh, dia cuman baru minggu ini saja tidak ke sekolah. Itu pun karena sakit, bukan jarang ke sekolah,” bantahku.

“Dia tidak datang, Bu, karena sakit. Tadi orang tuanya datang ke kantor untuk membuat laporan kepada kepala sekolah,” lanjutku.

Aku pun melihat guruku mengangguk dan menulis sesuatu di buku albumnya.

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *